Home > Blog > #KotaKitaKovid Seri Kota Cirebon - Diskusi Publik “Siklus Pandemi dan Taman Kota yang Mati Suri”

#KotaKitaKovid Seri Kota Cirebon - Diskusi Publik “Siklus Pandemi dan Taman Kota yang Mati Suri”

Ekosistem ruang publik (khususnya taman) yang biasa terisi oleh warga dan pedagang kini sepi. Tempat yang biasanya berfungsi sebagai sentra aktivitas warga kini dianggap menjadi tempat berpeluangnya titik penyebaran Covid-19. Pemerintah kota di beberapa tempat kini  telah mengeluarkan regulasi penerapan protokol ketat bahkan sampai penutupan beberapa taman.  Implikasinya, mereka yang menggantungkan hidup pada taman sebagai tempat pencharian terdampak secara ekonomi.

Lalu bagaimana dengan kondisi Taman di Kota Cirebon? Apakah kehadiran taman di Cirebon penting bila dikaitkan dengan pandemi? Untuk menjawab pertanyaan ini, kegiatan #KotaKitaKovid seri Kota Cirebon mengadakan diskusi publik pada 29 November 2020 bertajuk Siklus Pandemi dan Taman Kota yang Mati Suri.

Kegiatan dibuka dengan pemutaran video dokumenter garapan kawan-kawan Sinau Kota. Video ini merekam pengetahuan dan persepsi ahli, pemerintah kota, dan warga terhadap taman kota dan Covid-19. Zaenal Abidin, selaku ketua Sinau Kota sekaligus inisiator video dokumenter menegaskan bahwa terdapat kesinambungan antara taman kota dan kesehatan masyarakat bila dilihat dari fungsinya secara ekologis, ekonomi dan sosial.

Namun, ia menyayangkan kehadiran taman kota baru di Kota Cirebon yang lebih mengedepankan estetika ketimbang penghijauan. Dari sini diskusi publik dimulai dengan pertanyaan, taman kota seperti apa yang layak dan diharapkan oleh masyarakat Kota Cirebon? Taman Kota seperti apa yang mampu menunjang kesehatan warga?.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Edy Sugiarto, M.Kes, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon. Ia menjelaskan, urgensi Taman di wilayah perkotaan. Secara ekologis, taman menjadi paru-paru bagi perkotaan yang menyediakan udara bersih bagi penduduk di dalamnya. Secara sosial-psikologis taman kota memberi manfaat sebagai tempat rekreasi dan rileksasi pereda stres, ruang interaksi, olahraga dan memberikan kenyamanan. Selain itu, taman memberikan manfaat secara ekonomi.

Di era pandemi Covid-19, adaptasi kebiasaan baru perlu dilakukan. Termasuk di tempat dan fasilitas umum seperti taman yang berpeluang menjadi tempat terjadinya interkasi antar manusia, kerumunan, dan kontak fisik sehingga meningkatkan resiko kontaminasi Covid-19. Penggunaan masker akan meminimalisr exposure atau resiko tertular dan dengan menjaga jarak sekitar satu meter akan mencegah penularan. Dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat, pemerintah harus mengedepankan prinsip sebagai berikut:

  1. Prevent atau pencegahan, terdiri dari komunikasi, informasi, edukasi dan sosialisasi.
  2. Detect yakni melakukan testing untuk menentukan titik kritis, zonasi, dan kelompok berisiko
  3. Responsif dengan melakukan tracing atau pelacakan kontak, lokalisir daerah terkontaminasi, dan menangani penderita sesegera mungkin

Sampai saat ini (27 November 2020) kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Cirebon mencapai 83,4%. Namun, disisi lain, kapasitas rumah sakit dan fasilitas isolasi mandiri yang berjumlah 199 unit yang disediakan pemerintah Kota Cirebon terisi penuh. Dengan antrian pasien Covid-19 yang terus meningkat tiap harinya.

Akbarudin Sucipto selaku ketua Dewan Kesenian Cirebon Kota menyampaikan materi berikutnya. Sebagai kota yang memiliki pengalaman terhadap wabah penyakit. Akbarudin mengambil sudut pandang sejarah sebagai preseden menghadapi situasi pandemi Covid-19. Ia mengambil pengalaman Sunan Gunung Jati dalam melindungi Kesultanan Cirebon dari musuh dan juga pengalaman wabah penyakit yang melanda Kota Cirebon di tahun 1775.

Akbar juga membagikan pandangannya terhadap tata ruang Cirebon. Dengan luas wilayah hampir 38 kilometer persegi. Cirebon kekurangan pohon sebagai paru-paru wilayahnya. Ia menyayangkan terenggutnya banyak pohon dalam kurun beberapa waktu di Cirebon. Jika dipersentasekan, ia mengasumsikan wilayah Cirebon membutuhkan 70.000 pohon di kawasannya. Rencana pembangunan 20 taman oleh pemerintah Kota Cirebon patut diapresiasi. Namun, perlu di ingat kembali bahwa taman hadir bukan sekedar untuk menambah keindahan atau estetika kota. Perlu dilakukan perawatan dan pengelolaan agar manfaatnya sebagai paru-paru kota bisa berfungsi.

