Kisah Pengontrak di Kampung Marlina, Muara Baru

Tubagus Rachmat27 Nov 2020
Ibu Sriwiyati (58 tahun) memiliki 4 orang anak, dua sudah berkeluarga dan satu masih sekolah SMK. Suaminya bekerja sebagai penjaga malam di gudang.
Setiap bulan suaminya memberi uang 800 ribu, 500 untuk bayar kontrakan, 300 ribu untuk biaya makan. Kadang uang kontrak tertunda dan yang punya rumah memaklumi. Biasanya bu Sri terlambat membayar kontrakan atau nunggak, dia akan segera menemui yang punya rumah, dan yang punya rumah memakluminya.
Lain lagi nasib si Cecep, Cerita Yuli , dulu dia bekerja sebagai buruh membuat sendok, kemudian selama masa pendemi ini terjadi pengurangan buruh dan berikutnya pabrik tutup tidak berproduksi lagi. Cecep tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan tidak mampu membayar kontrakan, yang punya rumah mengusir si Cecep.
Keluarga si cecep balik ke kampung. Si Cecep kemudian dapat tumpangan tempat tinggal dengan pamannya Yuli, salah satu tetangganya. Si Cecep bantu mencari sumbangan untuk perbaikan masjid dan dapat upah seharinya 30 ribu. Tidak sampai sebulan Cecap pamit balik kampung menyusul keluarganya di Serang.
LIHAT POTRET LAINNYA