Keluarga, Pelipur dan Kebahagiaan

Mad Yan26 Nov 2020
Kini, tinggal dirumah dengan ruang sempit seadanya menjadi keharusan. Seakan rumah telah menjelma menjadi benteng terakhir di tengah kelabilan ini. Hiruk pikuk dan keramaian jalanan dan kota pun lepas dari hingar bingarnya. Semuanya dikembalikan ke tempat kecilnya, tempat semua orang kembali, yakni keluarga.
Kumpulan foto ini adalah potret keseharian keluarga ku selama pandemi. Dalam ruang kecil ini, kami mecoba mencari, meramu dan menciptakan hiburan sebagai pelipur di tengah pandemi. Umiku, sapaan ku terhadap sosok yang melahirkanku, ditengah keriwehannya dengan urusan dapur, mencoba mencari hiburan dan peluang pemasukan dengan berkebun, mengkoleksi dan menjajakan aneka tanaman di rumah. Tiap harinya ia menawarkan produknya lewat gawai yang dikenakan.
Sedangkan adikku, yang berusia sebelas tahun, selalu berasik riya dengan sepedanya. Sesekali, membonceng adik paling kecil, yang berumur menjelang tiga tahun itu di belakangnya. Kadang, juga turut mengganggu Umiku yang sedang bercocok tanam di garasi belakang. Dasar, namanya anak kecil. Kesederhanaan selalu lekat dengan mereka. Seakan alam atau lingkungan, dimana dan di kondisi apapun telah tersedia untuk mereka sebagai benda bernilai dan, penuh gelak tawa.
Aku pun teringat dengan kata-kata Gie, seorang aktivis yang mati muda di Puncak Mahameru, “Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita.”
LIHAT POTRET LAINNYA