Home > Blog > Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Pandemi

Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Pandemi

Dunia dikejutkan dengan pandemi virus covid-19 yang tiba-tiba saja muncul sejak desember 2019 lalu. Penularan virus yang begitu cepat membuat setiap negara menutup akses pergerakan manusia di segala bidang untuk menekan penyebarannya. Pemerintah negara Republik Indonesia menetapkan Coronavirus Disease 2019 sebagai Bencana Nasional Non Alam pada tanggal 14 Maret 2020.

Pandemi yang menyerang saluran pernafasan disebabkan oleh virus yang menular melalui droplet (percikan air liur) membuat masyarakat harus mematuhi beberapa anjuran pemerintah seperti tetap berada di rumah, menjaga jarak, menggunakan masker dan sering mencuci tangan. Pembiasaan baru ini perlahan membawa perubahan di masyarakat.

Pandemi tidak hanya membawa perubahan di bidang kesehatan dan ekonomi tetapi juga mempengaruhi bidang pendidikan. Kementerian pendidikan menerbitkan surat edaran tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 sejak 17 maret 2020.

Selama pembelajaran jarak jauh berlangsung, para guru terus mengembangkan strategi mengajar yang sesuai dengan kondisi pandemi agar tetap bisa memenuhi hak pendidikan siswa dengan maksimal. Beberapa hal yang menjadi faktor penentu jenis pembelajaran yang dilakukan guru diantaranya letak geografis sekolah, data kepemilikan gawai siswa, kondisi ekonomi rata-rata orang tua siswa di sekolah, dan yang paling utama adalah jangkauan jaringan internet. Tentunya setiap daerah menjadi berbeda-beda cara dalam pelaksanaannya.

Bagi sekolah besar yang berada di pusat kota, karena lokasi sekolah yang strategis dengan kondisi hampir seluruh siswa memiliki gawai dan jaringan internet cukup memadai memudahkan guru untuk mengembangkan berbagai jenis strategi mengajar selama pembelajaran jarak jauh. Mereka bahkan bisa memiliki aplikasi resmi yang digunakan sekolah untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Meskipun begitu banyak sekolah yang tetap memadukan pembelajaran daring dengan luring sehingga masing-masing kegiatan pembelajaran tersebut bisa saling melengkapi kekurangannya.

Berbeda dengan sekolah yang berada jauh dari pusat kota, dengan kondisi ekonomi rata-rata orang tua kelas menengah ke bawah menyebabkan tidak semua siswa bisa memiliki gawai. Siswa yang memiliki gawai pun sebagian menggunakan gawai milik orang tua untuk belajar. Masalah lainnya adalah siswa yang memiliki gawai tidak setiap waktu mempunyai kuota internet. Selain itu jangkauan jaringan internet di sekitar tempat tinggal siswa tidak merata dan sering tidak stabil. Para guru melaksanakan pembelajaran luring, membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang rumahnya berdekatan dengan siswa yang memiliki gawai atau melakukan home visit untuk siswa yang dirasakan memiliki masalah dalam perkembangan belajar.

Setelah beberapa waktu melaksanakan pembelajaran jarak jauh, selain kendala jaringan internet, permasalahan yang muncul bagi semua orang selama pembatasan sosial dan jaga jarak adalah gangguan psikologis. Hal ini tidak luput dirasakan juga oleh siswa, orang tua dan guru di dunia pendidikan. Tidak jarang terdengar berita-berita di media sosial seperti orang tua yang menjadi emosi saat mengajar anaknya, mencuri demi memiliki gawai, siswa bunuh diri karena stress, prasangka buruk terhadap guru yang hanya makan gaji buta, dan banyak lagi berita negatif lainnya.

Para guru juga merasakan kepanikan, stress, dan khawatir seperti semua orang saat pembelajaran jarak jauh berlangsung. Secara tiba-tiba mereka diharuskan untuk merubah strategi mengajar, berpikir lebih kreatif untuk mengembangkan strategi mengajar baru, beradaptasi cepat dengan teknologi yang tentunya lebih berat bagi guru senior, terpaku pada standar lulusan, belum lagi kendala menagih tugas siswa selama pembelajaran jarak jauh.

Selama pembelajaran jarak jauh para guru kesulitan dalam mengawasi proses belajar siswa. Para siswa yang diharuskan belajar mandiri secara drastis merasa lebih sulit memahami materi pelajaran serta terbebani dengan tugas, ada juga kesenjangan sosial berdasarkan faktor kepemilikan gawai, beberapa dari mereka bahkan terancam putus sekolah karena membantu orang tua mengatasi masalah keuangan keluarga.

Ezra Golberstein peneliti kebijakan kesehatan dari Universitas Minnesota (dalam Budi Cahyono, 2020) mengatakan, anak-anak bisa mendapat ‘pukulan dobel’ dari keadaan ini. Selain keberadaan virus dan ketakutan akan virus itu sendiri, anak-anak juga harus terpisah dari sekolah dan teman-temannya.

