Home > Blog > #KotaKitaKovid Seri Kota Banjarmasin - Diskusi Publik “Banjarmasin Zona Hijau, Aman Kah?”

#KotaKitaKovid Seri Kota Banjarmasin - Diskusi Publik “Banjarmasin Zona Hijau, Aman Kah?”

Selama pandemi Covid-19, sistem zonasi wilayah diterapkan sebagai salah satu indikator status kesehatan wilayah. Zona hijau menandakan wilayah yang tidak memiliki penambahan kasus Covid-19 baru dan resiko penularan kecil, zona kuning menandakan wilayah dengan peningkatan kasus sedikit dan penularan rendah, zona oranye menandakan wilayah dengan jumlah kasus relatif banyak dan resiko penularan relatif tinggi, dan zona merah menandakan wilayah dengan jumlah kasus banyak dan resiko penularan tinggi.

Dalam kurun beberapa waktu, Kota Banjarmasin sebagai salah satu kota besar di Kalimantan sempat berstatus zona merah dan menjadi kota dengan kasus terbanyak di Provinsi Kalimantan Selatan. Kini, warna itu kian memudar. Kota Banjarmasin kembali menyandang status ‘hijau’ yang dianggap memiliki resiko penularan kecil dan aman. Lalu yang menjadi pertanyaan, apa penyebab kembalinya status Kota Banjarmasin menjadi hijau? Apakah status zonasi hijau bisa dikatakan aman?

Untuk mengetahuinya, dalam kegiatan #KotaKitaKovid serial Kota Banjarmasin menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Banjarmasin Zona Hijau, Aman Kah?”. Selain menguraikan kondisi dan status zonasi wilayah Kota Banjarmasin. Diskusi juga mengangkat materi tentang inisiatif atau solidaritas warga Banjarmasin menghadapi pandemi.

Materi pertama di sampaikan oleh dr. Siti Wasilah, M.Si Med. Selaku penggagas Kolaborasi Banjarmasin, ia menyampaikan terbentuknya inisiatif dan pelaksanaan Gerakan Kolaborasi Banjarmasin berlangsung. Kolaborasi Banjarmasin merupakan solidaritas warga yang muncul sebagai inisiatif menghadapi permasalahan sosial selama pandemi Covid-19. Dalam praktiknya, solidaritas ini terbentuk secara kolaborasi bersama warga, organisasi atau lembaga-lembaga dan pemerintah di Banjarmasin. Sebagai gerakan yang muncul atas respon permasalahan sosial selama pandemi. Gerakan kolaboratif melakukan beberapa upaya untuk mengentaskan masalah sosial yang ada, seperti memberikan edukasi seputar Covid-19 dan protokol pencegahannya, menggalang dan mendistribusikan donasi untuk di bagikan ke warga, memberdayakan UMKM di Kota Banjarmasin dalam pembuatan masker untuk di distribusikan gratis ke warga dan memberikan bantuan harian langsung dengan menyediakan dapur umum kampung di 52 Kelurahan Kota Banjarmasin.

Setelah pemaparan pertama tentang inisiatif warga Kota Banjarmasin. Dr. Machli Riyadi, S.H., M.H selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin menyampaikan presentasi berjudul Respon dan Kewaspadaan Satgas Covid-19 Banjarmasin Untuk Zona Hijau. Di awal ia mengungkap perdebatan kriteria zonasi di tiap wilayah yang berbeda-beda. Sebagai negara hukum, kepastiasi rujukan dalam menentukan kriteria zonasi menjadi penting. Urgnesi kepastian krtiteria zonasi, berguna untuk menentukan langkah dan respon terhadap situasi yang tidak menentu secara terukur. Untuk mendapatkan kepastias hukum terkait zonasi, Keputusan Menteri Dalam Negri No: 440-830/2020 dan terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negri No 440-842/2020 dijadikan sebagai acuan dalam menentukan kriteria zonasi.

Sebagai kota yang dilewati banyak sungai. Pemerintah Kota Banjarmasin melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan dampak Covid-19 baik melalui darat maupun air. Sejak februari 2020, upaya pencegahan dilakukan dengan bekerjasama dengan Puskesmas melakukan skrining terhadap mahasiswa yang baru datang dari Wuhan. Dalam paparannya terkait kronologi kasus Covid-19 di Banjarmasin, ia mengakui bahwa Kota Banjarmasin kecolongan dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Di awal pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, Kota Banjarmasin sempat menjadi wilayah dengan kasus kematian tertinggi akibat Covid-19. Di bulan Juni 2020, seluruh Kelurahan di Kota Banjarmasin memasuki zona merah Covid-19. Namun, status ini kian lama kian memudar. Di bulan Desember 2020, 41 Kelurahan di Kota Banjarmasin mulai memasuki zona hijau dan 11 Kelurahan memasuki zona kuning, tanpa adanya zona merah. Namun, ia mengakui bahwa zona hijau tak menjamin wilayah tertentu bebas dari resiko penularan Covid-19.

Dr. dr. H. M. Rudiansyah, MKes, SpPD, K-GH, FINASIM selaku Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Kalimantan Selatan menyampaikan materi terakhir. Sebagai seorang dokter, ia menyampaikan materi secara normatif seperti menjelaskan definisi baru Covid- 19, pengertian istilah new normal atau adaptasi kebiasaan baru, dan pentingnya menjaga protokol kesehatan Covid-19. Terutama, ia menegaskan, status hijau wilayah Kota Banjarmasin bukan jaminan bahwa kota ini terbebas dari ancaman Covid-19.