Home > Blog > Solidaritas Pangan Jogja: Keresahan dan Solidaritas

Solidaritas Pangan Jogja: Keresahan dan Solidaritas

Persebaran Dapur Solidaritas Pangan Jogja

Gerakan solidaritas pangan Yogyakarta merupakan gerakan yang lahir atas keresahan bersama. Inisiasi ini berawal dari segelintir aktor (yang sebelumnya juga aktivis) yang resah dengan kondisi selama pandemi. Michelle -- dalam zine yang memuat kisah perjalanan solidaritas pangan Jogja -- mengisahkan awal mula inisiatif solidaritas pangan Jogja muncul. Bermula dari kegiatan galang donasi social movement institute (SMI)untuk pengadaan handsanitizer dan sabun cuci tangan untuk pekerja informal. Kemudian, setelah melihat kondisi lapangan yang menunjukan kondisi getir para pekerja informal yang terjepit persoalan pangan akibat pemasukannya berkurang. Dari situ muncul ide pembuatan dapur darurat untuk menanggulangi situasi krisis pangan tersebut.

Selanjutnya, ide ini digodok baik konsep, maupun mekanisme saat penerapannya nanti. Ide ini pun disebarkan ke kolega ataupun jaringan dengan tujuan menambah ide, dan juga amunisi saat implementasi. Pada 26 Maret 2020  rencana dapur darurat disebarkan secara umum melalui media sosial. Bertujuan sebagai ajakan solidaritas bersama, dan menambah pasokan sumber daya (baik tenaga, ataupun suplai dapur). Ajakan melalui media sosial mulai mendapat perhatian. Salah satunya dari Bagas, pengelola homestay di kawasan Prawirotaman. Ia berlapang tangan, menjadikan lokasinya sebagai lokasi dapur umum dan relawan. Dari sini cikal bakal dapur Prawirotaman muncul.

Kemudian, untuk memudahkan komunikasi dibentuk whats app group. Di dalamnya tergabung Bu Ita dan anaknya, Dina. Mereka, ibu dan anak sudah memulai gerakan membagikan nasi kepada para pekerja informal di Jogja. Dalam kegiatannya, mereka membuka donasi yang kemudian dananya akan dipakai untuk membeli nasi bungkus ke tetangga yang membuka usaha kuliner. Hal ini mereka lakukan disamping membantu orang lain dengan membagi makanan juga untuk menghidupi usaha kuliner tetangga. Proses pendisrtibusiannya dibantu oleh kawan-kawan SMI dan relawan, prosesnya pun tersebar ke beberapa lokasi seperti di Jalan Ahmad Dahlan, Panembahan Senopati, Pasar Beringharjo dan Alun-alun.

Pada saat pertama kali kegiatan di publish, sudah terdapat tiga dapur umum yang berjejaring; dapur Gamping, Seyegen, dan Prawirotaman. Juga, sudah tergalang donasi berupa uang dan sembako. Donasi yang terkumpul nantinya akan didistribusikan ke masing-masing dapur. Lambat laun, lokasi dapur umum makin bertambah. Ada dapur umum Kampung pemulung di Wonocatur, dapur lansia di Piyungan, dapur PRT di Balirejo, posko Ngadiwinatan, dapur Kotagede, dapur Utara Nitikusala, dapur Bongsuwung, dan dapur Sembungan. Sampai saat ini, telah terdapat 11 dapur umum yang telah terbentuk. Dapur umum ini pun saling berjejaring, sehingga membentuk suatu solidaritas pangan Jogja #rakyatbanturakyat.