Home > Blog > #KotaKitaKovid Seri Kota Semarang - Udan Salah Mongso

#KotaKitaKovid Seri Kota Semarang - Udan Salah Mongso

Udan salah mongso secara harfiah bermakna sebagai “hujan salah musim” tentunya ketika hujan sudah tidak sesuai dengan waktunya, berarti kita bisa membaca bahwa sedang terjadi semacam gejala alam yang diakibatkan oleh beberapa faktor seperti perubahan iklim dan juga kita bisa melihat kenyataan pandemi ini. Tutur Mila Karmilah.

Pandemi ini banyak sekali memberi pelajaran kepada kita tentang tata cara hidup seperti apa agar selaras dengan jalan hidup alam dan lingkungan hidup. keselarasan tersebut merupakan kunci penting menjaga keseimbangan ekosistem hidup manusia dan alam. Pandemi covid-19 memberi refleksi kepada diri tentang adanya gangguan keterhubungan antara manusia dan alam yang terjadi hari ini karena tidak seimbang.

Sebagai bagian dari rangkaian acara “Kota Kita Kovid”, Rujak Center for Urban Studies berkolaborasi dengan Kolektif Hysteria, Departemen PWK Universitas Sultan Agung (Unissula) serta Koalisi Perempuan Indonesia dan Pekakota Institute untuk menilik dinamika yang terjadi di kota Semarang di masa pandemi. Isu yang menjadi sorotan utama terkait dengan isu solidaritas jaringan kampung dan partisipasi politik perempuan di era pandemi.

Acara simposium berlangsung tanggal 13 Desember 2020 dengan turut mengundang Slamet Riyadi (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Cabang Semarang) dan Dr. Muchamad Abdul Hakam, Sp.PD. (Dinas Kesehatan Kota Semarang) untuk membahas tema Non-Human Actor dan virus sebagai kenyataan yang harus dihadapi dan disiasati dalam kehidupan masa kini.

Selain itu, ada pula M. Qunut (Lembaga Gerak Pemberdayaan) yang memberi contoh nyata adanya Ketahanan Warga melalui inisiasi “Jogo Tonggo” yang telah dilakukannya. Sedangkan, Nur Laila Hafidhodh, M.Pd dari LRC-KJHAM menanggapi subtema Perempuan dan Pandemi dengan menerangkan kerentanan posisi perempuan baik dari segi mental, sosial, maupun finansial. Dan terakhir, Ir. Wiwi Tjiook, M.Sc. memberikan paparan mengenai arsitektur lansekap terutama melalui contoh-contoh di Belanda untuk mengaitkannya dengan subtema Ruang Terbuka di Kala Pandemi.

Di berbagai kota, pandemi banyak menyisakan hal yang perlu di narasikan, terkait dengan penularan, kematian dan fenomena perkotaan yang terjadi di masa pandemi ini. Mochamad Abdul Hakam  Kepala DInas Kesehatan Kota Semarang  menyebut bahwa total konfirmasi kasus positif terdapat 16.507 kasus dan kasus yang masih aktif berjumlah 751 kasus sementara itu 509 berasal dari dalam kota Semarang dan 242 berasal dari luar kota Semarang. semantara itu kasus meninggal berjumlah 1.24 orang dimana 912 berasal dari dalam kota Semarang dan 412 berasal dari luar kota Semarang sampai dengan tanggal 13 Desember 2020.

“Awal November 2020 terjadi ledakan kasus yang luar biasa di kota Semarang, hal ini tentu sangat berkaitan dengan libur panjang natal dan tahun baru serta minimnya kesadaran masyarakat tentang protokol kesehatan. Kenyataan ini juga sama halnya terjadi pada kasus sembuh yang meningkat, pada waktu yang sama juga angka kematian meningkat drastis dan mencapai momentumnya dengan angka tertinggi.”Tutur Abdul Hakam.

Sampai bulan Desember 2020 dari hasil survey Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat angka ketertiban protokol masyarakat mengalami peningkatan yakni cuci tangan meningkat menjadi 75 persen, penggunaan masker 72 persen dan orang yang sadar untuk berjaga jarak sudah 71 persen. Dengan persepsi ini, program penanggulangan pandemi covid-19 terus digencarkan untuk menyadarkan masyarakat diantaranya program penyemprotan disinfektan, sosialisasi kesehatan dan razia masker yang dilakukan oleh pemerintah kota Semarang.

“Saat ini kota Semarang sudah dibantu oleh rumah sakit swasta yang sudah bisa melakukan hasil uji tes covid-19. Pada awal November jumlah kasus meningkat maka laboratorium PCR tidak bisa mengeluarkan hasil cepat. tapi begitu kasus rendah, maka 1 x 24 jam hasil bisa keluar. kenyataan delay hasil tes pcr adalah karena kota Semarang juga mengelola hasil tes pcr daerah penyangga yang ada di sekeliling kota Semarang. terdapat 18 rumah sakit rujukan covid-19 di kota Semarang. dari sisi tempat tidur dan hasil tes pcr menjadi delay bahkan bisa sampai 5-6 hari. ”Ujar Abdul Hakam.

Selain itu pemerintah kota Semarang juga mengembangkan program kampung Siaga Candi Hebat yang juga dikembangkan dari program pemerintah Provinsi melalui program Joko Tonggo. Kampung siaga hebat ini ada beberapa hal yang disasar yaitu siaga kesehatan, logistik, sosial-ekonomi, keamanan dan komunikasi dan juga merupakan upaya sosialisasi di level masyarakat dalam menanggulangi pandemi.

