Home > Blog > Perspektif Warga Kampung di Semarang Menyoal Pandemi

Perspektif Warga Kampung di Semarang Menyoal Pandemi

Mewabahnya pandemi Covid-19 ternyata memunculkan berbagai respon yang berbeda di tiap daerah. Begitu Bustaman, Jatiwayang, Krapyak, dan Petemesan. Perspektif masyarakat tentang virus ternyata tak sama rata dan dampaknya, wajah kampung pun berubah dengan wujud yang berbeda-beda.

Fenomena kekerabatan yang erat dalam Kampung Bustaman misalnya, adalah hal yang menjadi sorotan bagi terjadi sebelum pandemi ternyata tak terhenti. Masyarakat tetap bersikap biasa saja terhadap virus yang mematikan ini. “Selama saya jualan jus ya ramai-ramai saja, anak-anak pada jajan, habis itu bermain, orang-orang tua khususnya ibu-ibu ya tetap merumpi,” ujar Bu Siti Aisyah (46 tahun), warga Kampung Bustaman. 

Potret warga yang sedang berjualan di gang, Kampung Bustaman.

Masyarakat merasa aman-aman saja sebab lingkup bermain mereka hanya ada di dalam kampung. Padahal, pada awal masa pandemi, orang yang masuk Kampung Bustaman harus dicek menggunakan thermogun terlebih dahulu. Portal-portal ditutup, disisakan satu pintu saja untuk akses keluar masuk warga. Masyarakat kehidupan masyarakat banyak dihabiskan di dalam lingkup kampung yang padat.

“Coba dilihat cenderung cuek, menikmati hidup, happy, mau makan apa saja tinggal ambil, anak-anak tetap main di sini-penyakit kan bahagia, ya ini kita masyarakat Bustaman selalu bahagia buktinya tempat kami belum pernah ada yang terpapar Covid,” ucap Pak Aris Zarkasi (50 tahun), Ketua RT 04/RW 03 Kampung Bustaman. Sore itu suasana dilengkapi oleh pedagang yang hendak membersihkan warungnya, pemilik lapak makanan yang sedang menyiapkan makanan, ibu-dan anak-anak yang sibuk bernyanyi lagu TikTok atau bermain sepeda.

Bukan berarti lalu masyarakat tidak peduli sehingga menyepelekan. Pengurus RT dan RW juga sepakat membuat tema pembiasaan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak). “Terus terang soal adanya pembiasaan jaga jarak, bagaimana kami dapat jaga jarak? Orang semua rumah di sini saling berdekatan. Meski masyarakat kami menganggap semua yang terjadi bukanlah sesuatu yang ditakuti, tapi dari RT kan tetap menjalankan perintah pemerintah saja. Kalau disuruh menerapkan pembiasaan 3 M kepada warga ya kami tetap selalu. Kuncinya ya itu tadi, tetap bahagia, apapun yang terjadi,” tutup Pak Aris sambil berjalan menuju TPS.

Lain halnya dengan masyarakat Jatiwayang yang hidup di kota besar. Diuntungkan dengan kondisi strategi Terbukti dengan terdapatnya area pabrik-pabrik yang lokasinya berdekatan dengan kawasan tempat tinggal virus Covid-19 sudah mulai masuk di area tempat tinggal mereka. Masyarakat tiba-tiba menutup diri dan membatasi kegiatan mereka di luar rumah, kontras dengan keadaan sebelum pandemi.

“Semua berubah, tiba-tiba kepanikan ada di mana-mana. Portal-portal yang dulunya tidak ditutup lalu ditutup. Masyarakat takut jika ada pendatang dan semua kegiatan dibatasi,” ucap Pak Wasis selaku Ketua RT 06/RW 03. Gambaran keadaan tersebut dapat menggambarkan bagaimana kekhawatiran masyarakat benar-benar terjadi. Kemudian semua elemen pemerintahan juga turut mengampanyekan pengadaptasian kehidupan baru sesuai dengan protokol kesehatan.

Pada awal pandemi sampai bulan September 2020 pengurus RT 06/RW 03 aktif membagikan masker gratis dengan Hysteria atau pihak lain. Aktivitas itu dilakukan sebagai respon kepedulian antar warga. Bahkan, Pak Wasis, Ketua RT 06/RW 03, rela menghibahkan uang transportnya untuk keperluan warga selama pandemi dengan membuat tempat cuci tangan dan bagi-bagi masker kesehatan. Kewaspadaan masyarakat masih berlangsung hingga saat ini meski portal-portal jalan sudah dibuka kembali di Jatiwayang, tetapi masyarakat belum melakukan kelonggaran aktivitas. Keadaan tersebut disebabkan karena masyarakat di sekitar Kelurahan Ngemplak Simongan dan kelurahan tetangga yakni Kelurahan Manyaran terdapat warga yang terkena Covid-19. 

Dalam bulan November 2020 ini di Kelurahan Ngemplak Simongan mengalami kasus tertinggi dengan 6 kasus warga yang terkena Covid-19, sedangkan di Kelurahan Manyaran selaku tetangga dekatnya terdapat hingga 18 kasus. “Alasan masih adanya pembatasan ketat itu ya karena daerah kami dekat dengan daerah dengan kasus coronanya banyak. Meski kalau di Jatiwayang sendiri masyarakat yang terkena Covid itu pasti sembuh dan jika ada kematian itu awalnya saja dikatakan karena Covid tapi hasilnya tidak. Tapi masyarakat tetap waspada,” tutur Pak Wasis. 

