Home > Blog > PKL Semasa Pandemi: Berdamai dengan Terus Bekerja

PKL Semasa Pandemi: Berdamai dengan Terus Bekerja

PKL Ancol sedang memasarkan dagangannya
Sumber foto: Bete, PKL Ancol

Pada April 2020, DKI Jakarta menjadi provinsi pertama yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mengikuti anjuran gubernur, tempat rekreasi Taman Impian Jaya Ancol pun ditutup. Hal ini segera berdampak pada komunitas pedagang kaki lima yang menggantungkan hidupnya dengan berjualan di Ancol. Pada waktu yang bersamaan, wilayah Jakarta Utara ditetapkan sebagai zona merah yang juga berimbas pada penutupan dan pembatasan aktivitas perekonomian. Rujak mewawancarai Dondris, Koordinator Komunitas Pedagang Kecil Ancol (KOPEKA) untuk menggali tantangan yang dihadapi pedagang asongan di wilayah zona merah COVID-19.

Dondris telah tujuh tahun berada di Komunitas Pedagang Kecil Ancol (KOPEKA), satu dari beberapa reseller Ancol yang mendapatkan ijin berdagang di dalam area Taman Impian Jaya Ancol. Berawal sebagai anggota, Dondris kini memegang amanah sebagai koordinator dan sudah ikut memperjuangkan ijin berdagang KOPEKA. Sebanyak 85% dari 53 anggota KOPEKA berasal dari Kelurahan Pademangan, sisanya berasal dari Priuk atau ada yang datang dari kampung di luar Jakarta. Sebelum pandemi, 53 PKL tersebut bertahan hidup dengan menjual beragam barang kepada pengunjung Ancol, dari minuman, makanan, hingga aksesoris yang sering dipakai rekreasi di wahana atau tepi pantai. Mereka berdagang sepanjang tahun dan baru berhenti di bulan puasa selama sebulan karena pengunjung berkurang drastis.

Bayangkan tantangan yang PKL hadapi ketika akhirnya Ancol tutup mengikuti PSBB. Dondris mendeskripsikan, selama tiga bulan, PKL KOPEKA tidak mendapatkan penghasilan sama sekali. "Kawan-kawan banyak yang ngontrak dan sudah berkeluarga. Rata-rata per bulan bisa habis tiga juta rupiah. Kalau tiga bulan artinya pengeluarannya sudah sepuluh juta rupiah!"

Selain hidup tanpa penghasilan di awal pandemi, Dondris dan rekan-rekan KOPEKA juga harus menghadapi fakta bahwa wilayah tempat tinggal mereka di Pademangan berada di zona merah dan lingkungan RW 11, tempat tinggal mereka, adalah yang paling parah. Namun menurut Dondris, ia dan warga tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang bagaimana wilayah mereka ditetapkan sebagai zona merah. Yang mereka amati adalah banyaknya orang-orang yang dibawa ke Wisma Atlet, kesimpangsiuran penentuan status Orang Dalam Pengawasan (ODP), hingga pihak keluarga yang dipaksa menandatangani pemakaman dengan protokol COVID.

PKL Ancol sedang memasarkan dagangannya
Sumber foto: Bete, PKL Ancol

Berada di zona merah, mereka mendapatkan beberapa bantuan, terutama kebutuhan pangan, baik dari pemerintah nasional, daerah, dan kota. Di awal pandemi, setelah Ancol ditutup, setiap KK di RW 11 setidaknya mendapatkan minimal 20kg beras. Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) juga memberikan bantuan sembako. Selain itu, mereka juga mendapatkan bantuan dari Konser #dirumahaja berupa subsidi pembelian beras. Namun kebutuhan mereka bukan hanya makan. Mengikuti arahan gubernur untuk tinggal di rumah saja, mereka juga harus mempertahankan ruang tempat mereka tinggal dengan membayar kontrakan. Bantuan yang bisa diberikan KOPEKA hanyalah memberikan pinjaman uang kas sebesar Rp560.000 kepada maksimal dua orang anggotanya dalam sekali waktu. Banyak dari anggkota KOPEKA menghabiskan tabungan dari pendapatan sebelumnya, hingga menjual benda-benda milik mereka, seperti motor, gawai untuk bertahan hidup dan mencukupi kebutuhan lain, seperti susu, pampers, token listrik, bayar air, cicilan kredit motor.

