Home > Blog > Menilik Potensi Taman Kota, Cerita Cirebon Kala Pandemi

Menilik Potensi Taman Kota, Cerita Cirebon Kala Pandemi

P_20201129_065212_vHDR_On.jpg

Kota Cirebon memiliki jumlah penduduk 388.854 jiwa (data BPS Kota Cirebon), sedangkan pada siang hari, jumlah penduduk di kota Cirebon dapat mencapai 1 juta penduduk. Karena banyak warga dari luar Kota Cirebon yang menggantungkan hidupnya di wilayah Kota Cirebon, seperti bekerja, sekolah, dll. Hal ini dikarenakan sudah banyaknya fasilitas di Kota Cirebon yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat luar kota sekitar Kota Cirebon (Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Indramayu). Dampak Covid-19 berpengaruh terhadap semua sektor, terutama ekonomi, yang menjadi sumber dari timbulnya banyak permasalahan lainnya. Pada saat awal pandemi berlangsung, jumlah tingkat perceraian di Kota Cirebon meningkat, ditambah meningkatnya pula tingkat kriminalitas di Kota Cirebon.

Banyak dari warga Kota Cirebon yang mencari nafkah di ruang publik, yang memaksa mereka keluar dan beraktivitas di ruang publik. Namun semenjak pandemi, semua sumber penghasilannya terhenti. Warga Kota Cirebon banyak mencari nafkah dari berdagang, dibuktikan dari banyaknya jumlah sektor perdagangan dibanding sektor lainnya, sebesar 35,46% (data pemerintah Kota Cirebon). Karena hal tersebut yang kemudian mempengaruhi banyak kebijakan pemerintah Kota Cirebon di saat masa pandemi. 

images (2).png
Data struktur perekonomian Kota Cirebon

Meski kemudian ekonomi menjadi salah satu alasan publik diizinkan kembali beraktivitas. Sarana umum seperti taman merupakan tempat interaksi manusia yang berpotensi besar terjadinya penularan Covid-19.  Kasus Covid-19 sendiri masih terus melonjak seiring tingginya aktivitas masyarakat. Sejauh ini, 938 warga Kota Cirebon telah terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon menyatakan Sebanyak 142 orang tenaga medis terpapar di antaranya adalah tenaga kesehatan, mulai dari dokter, bidan, sampai perawat. Kota Cirebon juga melakukan test swab massal dari seluruh wilayah kelurahan kota Cirebon, sehingga jumlah positif diketahui meningkat. Kota Cirebon melakukan beragam langkah untuk mengatasi penyebaran virus, salah satunya menyewa 2 hotel di Kota Cirebon sebagai lokasi karantina para pasien positif. Dari upaya itu, tingkat kesembuhan pasien telah mencapai sekitar 83,4%.

P_20201124_093635_vHDR_On.jpg
Test swab massal di kantor BKKBN kota Cirebon

Ruang publik seperti taman kota memiliki manfaat yang dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat, manfaat sosial dan psikologisnya sebagai tempat relaksasi, rekreasi, hingga manfaat ekologis sebagai paru-paru kota. sehingga mampu menjadi solusi alternatif dengan adanya ruang publik yang dapat menunjang kesehatan warga di masa depan.

Hal itu bisa dilakukan melalui kedisiplinan diri dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) 3M (mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak). Penyediaan fasilitas atau sarana pada taman kota pun harus memperhatikan kebutuhan untuk mendukung kesehatan publik. Selain bersih terawat, taman kota kini diantaranya harus menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, tempat sampah, toilet dan air bersih, hingga himbauan perilaku hidup bersih dan sehat.

Sayangnya, keberadaan taman-taman di Kota Cirebon itu dianggap belum mampu menjawab kebutuhan publik. Terdapat perbedaan persepsi antara warga, ahli, maupun pemerintah ihwal definisi taman kota. Jika dikaitkan dengan pembangunan yang ada, banyak taman yang dibangun saat ini justru tak termanfaatkan dengan baik oleh warga. Rerata taman kota, justru hanya menjadi hiasan dan watermark sang pembuat taman. Ditambah lagi, kurangnya pepohonan dan tanah sebagai penyerap air justru banyak dipasang paving block. Padahal, Kota Cirebon sendiri masih kekurangan 11% RTH yang harus dipenuhi, jika mengikuti standar RTH perkotaan. Taman kota seharusnya mampu menjadi solusi alternatif dalam menunjang kesehatan warga kota, baik secara raga maupun mental. Pandemi Covid-19 kan telah berdampak pada semua aspek, khususnya kesehatan masyarakat. Pandemi juga sepertinya telah menggugah cara berpikir manusia terhadap kesehatan. Dari hal tersebut, kesadaran masyarakat atas kesehatan pribadinya semakin meningkat, seperti meningkatkan imun tubuh dengan berolahraga, minum vitamin, dan sebagainya.

P_20201129_065758_vHDR_On.jpg
Alun-alun kasepuhan kota Cirebon

Di sisi lain, kesehatan mental turut berperan penting dalam mendukung fisik yang sehat. Fenomena lockdown (karantina), belajar/bekerja dari rumah, hingga pembatasan sosial berskala besar maupun mikro (PSBB/PSBM), dipandang telah membuat perubahan besar terhadap mental manusia saat ini. Covid-19 telah membatasi kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, mulai dari bertemu sampai bercengkrama dengan banyak orang. Sementara, tak sedikit pula warga kota yang memaksakan diri ke ruang publik karena tuntutan pekerjaan. Ruang publik, seperti taman kota, menjadi penting dalam aktivitas warga kota karena fungsinya yang mampu mencakup banyak hal demi menunjang keseimbangan kota, melalui lingkungan yang mampu mendukung kesehatan kota dan warganya. Karena itu, selain menjadi landmark, taman kota sendiri harus mampu menjadi ruang publik yang memenuhi kebutuhan kesehatan warga. Untuk ini, fasilitas atau sarana pendukung, seperti taman kota yang ramah anak, ramah disabilitas, ramah lansia, juga menyesuaikan dengan keadaan adaptasi baru (new normal), harus terpenuhi. Jika hal itu dapat dilakukan, warga Kota Cirebon mampu menjadikan taman kotanya terjangkau bagi seluruh warga, sebagai solusi alternatif dari permasalahan kesehatan yang berkepanjangan di masa depan.

Ditulis oleh kolaborator riset #KotaKitaKovid di Cirebon.