Home > Blog > #KotaKitaKovid Seri Kota Yogyakarta - Kebunku Jogja: Berbagi Benih Ketahanan Pangan

#KotaKitaKovid Seri Kota Yogyakarta - Kebunku Jogja: Berbagi Benih Ketahanan Pangan

Sumber foto: Instagram @kebunku_jogja

“Ketika situasi serba terbatas, memang ada skema bantuan sosial dan perlindungan sosial dari pemerintah, tetapi akan terus ada kelompok masyarakat yang terpinggirkan.” Elanto Wijoyono, bagian dari jejaring Solidaritas Pangan, memaparkan awal mula gerakan ini adalah untuk mengisi ruang yang tidak diisi oleh kewenangan pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat.

Dalam hitungan hari sejak DIY Yogyakarta mengumumkan kasus pertama COVID-19 di 15 Maret 2020, Solidaritas Pangan Yogya bergerak membuat sebuah aksi solidaritas. Khususnya untuk para pekerja informal yang terpaksa gulung tikar, pendapatan menurun, daya beli menurun. Setiap siang, dua belas dapur umum dalam jejaring Solidaritas Pangan Yogya menyediakan sekitar 800 nasi bungkus untuk makan siang para pekerja informal. Namun mereka menyadari, model bantuan karitatif atau bergantung pada donasi tidak bisa abadi, pasti akan ada periode berhenti. Maka, saat gerakan dapur umum kedelapan dibuat, muncul juga kebutuhan untuk membuat inisiatif baru sebagai penyedia pangan dapur.  Kebunku Jogja muncul diwujudkan sebagai solusi.

Sumber foto: Instagram @kebunku_jogja

Muncul dari kebutuhan kolektif, Kebunku Jogja juga merupakan inisiatif kolaboratif. Kolaborasi awal muncul dari Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP KP), komunitas yang mendapatkan advokasi dari beberapa anggota Kebunku Jogja dalam melawan penggusuran akibat tambang pasir besi sejak 2008. Saat tulisan ini dibuat, rekan-rekan Kebunku Jogja menyampaikan kabar, penggusuran akan dilakukan di akhir tahun 2020. Meski mendapatkan tantangan tersebut, PPLP KP bisa mengirimkan hingga satu pick up penuh sayur seminggu sekali untuk dapur umum. Lahan Kebunku Jogja sendiri didukung oleh Gusdurian dan merupakan tanah dari Alisa Wahid. Sebagai petani instan, demikian sebutan Dodok Putra Bangsa yang aktif mengelola Kebunku Jogja, mereka sering konsultasi bercocok tanam dari Sekolah Gajahwong, sekolah gratis untuk anak jalanan. Untuk membayar guru-gurunya, Sekolah Gajahwong memiliki ternak kambing. Kotoran dari kambing tersebut didonasikan untuk Kebunku Jogja. Peralatan berkebun juga didapatkan dari donasi.

Kebunku Jogja membagi prioritas menanamnya sesuai kecepatan waktu panen. Tanaman-tanaman jangka pendek, seperti kangkung, bayam, ubi, sementara yang menengah. Jangka menengah terong, tomat, cabe. Karena mereka menanam secara organik, mereka menghabiskan waktu 20-25 hari periode menamam, baru panen. Dengan kecepatan seperti itu, Kebunku Jogja hanya bisa memenuhi pasokan seminggu sekali untuk dua sampai tiga dapur. “Berarti kita nggak bisa back up 12 dapur. Yo wes, 20% bisa supply dapur, 80% menginspirasi lah.” Kelakar Dodok ini bukan tanpa bukti.

Kebunku Jogja telah banyak mendapatkan kunjungan komunitas dan individu yang ingin belajar pertanian kota, seperti Greenpeace, Sekolah Alam Jogja (SALAM), dan banyak mahasiswa KKN. Dodok melihat antusiasme ini sebagai sebuah indikasi signifikansi pendidikan ketahanan pangan di ranah formal. “Di indonesia ini ‘kan, pola pendidikannya seperti ketahanan pangan yang penting di Bulog, walaupun berasnya pesing atau impor, yang penting tahan, tapi kedaulatan pangannya tidak ada. Mereka ngaku sendiri, menanam cabe, menanam kangkung langsung, ya baru di Kebunku.”

Instagram @kebunku_jogja

Undangan untuk menggiatkan kebun bersama dan menyebarkan edukasi tentang pentingnya ketahanan pangan diwujudkan dalam kegiatan menanam dan panen bersama di lahan Kebunku. Selain itu, Kebunku Jogja melakukan pembagian bibit gratis yang sudah berada dalam polybag dan ada pengecekan dua minggu sekali untuk melihat perkembangan. Kebunku Jogja memberikan contoh tanaman hias di halaman dan bidang sesempit apapun bisa diusahakan sebagai lahan ketahanan pangan. “Kedaulatan pangan itu pilihan. Harusnya kalau negara mau, sederhana sekali. Seorang walikota bisa menyebarkan edaran ke camat, RT, RW, misalnya harus ada 100 tanaman di wilayah mereka. Artinya, kedaulatan pangan bisa diwajibkan.” Penyebaran hasil panen juga dilakukan dengan kolaborasi pasar gratis, juga pemberian pasokan pangan pada Komunitas Waria Yogyakarta (Kebaya) di daerah Bong Suwung.

Setelah Kebunku Jogja mendapatkan model manajemen yang lebih stabil, mereka mendapati ada ruang keberlanjutan lain yang perlu digiatkan. Meneruskan jejaring dapur umum Solidaritas Pangan, mereka memperluas jangkauan advokasi dengan mendirikan dapur umum buruh gendong perempuan. Bekerja sama dengan lembaga yang berhubungan dekat dengan buruh gendong, Dapur Umum Buruh Gendong membagikan makan siang ke buruh gendong yang sama setiap hari. Identitas ini penting untuk mengecek dampak pemberian makanan.

Sumber foto: Instagram @dapurgendong

Sembari terus mengusahakan inisiatif ini, Kebunku Jogja juga memastikan apakah pemerintah daerah atau kota tergerak untuk memperbaiki sistem perlindungan sosial yang dimiliki. “Anggaran Yogya sangat besar, berlimpah uang tapi orang nggak bisa makan masih ada, orang nggak bisa bayar toilet masih ada,” tegas Elanto. “Jika tidak ada perubahan, tentu saja rakyat akan tergerak mencari solusinya sendiri. Penjaga gawang terakhir adalah warga, rakyat bantu rakyat.”

Referensi:

Subarkah, L. 2020. Di Jogja, Sejumlah Anak Muda Menanam Sayur & Hasilnya untuk Solidaritas Sesama. Jogjapolitan.