Sejauh ini kota Semarang tidak pernah menggunakan istilah PSBB, melainkan menggunakan kebijakan PKM (pembatasan kegiatan masyarakat) yang perbedaannya adalah soal pembatasan dari waktu kegiatan masyarakat. kebijakan PKM ini juga didukung dengan adanya Perwali No. 57 tahun 2020 yang mengatur kebijakan PKM.

Selain itu kota Semarang juga menangani pasien covid-19 untuk dirawat di rumah dinas Walikota dan juga tenda-tenda karantina yang bisa menampung 170 tempat tidur. Pada dasarnya para pasien yang dirawat di ruang karantina ini adalah mereka penderita covid-19 tanpa gejala. Namun demikian, meski tanpa gejala, ketika para pasien terdiagnosis covid-19, banyak dari mereka mengalami gangguan psikis. Dengan data hasil survei para penderita, pemerintah kota Semarang melalui DInas Kesehatan memberikan treatment psikis dan memberikan sarana-prasarana yang cukup memadai kepada para pasien agar terhindar dari gangguan psikis tersebut.

Menurut Slamet Riyadi selaku ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) menyebut bahwa persepsi masyarakat terutama warga kota Semarang melihat fenomena covid-19 juga cukup beragam. Ada yang memandang pandemi ini dari sudut pandang agama, ekonomi dan politis. artinya keyakinan terhadap tiga hal tersebut masih dominan menjadi penyebab angka penderita covid-19 masih tetap terus bertambah dan tinggi.

Lebih lanjut menurut Slamet Riyadi bahwa persepsi warga dari sudut pandang kesehatan juga ada, tetapi nampaknya sudah mulai jengkel karena tiga sudut pandang tersebut tidak pernah bertemu dengan sudut pandang kesehatan. karena dominan alasan agama, dimana banyak pengaruh tokoh agama yang tidak percaya pandemi, lalu ekonomi terkait perdebatan antara ekonomi dan kesehatan untuk mana yang diutamakan, dan juga politik yang mengedepankan kepentingan politik daripada kesehatan sehingga tetap mengutamakan pemilihan umum. Maka disitulah sudut pandang kesehatan mulai terabaikan.

“kuncinya adalah sudut pandang yang keliru memahami pandemi selain dari sudut pandang kesehatan kiranya perlu ditunggangi agar dapat memberikan kesadaran tentang bahaya covid-19 saat ini, yang sebenarnya dari sudut pandang agama, ekonomi dan politik masih tidak pernah dianggap sebagai sebuah virus yang berbahaya bagi nyawa. Jika sudut pandang ketiga hal tersebut sudah menyepelekan pandemi ini, maka akan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.“Tutur Slamet Riyadi.

Menurut Slamet Riyadi menyebut bahwa sejauh ini penangan covid-19 di level masyarakat bawah kerap muncul anekdot “tidak mati karena covid-19, bisa mati karena kelaparan” tentunya, ini merupakan realitas yang terjadi di tengah masyarakat kita saat ini. Jika pemerintah mau menggunakan Undang-Undang karantina wilayah, tentunya memang pangan harus menjadi tanggung jawab pemerintah, bahkan pakan ternak saja mendapat subsidi pangan dari pemerintah. tetapi jalan tersebut tidak ditempuh dalam menangani pandemi covid-19 saat ini oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Sejauh ini terkait penanganan prokes (protokol kesehatan) dilakukan oleh puskesmas yang memantau hampir 10 persen jumlah penduduk di kelurahan.yang selalu memberikan update laporan. menurut Dinkes kota Semarang. Selain itu kita juga menyediakan call center untuk warga jika terdapat salah satu anggota masyarakat yang dirasa positif untuk segera ditangani.

setelah paparan dari para narasumber terkait kondisi pandemi dan perspektif para narasumber terhadap kebijakan dan fenomena pandemi yang terjadi di Kota Semarang, sesi simposium berlanjut dengan presentasi para pemalakah yang juga terlibat dalam membuat mini research terkait kondisi pandemi yang terjadi di kota Semarang.

Seiring dengan riset yang dilakukan di kampung, diadakan pula sosialisasi Pendidikan politik bagi perempuan di masa pandemi. Kegiatan berupa FGD ini dilakukan pada tanggal 13 November 2020 di Kelurahan Kemijen dan 16 November 2020 di Tambak Lorok. Kegiatan ini diadakan bertepatan dengan menjelang diselenggarakannya pemilihan walikota Semarang pada tanggal 9 Desember 2020. Tak hanya pertimbangan kritis yang berusaha ditanamkan, acara ini juga membahas panduan singkat mengenai pentingnya protokol berkumpul untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Kegiatan riset di kota Semarang kemudian ditutup dengan simposium yang merupakan bagian dari rangkaian acara “Udan Salah Mongso”, kegiatan dua tahunan Penta-K Labs III hasil inisiasi Pekakota Institute dan Departemen PWK Unissula. Simposium ini membuka kesempatan bagi pemakalah untuk mengirimkan tulisan di bawah lima tema: Ruang Terbuka di Kala Pandemi, Non-Human Actor, Ketahanan Warga, Teknologi untuk Manusia, serta Perempuan dan Pandemi.. Simposium ini dilakukan secara daring dan dihadiri oleh 33 partisipan. Dari tujuh makalah yang masuk dengan fokus bahasan yang beragam, Adanya simposium ini diharapkan menjadi sarana reflektif untuk lebih memahami konteks kota Semarang secara menyeluruh dan memantik semangat berkelanjutan untuk terus menggali pengetahuan yang hadir di masa pandemi.