Home > Blog > Tetap Ketat Agar Sehat

Tetap Ketat Agar Sehat

“Yang paling penting sih jangan sampai orang terdekat lu kena, apalagi gara-gara lu.”

Sudah sejak bulan Maret 2020 Corona Virus Disease (Covid) 19 menghantui nusantara. Satu persatu masyarakat Indonesia terpapar, bahkan satu persatu tenaga medis yang menjadi garda terdepan berguguran. Covid 19 tidak mengenal usia, dari dewasa, lansia, bahkan anak-anak bisa terpapar karena satu hal, penyebaran.

Berbagai langkah dilakukan, oleh Pemerintah, Tenaga Medis hingga relawan untuk mengurangi, bahkan memberhentikan penyebaran Covid 19. Dari mulai edukasi, pembagian maker, hingga peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tercatat, Pemprov DKI melalui Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2020 pada tanggal 10 April 2020 mengeluarkan peraturan PSBB dan memaksa masyarakat untuk tetap di rumah, tak terkecuali Pemerintah Kota Bogor yang juga mengeluarkan kebijakan PSBB sejak 15 April 2020 dan menciptakan mobilitas dan roda ekonomi di Kota Hujan lumpuh seketika.

Namun, penulis juga mencatat bahwa sejak mendekati Hari Raya 1441 Hijriyah, kerumunan masyarakat mulai menggeliat. Bosan hingga urusan perut menjadi berbagai alasan masyarakat mulai berani keluar dan beraktivitas dengan tetap menjalankan protokol kesehatan minimal menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, meskipun laporan serta angka pasien terkonfirmasi positif masih saja tinggi. Penulis juga mencatat, sejak Pemerintah Kota Bogor mengeluarkan pernyataan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) mobilitas mulai tinggi meski dibatasi.

Tetapi, tidak demikian dengan keluarga Rifky Gusti asal Kota Bogor yang tetap ketat dan tetap di rumah hingga hari ini. Kepada penulis, Rifky menjelaskan bahwa dirinya serta  keluarga masih tetap di rumah dan menerapkan protokol yang ketat karena takut dan memiliki pola kerja yang rentan terpapar.

“Pertama gue penakut, kedua pola kerja gue yang ga baik ya. Gue perokok, begadang dan kerja gue menulis. Berarti kan lebih rentan apalagi usia gue sudah di atas 40 tahun. Dan yang pasti kan gue ga mau nularin ya. Ya ke istri gue, ke keluarga atau orang terdekat,” kata Rifky.

Dalam wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan Rifky melalui saluran telepon, Rifky menjelaskan bahwa yang paling bahaya dari Covid 19 adalah penularannya. Ada yang berpendapat bahwa masih ada penyakit lain yang lebih rentan, Rifky sepakat, namun dari covid ini yang bahaya adalah penularannya. Pria yang merupakan salah satu pendiri Komunitas Stand Up Indo Bogor ini juga menambahkan bahwa dirinya mulai mengamati penyebaran Covid 19 saat masih ada di China dan ketika sudah dirasa masuk ke Indonesia, dirinya langsung memberhentikan aktivitas Komunitas yang telah mencetak komika bertalenta itu.

“Januari gue mulai konsen membaca kabar dan gue merasa februari sudah masuk ke Indonesia. Setelah ada pasien pertama dan informasi mengenai penyebaran dari acara yang di Sentul, gue langsung telepon anak Stand Up Indo Bogor untuk memberhentikan open mic. Karena yang paling menakutkan ini adalah penularannya. Mungkin kita kuat, bisa sehat dan survive. Cuma kalau kena ke orang yang ga kuat bagaimana. Itu kan tanggung jawab kita. Jadi gue di rumah aja,” jelas Rifky.

Terhitung, dari bulan Maret hingga hari ini Rifky menjelaskan bahwa ia baru 7 hari atau 7 kali ke luar rumah dan itu pun hanya ke kantor. Selain tetap di rumah, Rifky serta keluarga melakukan upaya lain dari mulai olahraga seperti lari dan angkat beban, minum vitamin, makan yang teratur dan minum air putih yang banyak.

“Pola hidup jadi lebih intens berolahraga. Sebelumnya hanya bermain basket seminggu sekali dan mengganti kegiatan olahraga di rumah saja. Kalau upaya mencegah, kalau gue terpaksa ke luar rumah untuk belanja atau terima paket. Dari paket sampai orangnya harus disemprot. Dekat rumah gue kan ada Indomaret ni. Gue ke Indomaret, balik ya langsung balik, disemprot, ganti baju dan mandi mau jam berapa pun itu. Kalau beli makanan di luar, kalau bisa yang panas, atau dipanaskan dahulu.

Baca dan Konfirmasi

Perilaku pria yang hobi membaca dan bermain basket dalam menghadapi Covid 19 ini bukan tanpa sebab. Kepada penulis, Rifky menjelaskan bahwa dirinya gemar sekali membaca informasi dan berita mengenai covid. Selain itu, Rifky serta keluarga juga melakukan konfirmasi kepada orang terdekat yang dinilai oleh keluarga memiliki kompetensi yang sesuai.