Selanjutnya, Iing Daiman, Si.IP, M.Si selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BPPPPD) Kota Cirebon memberikan presentasi bertemakan Komitmen Kota Cirebon Dalam Pembangunan Berbasis Lingkungan Hidup. Diawal, ia menyampaikan 8 isu strategis yang menjadi sorotan Pemerintah Kota Cirebon.

Sumber: Materi presentasi Ketua BPPPPD Kota Cirebon

Iing menegaskan bahwa Pemerintah Kota Cirebon telah menuangkan komitmennya terhadap pembangunan lingkungan kedalam visi misi dan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Kota Cirebon. Tapi perlu digaris bawahi, modalitas merupakan faktor kunci dalam mewujudkan komitmen ini. Integrasi kolaboratif semua aspek baik otoritas, masyarakat, swasta dan regulasi menjadi modalitas penting dalam  pembangunan berbasis lingkungan.

Iing Damian mengakui bahwa Pemerintah Kota Cirebon menghadapi tantangan dalam upaya pengadaan dan promosi ruang publik seperti:

  1. Keterlibatan masyarakat dan swasta yang masih terbatas
  2. Tiadanya sinergi yang sama dalam pengelolaan ruang publik dalam birokrasi pemerintah Kota Cirebon
  3. Penataan ruang publik yang sekedar ‘beautifikasi kota’ sehingga fungsinya menjadi terbatas pada aspek keindahan
  4. Penyediaan ruang publik dianggap sebagai biaya
  5. Belum tersedia grand design, peta jalan (road map) dan rencana aksi
  6. Penanganan ruang publik belum terorganisasi baik

Sebagai dinas yang bertanggung jawab menata dan memelihara taman, pot, serta pohon di sepanjang median/trotoar jalan Kota Cirebon, Nanang Rosadi, S.Si, M.MKes selaku Kepala Bidang Perumahan di Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Cirebon menjelaskan  rencana dan mekanisme pengelolaan taman di Kota Cirebon.

Di tahun 2020, dari 49  taman pulau dan taman median jalan di Kota Cirebon, 16 taman pulau akan dikelola oleh beberapa perusahaan dengan memanfaatkan mekanisme tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) perusahaan. Secara hukum, upaya ini telah mendapat legitimasi melalui Keputusan Walikota Cirebon Nomor: 460/Kep.456-Adm.Perek/2019 Tentang Penunjukan Pengelolaan Taman Pulau Jalan Kota Cirebon Melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSL) Perusahaan.

Namun, usaha ini urung dilaksanakan karena pandemi yang menghantam Kota Cirebon. Selain itu yang menarik, senada dengan Iing Damian, ia menyadari bahwa ruang publik khususnya taman di Kota Cirebon belum dapat dirasakan dampaknya bagi warga.

Berkaitan dengan pemaparan soal taman, Dr. Iwan Purnama ST, MT, Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon menjelaskan materi tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap ruang publik kota. Diawal, ia memaparkan gambaran umum kota-kota besar di dunia kala pandemi yang menunjukan tren penurunan pengunjung di ruang-ruang publik, termasuk taman.

Dari sini muncul beberapa pertanyaan kritis terkait arsitektural kota mengingat pandemi memberikan tantang terhadap ruang publik sebagai ruang komunal. Lalu muncul asumsi, bahwa pandemi akan merubah perilaku orang di ruang publik dan berimplikasi pada kegunaan ruang publik pasca pandemi. Selain itu ia juga menyoroti isu-isu ketidakadilan dan pengucilan yang muncul selama pandemi. Sehingga melontarkan beberapa pertanyaan kritis seputar isu tersebut. Setelahnya, Iwan menunjukan beberapa foto sebagai gambaran atau bayangan bentuk atau model ruang publik di masa depan pasca pandemi. 

Ilustrasi taman pasca pandemi dari pemaparan Dr. Iwan Purnama

Diakhir pemaparannya, merespon kondisi taman kota Cirebon yang ada, namun belum memberikan manfaat secara optimal. Iwan memberikan komentar dan masukan. Pertama, taman di Kota Cirebon belum dianggap sebagai bagian dari landscape Kota Cirebon yang mewujudkan identitas kota. Kedua, taman perlu dikelola dengan baik. Untuk sustain, persoalan finansial atau ekonomi dalam pengelolaan dan pemeliharaan taman perlu mendapat dukungan oleh elemen sosial dan lingkungan.