Home > Blog > Pengalaman Kasus Pertama COVID-19 Indonesia di Depok

Pengalaman Kasus Pertama COVID-19 Indonesia di Depok

Sumber Foto: Anitha Silvia

Tulisan ini memuat topik seputar pengalaman penanganan kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Tentunya narasi dan cerita soal kasus pertama menjadi penting untuk dipublikasikan kepada kalangan umum karena mencerminkan bagaimana kenyataan kondisi pada saat kejadian kasus pertama covid-19 yang menyasar warga kota Depok. Anis Hidayah, selaku istri dari suami saat itu menjadi ketua RT, memiliki banyak pengalaman penting yang sejatinya juga merupakan representasi penanganan pandemi di Indonesia dari gejala awal terjadinya pandemi serta juga solidaritas warga yang hadir membantu kondisi pandemi serta penanganan yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi kasus aktif covid-19 pertama di Indonesia.

Kasus pertama yang menimpa warga kota Depok menyasar tiga orang yang diumumkan pada tanggal 20 Maret 2020. sebagai ketua RT yang mengalami kasus pertama, Anis merasa bingung harus melakukan apa. Dengan situasi yang serba tidak pasti, Anis melihat bahwa rumah kasus pertama pada hari itu diberi garis polisi dan kedatangan tim Gegana mulai berjaga-jaga dan menghimbau warga agar tidak keluar rumah dan menyemprot disinfektan kepada rumah korban. Lalu Anis Hidayah juga meminta agar garis polisi dicabut karena bukan tindakan kriminal.

Sejak kehadiran kasus pertama, Anis Hidayah menyadari bahwa lingkungan tempat tinggalnya merupakan lingkungan yang kondusif dan sebagian warga yang ada bekerja dibidang kesehatan dan sumber daya manusia yang ada di lingkungan warga setempat juga berpendidikan cukup baik, sehingga kondisi ini menjadi bekal penting bagaimana menghadapi kasus pertama dengan tetap mengedenakan kondusifitasn dari para warga. Pada awal kasus Anis menyadari dari sisi pemerintah sudah gagal memproduksi pengetahuan secara menyeluruh tentang covid-19. sehingga kondisi ini menilbukan kekacauan komunikasi di level warga.

Selain itu kondisi ini juga telah menciptakan narasi negatif terhadap lingkungan tempat tinggal Nis Hidaya yang dianggap oleh warga sebagai ruang yang eksklusif (tidak saling mengenal) dan kenyataan negatif lainnya. Padahal kenyataannya bahwa dilingkungan kami banyak kegiatan sosial yang terus dilakukan, seperti olah raga bersama, arisan atau berkebun organis yang antar warga saling berinteraksi.

Selain itu stigma yang menimpa pasien pertama di kota Depok juga tidak kalah tragisnya, mereka menjadi bulan-bulanan di media sosial karena dianggap sebagai pengacau. Kondisi ini menjadi penghakiman bagi pasien secara sosial. Tentunya ini merupakan kelemahan dalam skala informasi dalam penanganan covid-19 di Indonesia. Kondisi stigmatisasi ini selalu muncul seiring berjalannya pandemi, seperti kondisi saat ini kemunculan varian virus baru juga menjadikan stigma terhadap buruh migran yang datang ke Indonesia. 

Jadi hal yang penting dipahami dalam kondisi ini adalah bahwa informasi yang minim dan langka menjadi penyebab kekacauan komunikasi di level masyarakat. Selain itu solidaritas tumbuh manakala stigmatisasi muncul pada masa pandemi ini. Terakhir adalah perspektif perempuan sangat tidak efektif seperti kementerian perempuan tidak dilibatkan dalam satgas penanganan covid, Karena dalam kondisi pandemi kekerasan terhadap perempuan meningkat. Tentunya ini menjadi hal penting yang harus diperbaiki dalam sistem pemerintahan kita.