Home > Blog > “NANG OMAH YO ISO NGOPI, ISO NGETEH. NANG WARKOP LANGGANAN PREI SIK JEH.”

“NANG OMAH YO ISO NGOPI, ISO NGETEH. NANG WARKOP LANGGANAN PREI SIK JEH.”

Spanduk dengan imbauan untuk tetap di rumah saja selama era Kovid19 terpasang di gang-gang di Kampung Keputran Panjunan dan Kampung Keputran Kejambon di pusat kota Surabaya. Spanduk ini dirancang oleh Pemerintah Kota Surabaya menggunakan Bahasa Jawa Timur, dialek Surabaya dengan memperhatikan perilaku dan mobilitas warga kampung untuk membujuk mereka untuk tidak berkeliaran di kota. Subjek yang dituju adalah kaum pria, sudah tradisi di Surabaya untuk minum kopi di warung kopi, di kampung, di dekat kantor, atau menjadi perhentian wajib dalam perjalanan. Kebiasaan minum kopi di warung kopi didominasi oleh pria. 

Warung kopi di Surabaya biasa akrab disebut “warkop”, tempat minum kopi. Warkop adalah warung yang menempati sebuah ruangan beratap dengan satu atau dua sisi terbuka atau dalam bentuk rombong yang menyajikan minuman kopi sebagai menu utama. Warkop mudah dijumpai di Surabaya, di pasar tradisional, di dalam gang, di persimpangan jalan, di mana-mana, jumlahnya ribuan. Warkop memiliki penampilan berupa rombong (gerobak dorong untuk berjualan pedagang kaki lima, terbuat dari kayu), keber (kain pelindung dari sinar matahari) dengan tulisan huruf kapital “WARKOP”, kursi-kursi panjang menampung lima hingga sepuluh pria yang minum kopi sambil berkumpul.

Karakter utama dari warkop di Surabaya adalah penggunaan gaya tradisional penyajian kopi yang populer di Jawa Timur yaitu kopi tubruk. Satu sendok makan bubuk kopi robusta dan satu sendok gula pasir bersatu dalam cangkir diseduh dengan air panas yang baru saja mendidih, kemudian diaduk cepat dengan sendok. Peracik kopi menyajikan kopi dalam cangkir dan lepek lalu menyajikannya di hadapan pelanggan.

Satu-dua menit menunggu bubuk kopi turun di dasar cangkir, baru diminum atau langsung dituang ke lepek, ditiup sedikit, lalu diseruput. Dengan pasokan biji kopi robusta yang melimpah dari banyak perkebunan kopi di Jawa Timur, Surabaya menjadi ruang pamer melalui warkop. Pabrik kopi sangrai skala kecil – menengah di Surabaya menjadi penyalur biji kopi sangrai dan bubuk kopi ke warkop dengan merek, seperti bubuk kopi cap Sedan, Jari Besar, Enam Enam, Pantjar Gas, dan Moci.

Dengan luas wilayah 350,5 km2 dan jumlah penduduk sekitar empat juta jiwa, kota pelabuhan ini memiliki ratusan taman yang dirancang sebagai ruang publik oleh pemerintah, tapi warkop menjadi pilihan klasik warga Surabaya sebagai rumah kedua. Warga minum kopi saat matahari terbit, setelah makan siang, dan sebelum matahari tenggelam. Surabaya adalah peminum kopi, tentunya kopi warkop.

Warkop di Surabaya adalah aktor utama dalam panggung kehidupan rakyat kota. Mereka ada di hampir setiap jalan dan gang, nyata di simpul-simpul kota, bahkan bisa ada di dalam rumah. Di warkop, pengetahuan personal dengan mudah berubah menjadi pengetahuan publik, mudah untuk menggali informasi untuk mencari kesempatan mendapatkan uang dan rekan kerja. Ekonomi kerakyatan yang dijalankan oleh warkop ini menghadirkan ruang yang aman dan nyaman bagi warga, menjadi tempat terbaik di Surabaya.

In hayats and coffeehouses, private knowledge could quickly turn into public/Bazaar knowledge. Bazaaris were able to question a myriad actors to gather information about the potential quality of exchange partners.” (Keshavarzian, 2007: 121).

