Para Pedagang di Kota Tua

Tubagus Rachmat27 Nov 2020
Kawasan wisata Kota Tua biasanya kalau “weekend” menjadi tempat favorit untuk wisata murah.Banyak tersedia aneka kuliner, makanan dan minuman, pakaian dan souvenir, jasa melukis wajah, meramal, tattoo, pijat/bekam, dan para pengamen yang hilir mudik, dating berganti. Kota Tua layaknya menjadi Malioboronya Jakarta.
Dari mulai pagi hingga ketemu pagi, sebelum covid menjadi musim panen mingguan para pedagang dan para yang menawarkan jasa keahliannya. Kemudian muncul larangan sementara (PSBB) terlihat satu dua orang pedagang mencoba peruntungannya, kadang harus kucing-kucingan dengan Satpol PP. Sepi pengunjung, sepi pembeli, pedagang hanya merenda sepi. Pernah juga terlihat, ketika malam minggu, para pedagang yang nekat masih berjualan padahal masih ada larang jualan di kawasan wisata, dimanfaatkan preman sebagai perpanjang tangan petugas yang jaga, terlihat si preman mengambil rokok dua bungkus memberikan kepada si penjaga. Sebelumnya si penjaga saling ambil foto, sepertinya sebagai bukti laporan ke atasan. Kini kondisi “new normal” pedagang tidak diizinkan lagi masuk di tengah kawasan komplek museum Fatahilah, mereka mengisi di wilayah pinggir yang masih dalam komplek Museum.
Ada dua orang pedagang kopi dan minuman ringan yang mau diajak ngobrol di dua kesempatan yang berbeda. Ia perempuan (32 tahun) sering dipanggil Emak, salah satu jari-jari tangan kanannya cacat, ia sering menyembunyikan jari tangannya, tampaknya malu. Dia sebelum covid bekerja sebagai cleaning service di mall, kemudian mall sementara tutup. Baru berapa bulan dia mencoba alih profesi sebagai pedagang kopi. Orangnya cukup supel, menegur teman, menawarkan ke pengunjung, ‘mampir kakak, kopi kakak, teh es juga ada kakak….”, sering ia tawarkan kepada orang yang melintas. Penghasilannya kalau malam Minggu berkisar antara 200 ribu hingga 300 ribu kotor.Kemampuan dia cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar, membuat dia relative banyak teman, biasanya kalau pedagang baru kena usir antar pedagang, karena dianggap pesaing. Dia kadang tidur di emperan Kota Tua, kalau malam Minggu karena Minggu pagi hingga malam jualan lagi, bisa Minggu malam dia pulang ke kontrakan atau hari Senin nya.
Beda lagi dengan kisah pak Abdul (70 tahun), bertemu dia di Minggu pagi, dia termasuk pedagang lama, yang di usia tuanya masih harus berjualan. Ketika ditanya penghasilannya tadi malam, “susah sekarang mas, cari duit lima puluh ribu ajah susah, ini aja belum sarapan”, ujarnya mengeluh. Dulu sebelum Covid pak Abdul pendapat bisa mencapai 200 ribu hingga 300 ribu dan tinggal di kontrakan, sekarang dia tinggal di emperan Kota Tua bersama kawan-kawan lainnya.
LIHAT POTRET LAINNYA