Pilihan yang Tak Diinginkan

Pandemi covid-19 memaksa berbagai pihak untuk mengatur kembali ritme kehidupannya. Memakai masker, menjaga kebersihan diri menjadi kesadaran bersama masyarakat.
Begitu pula menjaga jarak, hingga banyak buruh yang memilih untuk bekerja dari rumah karena memang pekerjaannya dapat dilakukan di berbagai tempat, misal guru/dosen yang mengajar dari rumah karena terfasilitasi jaringan internet. Di sisi lain tak sedikit pula buruh yang harus beranjak dari rumahnya menuju ke tempat kerja setiap hari karena pekerjaannya yang tidak memungkinkan untuk dijalankan dari rumah. Sebagai contoh adalah buruh kasar seperti sopir angkutan umum, pembantu rumah tangga, kuli bangunan, sopir becak, dan berbagai pekerjaan sejenis lainnya.
Kelompok masyarakat ini tentu sadar tentang bahaya yang ditimbulkan covid-19, tertular virus – mengalami gejala covid-19 – dan yang paling parah adalah tidak dapat melanjutkan kehidupannya, namun mereka tidak dapat memilih untuk berdiam diri di rumah-mengisolasi diri- dan menunggu pandemi selesai. Terdapat perut yang harus terus diisi, anak yang harus terus belajar, dan atau hutang/cicilan yang mesti dibayar.
Fenomena yang dialami pekerja kelas bawah ini saya temukan di dalam angkutan umum Bantul – Yogyakarta. Setiap harinya mereka berdesakan pada jam berangkat kerja (06.00) dan pulang kerja (04.30) dari rumahnya di wilayah pedesaan Bantul menuju ke tempat kerja di perkotaan Yogyakarta dan sebaliknya. Mayoritas dari mereka sadar akan pentingnya menjaga diri dari resiko penyebaran covid-19 dibuktikan dengan penggunaan masker, namun seperti yang telah saya jelaskan di atas, mereka tidak memiliki banyak pilihan.
LIHAT POTRET LAINNYA