Himbauan untuk tidak ngopi di warkop menjadi hal yang sulit dilakukan karena pemerintah Kota Surabaya hanya membatasi jam operasional warkop sampai pukul 22.00. Warkop umumnya buka selepas Subuh dan tutup sebelum Ashar, tutup setiap hari Minggu karena melayani kelas pekerja. Warkop tertua di Surabaya yang masih beroperasional sejak 1930-an di pasar Pabean, Warkop Elita, melayani buruh pasar dari pukul 07.00 hingga pukul 16.00, pasar pun masih beroperasional normal di era Kovid19.

Warkop menjadi tempat untuk mencari informasi, kesempatan mendapat uang, seperti menjadi makelar, pedagang musiman, supir, tukang listrik, atau penyedia jasa perbaikan barang-barang rumah tangga atau mesin. Warkop menjadi pertukaran informasi antar-pekerja di satu perusahaan, seperti yang terjadi di Warkop Beki yang menempel di bangunan kantor marketing salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia.

Warkop Beki menyediakan makanan dan minuman yang cocok di lidah. Harganya terjangkau, secangkir kopi hitam Rp.3000, segelas es teh Rp.2000, gorengan Rp.1000, dan nasi bungkus Rp.6000. Mulai pukul 05.30 sampai pukul 08.00 pelanggan tidak berhenti memesan kopi dan teh hangat, mulai dari petugas SATPOL PP sampai buruh pabrik kosmetik. Selepas pukul 08.00 Cak Beki bisa mengambil nafas sambil mencuci gelas-gelas, menunggu pelanggan selanjutnya datang, para petugas kebersihan jalan dan sungai yang bertugas di Kelurahan Darmo dan Kelurahan Pakis.

Cak Beki adalah generasi ke-2 pengelola warkop yang sudah ada sejak awal tahun 1970-an. Dia mendapat restu dari perusahaan kosmetik di Jalan dr Wahidin untuk membuka warkop berupa rombong yang menempel di pagar bangunan kantor berupa rumah besar satu lantai yang dibangun tahun 1940-an. Cak Beki tidak mendapat halangan untuk berjualan di era Kovid-19, karena polisi dan SATPOL PP menjadi pelanggannya, hanya pakai masker saja syarat untuk tetap berjualan. Tahun 2012, rombongnya diangkut SATPOL PP dan tidak kembali, itu saja kejadian buruk yang pernah dialami Cak Beki dengan pelanggannya itu.

Meskipun Kota Surabaya memiliki kasus Kovid19 yang tinggi, kelas pekerja lebih banyak bekerja seperti biasanya di kantor, kebijakan work from home tidak populer. Perusahaan kosmetik yang tepat berada di sebelah Warkop Beki juga tetap bekerja di kantor. Dari Warkop Beki, mendekati pukul 08.00 terlihat antrian pegawai untuk bercuci tangan dan masuk ke bilik disinfektan di pintu masuk kantor.

Pelanggan Warkop Beki lainnya adalah pedagang sayur keliling, Cak Mat, dengan sepeda motor dan rengkek bambu tempat dagangannya, setiap pagi dia keliling dari satu rumah ke rumah lainnya di perumahan Darmo, menjelang siang pindah berkeliling ke Kampung Grudo dan Kupang Segunting. Pukul 09.00. Cak Mat berisitirahat sejenak di Warkop Beki, makan nasi bungkus dan minum es susu kedelai.

Cak Mat yang tinggal di Kampung Kupang Krajan sempat tidak bisa keliling berjualan di kampung-kampung yang gang-gang-nya ditutup dalam rangka pencegahan penyebaran Kovid-19. Sejak Agustus 2020, gang-gang di kampung mulai kembali dibuka, begitu juga di perumahan-perumahan, sudah terbuka untuk pengunjung luar.  

Warkop bagi pekerja “kantoran” dan “embongan” serta warga kampung menjadi situs penting terjalinnya interaksi sehari-hari warga kota. Kovid-19 karena ruang publik lainnya, seperti taman kota ditutup. Desain warkop yang semi-terbuka dengan sirkulasi udara yang cukup, bisa dirancang untuk meminimalisir resiko penyebaran Kovid-19.

Penjarakan sosial bisa dilakukan dengan menggunakan trotoar dan bahu jalan untuk minum kopi, karena tidak ada tradisi “take away”. Kekurangan ada di akses untuk mencuci tangan, karena banyak warkop yang membeli air dengan dirigen dan tidak punya akses air mengalir. Warkop juga tidak bisa menyediakan hand sanitazer karena margin keuntungan warkop tidak bisa menanggung biaya tersebut. Satu hal yang juga masih menjadi masalah adalah rendahnya kesadaran pelanggan memakai masker dengan benar.