Dondris mendorong rekan-rekannya untuk mengambil pekerjaan apapun yang bisa dikerjakan, seperti mengambi pekerjaan proyek, untuk bertahan hidup. Beberapa dari mereka ada yang berjualan di wilayah lain, seperti Kemayoran, namun terciduk satpol pp. Yang tidak terkena pengawasan, juga tidak bisa mendapatkan apa-apa karena memang sepi pembeli, bahkan ada yang justru memiliki hutang baru. "Pemerintah jangan hanya merumahkan kita," keluh Dondris. "Kita kan nggak bisa diliburkan juga. Mungkin orang yang punya ketahanan pangannya cukup sih bisa. Kita nggak terpapar COVID, tapi kita mati kelaparan. Kalau dipaksakan keluar juga sulit."

Meskipun terbelit situasi, rekan-rekan KOPEKA tetap turun tangan memastikan isolasi kampung. Selama Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL) diterapkan, anggota KOPEKA berjaga di check point secara sukarelawan, sedikitnya selama delapan jam sehari. "Secara moral, kami merasa terbeban. Dari kawasan Pademangan, RW 11 yang paling parah. Kami ingin hapus itu."

Menjadi bagian dari masyarakat yang langsung terdampak pandemi secara ekonomi, juga menjadi orang-orang yang turut menggerakkan bantuan melalui KOPEKA, Dondris menyadari masyarakat tidak bisa terus-menerus diminta untuk hanya menunggu di rumah saja dan menjalankan protokol kesehatan. Ia mengamati ada kejenuhan di masyarakat yang pelan-pelan membuat masyarakat menormalkan situasi pandemi. "Sekarang warga menganggap, kalaupun melakukan protokol kesehatan, tidak menjamin tidak akan terpapar. Dokter,  tenaga medis, yang benar-benar pakai APD saja bisa terpapar. Artinya, tidak ada jaminan bagi kita yang pakai masker, cuci tangan."

PKL Ancol sedang memasarkan dagangannya
Sumber foto: Bete, PKL Ancol

Berdamai dengan pandemi dimaknainya dengan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk tetap bisa beraktivitas di tengah pandemi, menciptakan kebiasaan dan perilaku untuk hidup berdampingan dengan virus ini. Protokol kesehatan adalah prioritas, tetapi pelaksanaannya tetap membutuhkan anggaran. Dondris telah menghitung, aktivitas sederhana relawan berjaga di pintu masuk kampung dan menjaga isolasi kampung bisa membutuhkan biaya hingga 74 juta, untuk makan, minum, dan uang saku. Tidak bisa mengharapkan warga sukarela membantu, sementara ada tanggungan hidup yang harus terus dicari.

Ia juga sedang memikirkan ruang tambahan agar teman-teman PKL bisa berjualan dengan aman, di luar area rekreasi Ancol, misalnya dengan membuka pasar malam. Pagi hingga sore, PKL bisa berjualan di kawasan Ancol, malam harinya bisa menambang peluang di pasar malam. Selain itu, KOPEKA juga sedang bergerak menuju koperasi untuk membantu keuangan para anggota. Peluang-peluang berjualan barang baru juga diusahakan dengan membeli bahan langsung ke sumbernya untuk memotong biaya, misalnya dengan penjualan wedang uwuh dari Yogya. Ia juga pernah mengusahakan ketahanan pangan dengan menanam di lahan kosong dekat rel kereta api, tetapi masih kesulitan mendapatkan bibit. Sembari mengusahakan ini, ia terus mengingatkan rekan-rekannya untuk tidak menunggu dan mengandalkan dagang di Ancol, ambil pekerjaan lain jika memang memungkinkan.

"Pemerintah kan sampai sekarang masih mencoba menghadapi pandemi ya. Mau nggak mau  kita harus bertahan. Siapa yang kuat, dia yang bertahan."