Pemerintah mengeluarkan penyesuaian zonasi untuk pembelajaran tatap muka di awal tahun pelajaran 2020/2021, maka hal ini menjadi sebuah harapan baru yang muncul bagi guru dari daerah zona hijau sesuai penetapan oleh gugus tugas covid-19 karena bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka secara bertahap menggunakan protokol kesehatan.

Berbagai hal dipersiapkan demi bisa kembali ke sekolah, seperti memaksimalkan sarana mencuci tangan, menyediakan masker, hingga penyemprotan disinfektan. Sekolah juga memberikan kuesioner untuk diisi orang tua agar bisa mengetahui respon kembalinya anak-anak mereka ke sekolah. Tentunya sekolah juga bekerjasama dengan tim gugus tugas covid-19 setempat untuk menguji kelayakan setiap sekolah dalam membuka sekolah.

Sekolah masuk secara bertahap dari jenjang yang paling tinggi hingga yang paling rendah. Untuk siswa SMP, mereka baru memulai pembelajaran tatap muka pada bulan agustus, setelah satu bulan sebelumnya SMA dan SMK terlebih dahulu melakukan pembelajaran tatap muka. Siswa kembali belajar secara tatap muka dengan sistem pergantian shift. Artinya siswa yang berada di dalam kelas hanya setengah dari jumlah total siswa kelas tersebut. Jumlah jam belajar-mengajar dikurangi tanpa jam istirahat dan tidak ada kegiatan lainnya selain kegiatan belajar.

Rasa khawatir karena virus masih bisa mengancam kapan saja sedikit tertutupi oleh rasa antusias untuk kembali bertemu siswa secara langsung. “Insyaallah aman selama kita disiplin menjalankan protokol kesehatan”, kata seorang guru dalam wawancara singkat. Strategi mengajar kembali seperti sebelum pandemi, yang berubah hanya kompetensi dasar yang mengutamakan materi yang esensial dan dianggap penting sesuai dengan kurikulum darurat, alokasi waktu lebih sedikit dan pastinya terbatas dalam mengadakan kegiatan pembelajaran berkelompok.

Pada dasarnya guru-guru bersyukur bisa kembali mengajar secara tatap muka, karena semakin lama pembelajaran jarak jauh tanpa adanya pembelajaran tatap muka menyebabkan semakin banyak dampak negatif yang terjadi pada siswa seperti putus sekolah, kendala tumbuh kembang, dan tekanan psikososial bahkan kekerasan dalam rumah tangga yang tidak bisa terdeteksi oleh guru.

Dalam sebuah video viral yang di unggah akun instagram @insta_julid seorang siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh tidak efektif jika tidak ada kehadiran seorang guru yang seharusnya membimbing mereka hingga bisa dan mengerti. Ia juga mengungkapkan Kelebihan guru itu memiliki perasaan terhadap siswa. Mereka mendidik, mereka mengajar, mereka membentuk karakter kita siswa-siswi Indonesia.

Kita tidak bisa memungkiri, untuk menghadapi perkembangan zaman modern ditambah dengan kondisi pandemi menjadikan gaya dan cara mengajar berubah ke pembelajaran daring. Para guru juga mengatakan pembelajaran daring bisa saja dikembangkan untuk pelaksanaan pembelajaran di masa yang akan datang, namun pembelajaran tatap muka serta interaksi secara langsung dengan siswa tetap dirasakan para guru lebih efektif terutama untuk menyentuh ranah karakter dasar siswa yang cukup sulit dicapai hanya dengan menatap layar gawai atau laptop saja.

Apabila guru hanya dibutuhkan untuk menyampaikan materi pembelajaran saja, maka siswa bisa mengaksesnya secara lebih luas langsung dari internet. Tetapi tanggung jawab guru tidak hanya sampai disitu saja, tugas utama guru selain menyampaikan materi adalah membantu peserta didik untuk mencapai kedewasaan. Guru hendaknya mengenal dan memahami setiap siswa dan memberikan kesempatan belajar sesuai dengan karakteristik individu serta membantu mengatasi masalah yang dihadapinya.

Mempertimbangkan semakin besarnya dampak negatif yang terjadi pada siswa jika semakin lama pembelajaran tatap muka tidak terjadi, kementerian mengeluarkan panduan penyelenggaraan pembelajaran pada semester genap tahun 2020/2021. Januari 2021, kebijakan pembelajaran tatap muka dimulai dari pemberian izin oleh pemerintah daerah agar sesuai dengan konteks dan kebutuhan.

Prinsip kebijakannya tetap harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan, tumbuh kembang dan kondisi psikososial. Pembelajaran tatap muka diperbolehkan untuk satuan pendidikan yang telah memenuhi daftar periksa. Dengan ini setidaknya akan lebih banyak sekolah bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka dan lebih banyak siswa yang tumbuh kembangnya bisa digapai secara maksimal oleh para guru.