Bagaimana Orang Mengatasi Situasi ‘New Normal’?

Minggu pagi, 2 Agustus 2020 seharusnya menjadi event public mingguan bagi sebagian besar penduduk Kota Bekasi dan sekitarnya.
Kendati Pemerintah Kota Bekasi meniadakan pagelaran Car Free Day (CFD) pada hari itu akibat meningkatnya kasus COVID-19 di Kota Bekasi, penduduk Bekasi nampak tidak perduli dan berhasil menciptakan CFD versi mereka sendiri. Bahkan, kendaraan yang lalu lalang pun musti tunduk kepada sekumpulan masyarakat yang tetap berolahraga dan beraktivitas di badan jalan.
Begitu pun keadaan di pasar malam yang berlokasi di salah satu perumahan kelas menengah di Kota Bekasi. Pasar malam dadakan yang rutin diadakan 1 bulan sekali akhirnya kembali digelar setelah beberapa bulan vakum akibat kebijakan PSBB dari pemerintah. Terlihat cukup banyak keluarga yang kembali menikmati hiburan murah di kala ‘new normal’ meski pandemi belum berakhir. Terlepas dari patuh tidaknya masyarakat terhadap protokol seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan sebagainya, kita dapat melihat ekspresi kelegaan yang timbul di wajah mereka setelah beberapa bulan terakhir dikeram di rumahnya masing-masing.
Hal yang sama juga ditemukan pada transportasi publik seperti Kereta Rel Listrik (KRL) dan stasiun kereta yang menerapkan protokol ‘new normal’ sekaligus penegaknya yang senantiasa mengingatkan, menegur, dan bahkan mengeluarkan penumpang bilamana tidak patuh aturan. Atmosfir ‘new normal’ sungguh terasa pada transportasi publik, agak sedikit berbeda dengan dua tempat sebelumnya. Pengguna transport publik begitu patuh aturan bahkan tak segan menegur pengguna yang lain bila tidak mematuhi aturan seakan-akan lingkungan membentuk penumpang menjadi lebih tegas dan disiplin akan keadaan sekitarnya. Bagaimana pun, situasi baru ini jelas kita sadari mengubah cara pandang kita dalam beraktivitas dan melakukan sesuatu. Tak hanya perilaku tapi bermanifestasi dalam bentuk fisik berupa infrastruktur hingga rekayasa mobilitas publik.
LIHAT POTRET LAINNYA