A Memento

Keluarga saya baru pindah ke komplek ini tidak lebih dari tiga tahun lalu. Tidak ada sumber pasti yang dapat mengkonfirmasi sejak kapan komplek ini berdiri. Namun dari yang saya baca industrinya sudah dimulai dari tahun 1927.
Situasi pandemi membuat saya yang biasanya tinggal di luar kota, terpaksa harus pulang dan terjebak jauh lebih lama di sini, dari yang biasanya hanya hitungan minggu kini sudah 6 bulan lamanya. Ironisnya situasi ini membuat saya sadar, terhitung telah 3 tahun saya bolak balik mengunjungi komplek ini di sela sela liburan, namun saya mengetahui tidak lebih dari jalan ke gerbang menuju rumah saya. Ada sesuatu tentang kesunyian dan 'ketuaan' dari komplek ini, yang mungkin membuat saya enggan melihat lebih jauh. ‘Kantor’ yang tidak pernah terlihat aktivitasnya, asrama putri yang ditinggalkan, rumah panggung yang sebagian tak lagi berpenghuni, sedikit banyak memberi impresi bahwa komplek ini ‘mati suri’.
Tanpa sadar, situasi saya yang terjebak di komplek ini membuat saya pelan-pelan lebih mengenali lingkungan sekitar. Dalam perjalanan ini, saya melihat segala fasilitas terbengkalai yang minim pembaruan dan bahkan tak lagi digunakan menunjukkan betapa komplek ini pernah sangat hidup. Saya pikir warna warni wahana di taman akan membawa suasana semangat dan ceria bagi komplek ini, namun bagaimana bisa apabila warnanya pun telah usang dan pudar, apalagi wahananya sudah berumur, dan berkarat.
Saya sadar bahwa apa yang saya rasa mungkin hanyalah sekedar impresi. Mungkin juga alam sedang memberi kesempatan bagi saya untuk menjelajah lebih jauh tentang sekitar saya.
LIHAT POTRET LAINNYA