Masyarakat juga dinilai proaktif dalam menjaga keamanan dan kesehatan bersama dengan selalu melapor jika ada warga yang mendapat tamu dari luar kota kepada Ketua RT setempat. Selama pandemi melanda, kriminalitas tidak terjadi di wilayah Jati Wayang. Keadaan cenderung kondusif meski masyarakat ketakutan menghadapi pandemi.

Sementara Kelurahan Krapyak memiliki cerita yang berbeda. Pak Hendro Wahono selaku Lurah Krapyak menjelaskan bahwa masyarakat saat menyikapi corona ini dengan percaya dan tidak percaya. “Ada yang bilang kepada saya jika corona adalah virus yang sengaja diciptakan oleh penguasa-penguasa,” jelasnya. Seperti halnya yang terjadi di daerah-daerah lain portal-portal di Krapyak juga banyak yang ditutup.

Pak Hendro mengaku tidak dapat mengubah persepsi masyarakat tentang virus Covid-19. Sebab, beliau meyakini bahwa masyarakat terdiri dari macam-macam kepribadian yang tidak dapat disamakan. 

Padahal di Krapyak sudah pernah terdapat kasus warga yang terkena Covid-19 dan beberapa anggota keluarganya meninggal. “Bukti di lapangan kan banyak, sebenarnya ini memang virus yang membahayakan, tapi bagaimana lagi yang penting kami dari pemerintah kelurahan tidak lelah menghimbau dan memberi penyuluhan terkait Covid-19 minim mengenai kebiasaan 3M,” ujar Pak Hendro. Selain itu data kelurahan menunjukan pada Maret awal persebaran Covid-19 hanya di angka 0 sampai 3 warga, tetapi di bulan Agustus sampai terdapat belasan orang yang akhirnya ada 4 diantaranya meninggal dunia.

Dahulu tepatnya pada bulan Maret 2019 ketika Indonesia memasuki fase awal kasus pandemi, pemerintah Kota Semarang sempat memberi edaran agar tidak beribadah di tempat ibadah terlebih dahulu. Tetapi, ada saja sebagian dari masyarakat yang tetap “nekat” dengan dalih “hidup dan mati di tangan Tuhan”. 

Ada juga masyarakat yang “nekat” tidak memakai masker saat keluar rumah karena menganggap keluarnya hanya sebentar. Itulah gambaran sebagian dari  masyarakat, bukan berarti masyarakat lain juga melakukan hal yang sama. Bulan Maret sampai Oktober kegiatan rapat-rapat pemuda dilakukan melalui zoom, bapak-bapak dan ibu-ibu PKK memanfaatkan grup WhatsApp untuk melakukan koordinasi.

Sedangkan di Petemesan, awal kemunculan Covid-19 mayoritas masyarakat sempat panik, tetapi ada juga sebagian yang memiliki pemikiran jika Covid-19 adalah flu biasa dan flu yang dibuat-buat. Di sinilah peran Pak Sugeng Sutrisno selaku ketua RT untuk memberikan pengertian kepada masyarakat agar tidak panik, sebab hanya akan membuat stress dan ketakutan saja. 

“Masyarakat kan banyak yang kena dampak secara ekonomi, sudah kehilangan pekerjaan masih ketakutan ya lama-lama nanti jadi stress. Saya sih mengarahkan kepada masyarakat supaya tetap tenang patuhi dan lakukan protokol kesehatan. Buktinya setelah pada di PHK ya pada memanfaatkan lingkungan sekitar, jadi ya banyak yang terus jualan makanan atau berdagang” tutur Pak Sugeng. Adanya pandemi ini juga mengakibatkan Ketua RT mengambil kebijakan untuk menurunkan dana iuran warga setiap bulannya yang tadinya sebesar Rp. 60.000, menjadi Rp. 30.000 sebagai upaya meringankan beban warga.

Pada awal pandemi, terdapat dua warga dari satu keluarga yang sama di Petemesan yang terjangkit Covid-19. Sebelum dibawa ke rumah dinas walikota Semarang sesuai prosedur penanganan Covid-19 di Semarang, kedua warga tersebut terlebih dahulu melakukan isolasi. Ruang isolasi telah disiapkan oleh Ketua RT yang ditempatkan di pos kamling. Dengan kebijakan ini lalu warga membuat pos kamling baru. Pembuatan pos kamling baru memang tidak luput dari kebijakan RT setempat agar pos kamling lama digunakan sebagai ruang isolasi sebab pos kamling terletak 100 meter dari pemukiman warga yang padat.

Pos Kamling di Kampung Petemesan.

Setelah itu, ketua RT juga mengkhususkan bilik kamar mandi umum yang sudah tersedia untuk warga yang terkena Covid-19. Selama 14 hari masa karantina warga yang terjangkit Covid-19 mendapatkan kebutuhan makan sehari-hari dari para tetangga. Relasi ini terjalin secara harmonis tanpa adanya pengasingan terhadap warga yang terjangkit Covid-19 maupun keluarganya yang lain. Meski masyarakat lain juga sedang mengalami kesulitan secara ekonomi dan memiliki kekhawatiran mengenai Covid-19, tetapi pandemi terjadi bukan tanpa dampak positif. Dampak positif dari adanya pandemi yang terjadi di Petemesan ialah semakin eratnya kekeluargaan antar tetangga.

Disadur dari laporan Kolektif Hysteria, kontributor riset #KotaKitaKovid di Semarang.