Home > Blog > #KotaKitaKovid Seri Kota Bogor - Bogor Kala Wabah

#KotaKitaKovid Seri Kota Bogor - Bogor Kala Wabah

Ditulis oleh Rizky P. dari Rujak Center for Urban Studies

Narasi pandemi dalam kota-kota menjadi hal yang patut kita pahami, pada dasarnya narasi pandemi di beragam kota begitu beragam, meski satu diantaranya juga memiliki kesamaan. Kegiatan kolaborasi kegiatan kota dan pandemi dengan 12 kota diantaranya Depok, Tangerang Selatan, Bekasi, Bogor, Cirebon, Banjarmasin, Palu, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan dan Toboali menjadi hal yang begitu penting untuk dipelajari baik dari segi inisiatif yang muncul juga pengalaman penanganan pandemi yang terimplementasi.

Diskusi ini berangkat dari paparan oleh Reza Adhiatma pegiat di kamporng Bogor sebuah lembaga sosial yang bergerak di kota Bogor dalam memberikan penjelasan konteks pandemi yang terjadi di kota Bogor. Menurut Reza bahwa terdapat dua persoalan ketika membicarakan pandemi yang terjadi di kota Bogor. Pertama terkait persoalan mobilitas, karena pada dasarnya kota Bogor memiliki realitas penglaju dan ini juga menjadi saling terkait dengan konteks kota Bogor yang merupakan aglomerasi bagi kota Jakarta. Sehingga melihat proses penyebaran virus covid-19 sangat terkait dengan realitas mobilitas tersebut.

Menurut Reza bahwa kedua persoalan yang tidak kalah penting yaitu terkait survei persepsi yang terjadi di kota Bogor, yang bekerja sama antara lapor covid dan juga NTU (Nanyang Technology of Singapore menunjukan bahwa 65 persen responden dari 20.000-an orang di kota Bogor meyakini bahwa mereka kecil terpapar virus. “Tentunya kedua persoalan ini menjadi hal penting yang dapat didalami dan juga tidak banyak yang mendalami persoalan ini. “Tutur Reza Adhiatma dari Kampoeng Bogor.

“Tentu kita tahu bahwa pasien positif pertama di kota Bogor yang terpublikasi adalah Walikota Bogor itu sendiri yaitu Bima Arya. Perlu kita pahami bahwa dalam sejarah panjang manusia selalu hidup berdampingan dengan wabah, dan pada kesempatan lain, kita akan bertemu dengan wabah lainnya. Tentunya kegiatan research atau potret pengalaman pandemi di kota Bogor ini merupakan hal penting untuk didiskusikan dan dipahami.” Tutur Reza Adhiatma.

Menurut Bima Arya selaku Walikota Bogor menyatakan bahwa saat ini situasinya adalah ironis dan tragis. “Ironisnya adalah bahwa kenyataan pandemi belum ada gelombang kedua, satu saja tidak selesai. Gelombang dua kita dapat pahami jika terjadi peningkatan signifikan, lalu menurun dalam beberapa waktu, kemudian meningkat kembali. “Tutur Bima Arya

“Di kota bogor sendiri sampai saat ini sudah 50-an orang perhari kasusnya. Ironinya angka covid-19 meningkat, namun kepedulian warga justeru menurun. Kunci utamanya adalah pemerintah tidak boleh jenuh, kalau masyarakat jenuh dengan situasi ini tidak apa-apa, tetapi pemerintah tidak boleh jenuh. “Lanjut Bima Arya

Bima Arya menyebut bahwa sejauh ini fokus utama penanganan pandemi diupayakan dengan tiga hal yang harus dibenahi diantaranya tracing, testing, dan treatment. Sehharus dan semestinya Pelacakan kontak erat harus dilakukan minimal 20 kontak erat. Namun, kerap kali hal ideal itu sulit terjadi.

“Rata-rata di Indonesia tidak terjadi hal itu. Paling hanya 6 sampai 8 pelacakannya yang terjadi karena surveillance kita kurang kuat. Pelacakan ini jadi hal yang harus dibenahi, karena jika sampai lolos maka orang tersebut akan menulari banyak orang lagi. Kota Bogor saat ini sudah berkontrak dengan 60 tenaga surveillance, bertempat di pos-pos satgas. Testing adalah hal penting, selama ini hasil swab sangat lama, kota Bogor saat ini sedang melakukan pengadaan mesin PCR tes. Ketiga ada treatment, jika ada yang sakit seperti apa perlakuannya. Isolasi mandiri bisa dilakukan tapi kerap kali pasien positif tidak disiplin dan menulari anggota keluarga lain sehingga muncul cluster keluarga. Saat ini kota Bogor sedang menyiapkan tempat penampungan sehingga meminimalisir isolasi mandiri dengan kondisi yang terbatas.” Tutur Bima Arya Walikota Bogor.

