Café Pinggir Rel Jembatan Gantung

Tubagus Rachmat27 Nov 2020
Café pinggir rel kalau malam hari terdengar suara musik berdentum saling bersahut-sahutan dan lampu kerlap kerlip di antara remang malam di pinggir rel kereta.
Sementara di bawah café pinggir rel ada terowongan jalan yang muat untuk satu kendaraan mobil. Di sini ada beberapa PSK duduk santai, kalau ada yang melintas menawarkan jasanya untuk ngamar. Saya coba survey lokasi ini di Minggu pagi, seperti apa bentuk bangunannya, memungkinkah bisa ambil foto di malam hari. Seperti terlihat foto, berjalan dan ketemu seorang perempuan yang sedang duduk, menawarkan jasa untuk pijat dengan harga 50 ribu.
Baru sebentar ngobrol sudah ada KRL yang melintas, kemudian ada seorang laki-laki muda berjalan di atas rel, menenggok kearah kami yang sedang ngobrol, “ngapain bang” tanya laki-laki itu. “emang situ mau ngapain” jawab saya. Laki-laki itu mendekat, “bang mau cewek nggak, murah, Cuma tiga puluh ribu sekali main”, ujarnya. Dari samping muncul tuh cewek, kelihatan belum mandi dan dandan menor, dengan Bahasa agak kacau, dengan manggil laki-laki itu dengan sebutan alat vital, “Tol gue mau pipis”. Si cewek pipis di tengah antara dua rel kereta di balik pondok, dapat dua bidikan dengan kamera kecil, “ye difoto”, rada sewot tuh cewek.
Cerita si cewek, dia janda memilik dua anak, satu masih balita, dia dulunya berprofesi sebagai pedagang kopi keliling. Dagangnya habis karena dicuri orang. Tadi malam, malam Minggu, tidak ada orang memakai jasanya, dan dia tidak memiliki uang untuk ongkos pulang. Si cowok berprofesi menyewakan kamar dekat pinggir rel, ditanya pendapatnya tidak menyebut angka.
LIHAT POTRET LAINNYA