Home > Blog > Pasar Terbuka di Surabaya: Informalitas dan Tantangan Kala Pandemi

Pasar Terbuka di Surabaya: Informalitas dan Tantangan Kala Pandemi

1956 klasifikasi pasar di Surabaya secara umum dan sederhana dibagi menjadi 2, Pasar Resmi dan Pasar non-Resmi. Pasar Resmi diolah oleh pemerintah. sedangkan Pasar non-Resmi diolah secara Swadaya. Secara Tipologi Pasar sendiri secara umum dibagi menjadi dua, yaitu : Pasar Tertutup dan Pasar Terbuka. Pasar Tertutup diolah oleh pemerintah dan sebagian secara swadaya. Sedangkan semua Pasar Terbuka seluruhnya diolah oleh swadaya secara kolektif.

                Pemetaan pasar secara mandiri dengan menggunakan open street map yang dilakukan oleh Anitha Silvia selama Januari 2020 hingga Oktober 2020 menghasilkan pemetaan 186 pasar yang terbagi dalam 72 pasar yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya dan 114 pasar yang dikelola swadaya oleh warga. Warga disini adalah pengurus Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan (LKMK), atau perseorangan.

                Dari 114 pasar swadaya, sebanyak 70 pasar adalah pasar terbuka. Pasar terbuka adalah aktivitas pasar di area terbuka, seperti lapangan, jalan, atau gang. Pasar terbuka dekat dengan permukiman yang padat dan simpul-simpul kota lainnya, seperti rumah sakit, terminal angkutan umum, dan pabrik. Pasar terbuka memanfaatkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami, serta bergerak hanya beberapa jam saja (biasanya di pagi hari).

                Pasar terbuka di Surabaya dikenal dengan sebutan pasar krempyeng atau pasar tumpah. Menurut Keppi Sukesi, pasar krempyeng adalah sebuah pasar yang skala pelayanannya adalah untuk komunitas setingkat Rukun Warga (RW) dengan barang-barang yang dijual biasanya berupa bahan pangan atau kebutuhan pokok sehari-hari. Luas areal pasar ini berkisar 0,05 s/d 0,07 ha dengan jumlah pedagang sekitar 100 s/d 150 orang.

                Pasar Krempyeng ini terletak di tengah-tengah kampung atau kompleks perumahan atau di lapangan terbuka. Stand-stand yang dimiliki pedagang, secara fisik kondisinya sangat sederhana dan agak semrawut. Pasar terbuka di Surabaya merupakan cabang ekonomi perkotaan yang kuat, bentuk ekonomi kerakyatan yang intim, padat karya, dan sebagai ruang public yang signifikan. Pasar terbuka adalah simbiosis mutalisme antara pedagang, pengelola pasar, dan warga kampung. Pasar terbuka mempunyai hubungan yang erat dengan kampung-kampung perkotaan.

                Sepanjang bulan April – Juli 2020, sejumlah Pasar Terbuka ditutup sementara (1-2 minggu) karena isu pedagang terkena Kovid19 atau pasarnya masuk ke kluster kasus Kovid19, seperti pasar Jalan Kedung Baruk VII, pasar Jalan Kedung Baruk XIV, pasar Sampoerna, dan pasar Gresik PPI. Era Covid - 19 juga menjadi masa sulit bagi Pasar Tertutup salah satunya Pasar - Pasar dibawah PD Pasar Surya, mengingat hampir seluruh Pasar Tertutup selama ini tidak lagi relevan untuk memberikan sirkulasi udara, pencahayaan, dan sirkulasi yang baik, serta terlalu rigid untuk dapat bisa tanggap terhadap situasi pandemi saat ini.

                konteks Covid telah membuka perspektif baru tentang pasar terbuka. Pasar Terbuka yang tetap aktif dan berada didalam konteks yang dekat dengan fenomena alam (cahaya alami, sirkulasi udara) ternyata masih memiliki permasalah fundamental dalam sistem pasar. Sebagai contoh, pasar Karmen yang memiliki akses sirkulasi yang sempit meski berada di ruang terbuka atau pasar Tembok Lor yang minim fasilitas umum. Dan tentu saja ketersediaan tempat cuci untuk menunjang sistem pasar belum tersedia di 4 pasar yang telah kami petakan.

                Hal ini menunjukkan bahwa Tipologi Pasar Terbuka merupakan bentuk ruang yang ideal, karena keterbukaannya dan fleksibilitas ruang yang ada dapat memberikan keleluasaan sirkulasi bagi pedagang maupun pembeli, dalam konteks kualitas ruang pun baik, karena secara maksimal aktivitas pasar dapat dijangkau oleh cahaya matahari alami dan sirkulasi udara.

                 Hal yang dapat ditingkatkan di Pasar Terbuka adalah belum tersedianya sistem fundamental fasilitas pasar. Terlebih dengan adanya layer baru berupa Covid. Seperti fenomena tempat cuci tangan yang banyak dialihfungsikan menjadi tempat cuci bahan/peralatan pasar menunjukkan masih ada hal yang harus dipersiapkan dalam sistem pasar sebelum pasar benar-benar siap dalam menghadapi situasi lainnya, yang didalam konteks ini adalah pandemi Covid-19.