Home > Blog > #KotaKitaKovid Seri Kota Bekasi - Potret Pandemi dan Mobilitas Milenials Kota Bekasi

#KotaKitaKovid Seri Kota Bekasi - Potret Pandemi dan Mobilitas Milenials Kota Bekasi

“Bahwa stigma tentang penderita covid-19 memang terjadi, Dinas kesehatan kota Bekasi melihat bahwa ada rumah penderita covid-19 yang diberi garis police line. Padahal dukungan adalah hal terpenting yang harus diberikan. “Tutur Okta Mutiara. Kasi promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Bekasi.

Lebih lanjut bahwa menurut Abi Sutanrai dari Komunitas Bangun Kota menyadari bahwa dampak covid-19 bukan semata pada pasien, juga menerpa keluarganya. kondisi ini perlu menjadi perhatian serius di kalangan masyarakat.

Abi Sutanrai menunjukan bahwa hal menarik yang bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari milenials kota Bekasi adalah budaya ngopi dan nongkrong. biasanya milenials kota Bekasi sangat jarang ngopi pagi, dan lebih sering kita lihat sedang berdiri di stasiun kereta Bekasi karena akan bermobilitas ke Jakarta. saat terjadi PSBB karena pandemi covid-19, semua keadaan berubah. karena kantor-kantor biasanya menerapkan WFH dan model kerja shifting dan bahkan sebagian ada yang dipindahkan ke kantor cabang dekat Bekasi, sehingga tidak perlu bermobilitas sampai ke Jakarta.

Selain itu di Bekasi kebijakan pemerintah terkait pandemi adalah adanya jam malam, yang sebelumnya membatasi aktifitas jual beli sampai pukul 18:00 dan kini peraturan Walikota yang baru merevisi bahwa pukul 18:00 adalah batas orang membeli makanan dan makan ditempat, batas waktu tersebut hanya boleh membeli dengan cara “take away: lanjut Abid Sutanrai.

Selain itu hal menarik semasa pandemi di kota Bekasi adalah ada beberapa RW yang membuat satgas covid-19 level RW dan orang-orang yang berjaga-jaga. Karena memang waktu itu ada hadiah satu Milyar bagi RW pemenang ketahanan pandemi dan pangan. hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi warga untuk terus membantu menuntaskan kondisi pandemi di kota Bekasi. ini merupakan fase munculnya kesadaran kolektif masyarakat kota Bekasi.

Selain itu, Abi Sutanraai dan Rizki Dwika juga mempresentasikan hasil temuan penting dalam melihat mobilitas milenials kota Bekasi dalam bermobilitas di masa pandemi. Hal menarik yang dapat kita lihat adalah bahwa kasus infeksi tertinggi covid-19 di kota Bekasi menyerang rentan umur 20-59 tahun. Dari komposisi piramida penduduk tersebut bahwa generasi milenial menempati sebagian besar komposisi penduduk yang merupakan orang paling rentan terpapar covid-19 sejalan dengan tingginya tingkat mobilitas mereka.           

Perlu diketahui juga bahw daerah Bekasi merupakan penyumbang terbsar penglaju orang dari Bekasi ke Jakarta begitu juga sebaliknya. sehingga penting melihat konteks pandemi dari sudut  perilaku mobilitas kaum milenials. salah satu fakta menarik hasil survey ini juga memperlihatkan bahwa kondisi sebelum pandemi, biasanya milenials koa Bekasi lebih banyak menghabiskan waktu senang-seang di kota Jakarta dan di masa pandemi ini, sebagian besar mereka justeru lebih banyak menghabiskan waktu di Bekasi.

“Survey ini telah berhasil mengumpulkan 170 responden milenials dengan komposisi responden 85 laki-laki dan 85 perempuan. Sebagian mereka tinggal di 42 kelurahan dari total kelurahan yang ada di Bekasi sebanyak 56 kelurahan sehingga cakupan survey ini sebesar 75 persen wilayah Bekasi. selain itu Responden tertinggi di tempati oleh Bekasi Utara,dan juga Rawalumbu dan responden paling sedikit adalah Bantargebang.”Tutur Riki Dwika.