“Jujur sebenarnya gue baca covid itu awal-awal yang kenceng. Ya di sosmed dan website. Gue si ngikutin situsnya who ya. Terus gue juga punya beberapa teman dokter yang juga terlibat di Satgas Covid di Jogja yang sering gue tanya dan memberikan rekomendasi bacaan karena berdasarkan jurnal-jurnal,” tambah Rifky.

Hal tersebut dilakukan karena bagi Rifky penyakit Covid serta penanganannya adalah hal yang baru dan perlu terus dipelajari dengan merujuk sumber yang memiliki validasi seperti jurnal dan hasil penelitian.

“Yang gue tahu, covid ini penyakit baru yang ilmunya juga baru dan kita ini belum punya apa apa untuk mencegah. Pertumbuhan serta pengetahuannya juga bertahap, sesuai kasusnya. Ilmu itu salah satunya dari Jurnal yang isinya ilmiah, namun hasil penelitian tersebut masih sulit bagi orang awam sehingga ada beberapa Dokter yang menerjemahkan dan menyampaikan isi jurnal tersebut dengan kalimat yang mudah diserap oleh masyarakat, jadi gue baca itu,” katanya kepada penulis.

Kemudian, Rifky juga menjelaskan bahwa dirinya serta keluarga mengonsumsi berita dari media nasional yang valid. Dan selalu melakukan cek dan ricek ke tiga sahabatnya yang saat ini menjadi dokter.

"Ini benar ga? Ini bagaimana? Gue harus bagaimana dan boleh gue sebar ga? Karena saat ini banyak informasi yang hoax ya. Di luar informasi tentang konspirasi dan lainnya, tapi informasi dari WHO dan jurnal-jurnal itu disampaikan oleh orang-orang yang kompetensi di bidangnya lalu gue tanya lagi ke teman gue yang jadi dokter. Bagi gue si terserah si mau dibilang konspirasi atau apa, tapi penyakit ini real, yang meninggal juga real," tegas Rifky.

Mengenai kondisi saat ini justru dirinya semakin cemas karena sudah mulai dua bulan terakhir ini orang yang dia kenal mulai terpapar.

"Dua bulan terakhir ini gue malah merasa agak cemas karena orang yang terpapar semakin dekat. Bukan sekadar number, sudah mulai serem dan ga asyik," jelasnya.

Kunci Penguatan Ekonomi adalah Peduli

Berbicara tetap di rumah demi pencegahan penyebaran selalu berbanding terbalik dengan alasan ekonomi. Di tengah menurunnya produktivitas dan banyaknya masyarakat yang dirumahkan, ke luar rumah untuk mengais rezeki menjadi salah satu alasan bagi sebagian orang. Dengan tetap di rumah sejak bulan maret, Rifky masih bersyukur bahwa rezeki masih ada.

“Alhamdulillah sih rezeki masih ada. Allah maha baik. Berhemat dan kalau gue sih berpikir kalau kita berbuat baik untuk orang, kita akan mendapatkan bantuan dari orang. Yang paling utama si gotong royong. Gue bersyukur punya banyak teman yang baik dan pintar sehingga mau saling bantu untuk berbagi. Yang paling utama si peduli,” kata Rifky.

Alasan utama Rifky beserta keluarga untuk tetap di rumah adalah agar tetap sehat dan tidak menjadi penyebab bagi orang lain.

“Yang paling penting sih jangan sampai orang terdekat lu kena, apalagi gara-gara lu. Gue ga mau orang kena gara-gara gue. Apalagi kita yang kena. Gue agak sedih ya karena di tengah situasi yang kaya gini, masih ada aja yang keluar ga pakai masker. Dan yang paling kesalnya adalah ada yang bilang ini konspirasi atau apalah. Dari kita ini banyak yang ga sadar dan bercanda. Penyakit ini kan masalahnya di penyebaran ya. Ketika penyebarannya begitu cepat. Tiba-tiba kemampuan medikal kita itu ga bisa menampung, terbatas. Belum lagi kalau alat-alatnya belum cukup. Negara maju aja kelabakan apalagi kitalah. Masalah ekonomi ya semua juga merasakan yaa. Kuncinya ya tolong menolong. Saling bantu, ya kalau ada projek saling bantu. Ya simpel-simpel kalau kita pesan makanan siap saji ya kita tambahkan satu untuk yang mengantarkan,” tambahnya.

Ketika ditanya mengenai kapan dirinya serta keluarga akan berani keluar rumah dan beraktivitas seperti biasa, Rifky menjawab ketika ketika covidnya selesai dan ada otoritas yang menyatakan bahwa covidnya sudah selesai. Otoritas yang baginya memiliki nilai dan bisa dipercaya.

"Gue nunggu ya misalnya WHO atau apa yang menyatakan covid beres. Kalau belum, ya gue mending aman aman aja deh. Ngeri soalnya. Gue takut sama penyebarannya, dan jangan sampai kita jadi penyebabnya," tutup Rifky.