“Bed accopanci ratio (BOR) di kota Bogor ini sudah 80.3 persen dan sementara WHO standartnya 60 persen, bulan Oktober BOR kita masih di bawah 50 persen. RSUD ada 120 bed, persiang (28 November 2020) ini angka terisinya sudah 107 bed. Dan sudah nyaris maksimal, artinya sangat berbahaya. Dan saat ini sedang bekerja sama dengan rumah sakit lain untuk rumah sakit tersebut full menampung pasien covid-19. sehingga kita punya rumah sakit khusus covid-19.”Lanjut Bima Arya Walikota Bogor

Menurut Bima Arya, Kota Bogor sudah melakukan kerjasama research dengan Lapor covid-19 dan Nanyang Technology of Singapore (NTU) berusaha memotret persepsi publik terhadap covid-19. hasilnya bahwa ada 19 persen warga Bogor percaya bahwa covid-19 adalah konspirasi, dan 29 persen tidak percaya. Sementara terdapat 50 persen yang percaya dan tidak percaya. Data tersebut merupakan pemetaan persepsi warga dalam menentukan kebijakan publik.

“Hal yang perlu diwaspadai pada situasi pandemi ini adalah keadaan ekonomi. Saya selaku pemerintah daerah menyadari betul dan saya ajak diskusi Bappeda (Badan Perencana Pembangunan Daerah), Ekonom (ahli Ekonomi) dan para penguasaha mensiasati kondisi ini. Prediksi situasi adalah 60 persen drop keuangan daerah adalah waspada, 30 persen masih dalam level siaga dan optimisnya adalah pemerintah kota Bogor bisa merecovery.”Tutur Bima Arya

Menurut Bima Arya Langkah yang dilakukan adalah economic reovery dan economy rebound yaitu membidik ekonomi dengan cara meningkatkan wisata alam terbuka terutama yang menjadi keunggulan kota Bogor dan peningkatan daya tahan UMKM, bantuan sosial dan juga mendorong usaha tanaman yang dalam kondisi pandemi ini hal-hal tersebut menjadi booming. BPHTB (Bea perolehan hak Atas Tanah dan Bangunan) kota Bogor sudah melampaui target dan situasi ekonomi bisa dikatakan membaik. Namun, dalam konteks kesehatan, perang ini belum selesai.

Melahirkan Inisiatif kala Wabah

Komunitas Temanco dari komunitas besarnya yaitu Salam Aid sejauh ini sudah merasakan begitu meningkatnya permohonan bantuan untuk teman-teman warga kota Bogor lain yang meminta diantar kerumah sakit untuk swab dan konsultasi kesehatan terkait covid-19. “kendaraan kami perhari mengantarkan orang ke tempat isolasi mandiri, atau kerumah sakit sampai 3-4 kali. Tutur Ara Wiraswara dari komunitas Teman co.

Ara Wiraswara merupakan penyintas, karena pengalaman buruknya terdampak virus covid-19, dirinya kemudian membuat semacam gerakan yang berbasis pada bidang kesehatan, edukasi dan ekonomi bernama komunitas temanco. Temanco ini merupakan program gagasan yang terbangun dari komunitas salam Aid yang dikomandoi oleh Luthfie Kurnia yang juga sebagai direktur Salam Aid.

Pengalaman paling penting yang Ara rasakan ketika mendampingi pasien covid-19 dalam suatu kondisi yang sudah sangat memburuk, dimana Ara dan kawan lainnya merujuk ke rumah sakit, begitu sampai di rumah sakit, pasien ditolak karena kapasitas rumah sakit sudah tidak mumpuni menerima jumlah pasien covid-19 rawat inap. Sehingga Ara dan kawan lainnya merujuk kerumah sakit lain dengan proses negosiasi panjang, barulah pasien diterima dan mendapatkan kamar rawat inap.

“Paling tidak kita bisa memahami bahwa penderita covid-19 sangat butuh dukungan psikis, ketika stigma menjadi luka yang kedua kali selain covid-19 itu sendiri.”Tutur Ara Wiraswara.

Lutfi Kurnia atau akrab disapa kang Uut menyebut pada dasarnya bencana selalu menghadirkan korban bagi manusia, jika tidak menghadirkan korban kepada manusia, maka mungkin semua orang bersikap biasa saja. Rumus jitu yang bisa dilakukan menghadapi bencana adalah menghitung resiko bencana sama dengan bahaya di kali kerentanan dan menganalisa kekuatan kapasitas (sumber daya manusia). “Jadi hal terpenting disini yang perlu dipahami adalah bagaimana kita bisa mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk terlibat mengurangi resiko bencana tersebut.” Tutur Luthfie Kurnia.

Tiga fokus utama yang dilakukan komunitas Temanco saat ini fokus pada pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Dari sisi kesehatan yaitu melakukan advokasi kesehatan maupun memberikan dukungan psikis kepada para penyintas covid-19 maupun pasien covid-19, selain itu pendidikan dimana Temanco menghadirkan sosialisasi kesehatan kepada anak-anak dan juga publik luas, selain itu juga pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh Temanco dengan membuka gerai pangan Gratis dengan konsep subsidi dimana warga komplek yang memiliki uang lebih bisa menyumbangkan bahan pangan dan bahan pangan tersebut bisa diambil oleh warga yang kurang mampu dan membutuhkan. Saat ini Temanco sudah memiliki 116 relawan yang terdiri dari lintas masyarakat.

Pada dasarnya tindakan diskriminasi hadir karena warga tidak memahami apa yang harus dilakukan jika terdapat warga yang terpapar covid-19 di lingkungan mereka. Inilah hal penting aktivitas temanco selama ini. Solidaritas kolektif atas inisiatif merupakan kekuatan sosial di masa bencana seperti pandemi ini yang sangat dibutuhkan masyarakat dan diperhitungkan perannya. Masa pandemi ini saling mendukung adalah kunci penanganan agar wabah bisa berakhir.