Lebih dari 50 persen responden adalah karyawan swasta milenial yang bekerja di wilayah Jakarta Selatan 38,8 persen, kemudian Jakarta Pusat 25.3 persen dan disusul Jakarta Timur sebesar 23.5 persen dan Jakarta Barat 7.1 persen. sebagian penglaju adalah karyawan BUMN sebesar 7 persen, wirausaha 5 persen, Aparatur Sipil Negara 15 persen, Freelance 9 persen dan lainnya sebanyak 5 persen.

berdasarkan data kuesiner memperlihatkan bahwa titik-titik keberangkatan kaum milenials bermobilitas dan juga sebagai titik paling dominan adalah stasiun Bekasi sebesar 63 persen, kemudian diikuti stasiun Kranji 21 persen, dan stasiun Bekasi Timur 2 persen dan kategori lainnya 4 persen. sementara pemetaan titik keberangkatan penglaju dengan bus antar kota sebagian besar di Sumarecon Bekasi sebesar 13 persen, daerah Harapan Indah 10 persen GT Giant Bekasi 8 persen  Bekasi Barat 10 persen terimnal Bekasi 5 persen, Kali Malang 5 persen dan Jati Bening 4 persen.

Selain itu fakta menarik lain adalah bahwa mobilitas milenial ke Jakarta yang tergolong tinggi memperlihatkan sebuah perubahan pada kondisi sebelum pandemi dan pada saat pandemi. Para responden yang sebelum pandemi menggunakan KRL sebesar 34.7 persen sementara pada saat kondisi pandemi menurun menjadi 12.4 persen. begitu juga dengan Pengguna transjakarta pada saat sebelum pandemi 11.2 persen dan pada saat kondisi pandemi 2.9 persen.

Frekuensi Titik Keberangkatan responden Milenials Kota Bekasi

Selain itu angkutan umum seperti angkot dan atau bus non-transjakarta sebelum pandemi sebesar 8.2 persen dan pada saat kondisi pandemi 3.5 persen, sementara penggunaan transportasi online pada saat kondisi sebelum pandemi 3.5 persen berubah pada saat kondisi pandemi menjadi 2.4 persen. Hal menarik yang terjadi perubahan sangat signifikan adalah penggunaan transportasi pribadi  yang kondisi sebelum pandemi  sebesar 34.7 persen meningkat pada saat kondisi pandemi menjadi 40.6 persen dan sebelihnya responden milenials menjawab kerja dari rumah sebesar 19.4 persen.

Kondisi di atas juga merupakan implikasi dari sebagian besar  milenials kota Bekasi merasa khawatir dengan kondisi pandemi ini dan merasa takut menggunakan transportasi umum. Selain itu, fakta aktifitas milenials yang penting diketahui adalah aktifitas mencari tempat hiburan. Pada saat kondisi sebelum pandemi waktu bersenang-senang lebih banyak dihabiskan di Jakarta dengan intensitas  skala 4.0  namun ketika menghadapi kondisi pandemi sebagian responden milenial kota Bekasi menghabiskan waktu menikmati hiburan lebih banyak di kota Bekasi sendiri dengan skala 2.1 yang berarti sebagian responden menjawab Kota Bekasi.

Frekuensi Milenials Memanfaatkan Waktu Hiburan di Bekasi dan Jakarta

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa kekhawatiran warga milenial kota Bekasi di masa pandemi memiliki perubahan perilaku yang sangat terkait dengan mobilitas mereka sehari-hari. Pasalnya studi milenials menjadi daya tarik tersendiri dimasa pandemi karena tingkat mobilitas mereka begitu tinggi. Dengan kondisi ini juga mereka merupakan kelompok rentan terpapar dan juga menjadi kelompok rentan pemapar kepada kelompok lainnya. Tentunya studi ini juga dapat menjadi rujukan kebijakan mobilitas warga kota milenial Bekasi.dalam bermobilitas.