Home > Blog > Solidaritas Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) di Tengah Pandemi

Solidaritas Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) di Tengah Pandemi

Jaringan rakyat miskin kota (JRMK) merupakan organisasi rakyat, yang anggota dan pengurusnya terdiri dari warga kampung, pengayuh becak dan pedagang informal. Dibentuknya JRMK sendiri bertujuan untuk memberdayakan kaum yang termarjinalkan dalam pembangunan kota. Dalam melakukan pemberdayaan terdapat 3 metode yang dipakai; pengorganisasian, advokasi, dan jaringan.

                Dalam melakukan pengorganisasian, media yang digunakan oleh JRMK adalah koperasi yang dibangun ditiap kampung. Dibangunnya koperasi bertujuan untuk mewadahi warga kampung, pengayuh becak atau pedagang informal dimasing-masing tempat, juga selain itu untuk meningkatkan taraf ekonomi mereka.  Saat ini, koperasi JRMK yang sudah berbadan hukum berjalan di 11 kampung.

                Untuk advokasi, JRMK bersama anggotnya berusaha memperjuangkan hak asasi mereka hidup di kota. Salah satunya melalui penataan kampung secara kolaboratif dimana warga kampung juga terlibat aktif dalam membentuk konsep penataannya. Penataan kampung sendiri dilakukan guna merubah stigma negative kawasan kampung sebagai wilayah illegal atau kumuh. Selain itu pula, penataan ini dilakukan agar pemerintah merubaha model pembangunan yang selama ini diterapakan kepada kawasan kampung, yakni penggusuran dan relokasi.

                Melalui jaringan, JRMK berusaha menghubungkan warga kampung dan sektor informal lainnya kepada orang-orang atau lembaga-lembaga terkait. Hal ini tak hanya menambah sumber daya dan kekuatan warga kampung. Namun juga meningkatkan posisi tawar warga dalam politik perkotaan.

                Kala pandemik, anggota JRMK yang notabennya kelas menengah ke bawah tentunya merasakan dampak pandemik secara sosial ekonomi.  Selain itu, pola pendampingan pun turut berubah. Pendampingan yang mengharuskan pertemuan tatap muka secara langsung, kini, karena menjaga jarak menjadi salah satu protokol kesehatan pencegahan, menyebabkan intensitas pertemuan menjadi berkurang.

“Pandemi memberi tantangan dalam proses pendampingan dan advokasi kita yah, jika sebelum pandemi pertemuan lebih intens dilakukan, semasa pandemi karena protokol mengharuskan menjaga jarak, dsb., maka intensitas pertemuan makin berkurang. Selain itu program peningkatan kualitas kampung menjadi terhambat karena pemerintah berfokus pada penanganan COVID-19”

Selain itu, mayoritas anggota yang mengandalkan pendapatan harian dan pekerjaan dengan aktivitas di luar ruangan menyebabkan anggota JRMK menjadi rentan terkena COVID-19. Tindakan stay at home pun menjadi dilematis, karena mereka dituntut antara dua pilihan; Keluar rumah mencari uang, namun beresiko tertular; Diam di rumah, maka tidak ada pendapatan.

                Walau demikian, sebagai organisasi rakyat, untuk mengatasi hal ini JRMK membuat program bantuan untuk anggotanya. Di tahun 2020, secara kolektif JRMK membuat dan menggalang dana untuk pengadaan handsanitezer secara mandiri. Kemudian, guna mengadakan masker untuk para anggotanya, JRMK berjejaring dengan beberapa pihak. Lalu, JRMK juga membuka donasi melalui kitabisa.com untuk program bantuan tunai kepada warga yang membutuhkan.

                Situasi tidak meratanya bantuan kepada warga, memberikan ide bagi JRMK untuk bekerja sama dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Warga yang sebelumnya tidak memiliki akses pada bantuan pun akhirnya mendapat bantuan. Selain itu, JRMK secara swadaya bekerjsama dengan petani Kendeng menyediakan program beras murah untuk anggotanya.

                 Dalam strategi pengadaan beras murah kendeng, JRMK memberikan subsidi kepada anggotanya dari yang harga seharusnya Rp. 10.000/kg menjadi Rp. 5.000/kg. Dana subsidi ini didapat melalui platform kitabisa.com. Dalam proses pendistribusian, JRMK mengandalkan koperasi-koperasi JRMK di kampung-kampung sebagai distributor. Dengan membeli dari koperasi, warga kampung anggota JRMK bukan hanya diuntungkan dengan harga murah, tapi mereka juga akan mendapatkan SHU koperasi dan memberdayakan diri mereka sendiri

                Walau JRMK secara swadaya berusaha memenuhi kebutuhan anggotanya, namun dalam prosesnya, beberapa program bantuan tidak mampu berjalan dan bertahan lama. Kendalanya adalah anggota JRMK yang notaben kalangan menengah ke bawah dihadapkan pada kondisi dan sumber daya terbatas. Bantuan atau donasi yang diselenggarakan hanya mampu memenuhi kebutuhan sementara, sedangkan pandemick masih  terus berlangsung dan masih tidak menemui titik terang sampai kapan.

"...ya walaupun kita sudah melakukan upaya itu yah...termasuk juga ngebantu temen-temen yang terinfeksi, mereka harus isolasi, tetapi kan mereka isolasi tetep butuh makan, dan segala macem. kita bantu supaya ada dapur umum, tetangganya yang masakin, kita yang support dananya untuk makan segala macem. Tapi tetep ga bisa mengcover semua, karena memang sumber daya terbatas, situasinya sama-sama punya situasi yang sama-sama sulit..." (Eny Rochayati)

Selain itu, Eny selaku ketua koordinator JRMK mengatakan bahwa program bantuan sosial berupa pangan yang diberikan oleh pemerintah belum mencukupi. Warga miskin kota dihadapkan bukan hanya pada pemenuhan kebutuhan pangan, tapi juga kebutuhan esensial lainnya seperti sewa kontrakan, bayar air dan listrik bulanan, ditambah biaya kuota internet yang bertambah karena anak sekolah belajar secara daring. Ia pun berharap, bahwa pemerintah harus memikirkan kembali skema perlindungan sosial yang layak dan pantas diberikan kepada warga miskin secara jangka panjang.

"Jadi pemerintah itu harus membuka mata, ini warga miskin kota butuh perhatian khusus, kami tidak hanya meminta, kami tidak berharap dikasih saja. Tapi bagaimana pemerintah memberikan kail kepada kami, memberikan alat kepada kami supaya ekonomi kami ini berdaya gitu. tidak melulu kami diberikan sembako, saya merasa sembako itu belum mencukupi. Karena kita miskin, karena posisi warga miskin bahkan sampe sembako itu dijual. karena tidak bisa dipungkiri karena kebutuhannya bukan hanya sembako. anak sekolah butuh kuota, listrik mesti dibayar, kontrakan, air butuh dibeli. itu kan kebutuhan kebutuhan lain tidak hanya makan. ada kebutuhan lain yang mesti pemerintah tau, nah bagaimana mensiasati itu PR nya pemerinta! kami gatau gimana caranya, kami hanya tau bagaiman masyarakt miskin kota terlayani secara hak, hak kami adalah tetap hidup bersama kota yang sedang berkembang ini. Silahkan pembangunan tetap berjalan tapi kemiskinan kota ini harus segera dientaskan" (Eny Rochayati)