Malam Semester Kedua

Adhi Wijaya27 Nov 2020
Tinggal tidak jauh dari Wisma Atlet Kemayoran, saya menjadi saksi betapa mengerikannya dampak pandemi. Sejak kasus covid mulai terungkap di Jakarta, Wisma Atlet kembali diaktifkan pemerintah sebagai rumah sakit darurat covid. Raungan sirine ambulan kemudian menjadi santapan saya siang dan malam.
Memasuki semester kedua kondisi pandemi di Jakarta justru semakin mengkhawatirkan. Jumlah pasien yang terpapar bertambah berlipat ganda di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan. Rekor baru beberapa kali tercipta, mulai dari jumlah kenaikan kasus per hari, jumlah kematian akibat covid, dan jumlah kasus yang aktif. Pembatasan sosial berskala besar kemudian kembali diberlakukan Pemerintah Daerah, namun respon masyarakat kini berbeda dibandingkan pada masa awal pandemi. Kondisi ekonomi yang sulit membuat masyarakat tetap keluar bekerja agar bisa bertahan.
Penyebaran virus covid yang masif di perkantoran kemudian menyebar masuk ke rumah-rumah. Beberapa anggota keluarga tetangga satu per satu terpapar virus seperti keluarga Mas Didik, yang biasa saya memanggilnya. Didik terpapar virus covid dari anak pertamanya yang bekerja di perkantoran Pantai Indah kapuk. Bersama istri dan kelima anaknya Didik divonis positif covid dan harus menjalani isolasi di Wisma Atlet lantaran tidak lagi diperbolehkan isolasi mandiri.
“Disini sebenarnya enak mas karena makan dan minum dikasih, setiap pagi dan sore juga bisa berolahraga. Tapi berdiam diri di kamar seharian selama 10 hari tanpa hiburan adalah hal terberat, terutama buat anak-anak yang biasa nonton tv, bermain dan jajan” adalah jawaban Didik saat bercerita tentang kondisi isolasi ketika kami berkomunikasi lewat panggilan video. Gemerlap lampu Wisma Atlet saat malam hari selama pandemi sesungguhnya bukanlah kabar baik, kamar yang menyala merupakan cerminan jumlah pasien yang terpapar dan sedang berjuang melawan.
LIHAT POTRET LAINNYA