Home > Blog > Kota dan Air: Upaya warga Muara Angke memenuhi kebutuhan air

Kota dan Air: Upaya warga Muara Angke memenuhi kebutuhan air

Air menjadi sumber kehidupan fundamental bagi mahluk hidup, termasuk manusia. Hal ini bukan dikarenakan fakta bahwa manusia membutuhkan minum saja. Akan tetapi fakta bahwa segala kegiatan dan aktivitas manusia tidak bisa terlepas dengan air seperti cuci, mandi, bahkan sampai memasak. Oleh karena itu, air dan akses terhadanya merupakan hak asasi manusia yang sudah seharusnya difasilitasi.

                Di era pandemik seperti sekarang, kebutuhan manusia akan air semakin nyata terasa. Bagaimana tidak, protokol kesehatan yang mengharuskan orang-orang mencuci tangan dan tetap menjaga kebersihan badan mengharuskan penggunaan air. Namun nyatanya, masih banyak orang-orang yang belum mendapatkan air dengan mudah dan layakan, contohnya seperti kasus yang dialami oleh Muslimin, salah satu warga Muara Angke, Jakarta.

                Muara Angke, merupakan salah satu wilayah pesisir yang berada di Utara Jakarta. Secara demografi, para penduduknya menghasilkan pendapatan dari hasil laut, mulai dari nelayan, pedagang ikan asin, dll. Muslimin sebagai perantau dari Sumatra yang mencari peluang di Jakarta, sejak awal kedatangannya di tahun 90’an telah menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Ia mengisahkan perjalanan hidupnya, dimana sejak permulaan ke Jakarta ia berjualan dan menjadi pemasok ikan,  khususnya bandeng dan udang dari Sumatra. Setelah 10 tahun, sejak kedatangannya ke Jakarta, ia pun mulai memiliki hunian tetap di Blok Eceng, salah satu kampung di Muara Angke.

                Selama tinggal di Muara Angke, ia menceritakan, bahwa perkara air selalu menjadi persoalan. Situasi Muara Angke yang dekat pesisir, dan ketiadaan akses air dari perusahaan air mengharuskan warga Muara Angke untuk membeli air dari para pemikul. Tuturnya, air di Muara Angke bagaikan barang mewah, ia pun mengibaratkan kalau warga diharuskan kaya untuk sekedar memenuhi kebutuhan airnya sehari-hari.

                Muslimin sendiri menjelaskan, bahwa dalam sebulan ia mengeluarkan Rp. 500.000 untuk sekedar membeli air guna kebutuhan konsumsi. Jika dihitung dengan kebutuhan mandi, dan mencuci, Muslimin menghabiskan Rp. 1.000.000/bulan, hanya untuk air.

"…untuk minum ya mungkin sudah pake air galon semua yah, cuman untuk kebutuhan masak kita pake air pikulan. Kebutuhan air terbesar itu di cuci mandi. Kalo buat masak kan 1 pikul itu 40 liter bisa buat makan sehari semalem…tapi kalo kita gunakan untuk cuci, makan, mandi, dan segala macem., nah kita itu minimal menggunakan air bisa 5 pikul, minimal 3 pikul. nah kita satu pikul 5 rb yah, artinya kalo kita ambil angka kecilnya aja 3 pikul berarti sehari 15 rb. Lalu kita kalikan 30 hari angkanya bisa mencapai 450 rb/bulan. itu pun pemakaian dengan seirit-irit mungkin. kalo kita ambil 5 pikul 25 rb, artinya angkanya di 750 rb. jadi mangkannya bisa sampe 1 jt, kalo yang anaknya banyak yaa sudah dipaksa kaya kita" (Muslimin)

 Warga tempat tinggalnya, sempat membuat air resapan dengan melakukan pengeboran selama 1 meter. Namun, air yang muncul tidak begitu layak dan berminyak. Melihat kondisi ini, Muslimin dan tetangganya pun mencoba membuat sumur bor satelit, dimana sumur bor ini memiliki ke dalaman sampai berpuluh-puluh meter. Karena biaya yang diperlukan cukup besar, secara mandiri warga mencari dan mengajukan proposal ke perusahan-perusahaan untuk mendapat bantuan dana pengadaan sumur bor satelit.

                Warga pun mendapatkan bantuan dari Perusahan Nusantara Regas untuk pengeboran dan pengadaan toren air. Sisanya, warga membiayai dirinya secara swadaya. Kehadiran sumur bor satelit ini pun mengurangi pengeluaran warga untuk air sampai. Walau demikian, kapasitas sumur yang terbatas menyebabkan distribusi air yang terbatas, hanya kepada 70 rumah.

                Kala pandemi, Blok Eceng bersama Rujak Center for Urban Studies mengupayakan pengadaan air bersih bagi warga kampung melalui pengadaan westafel dan kios air. Walau wastafel sudah berjalan beberapa waktu, namun, kios air mangkrak di tengah jalan akibat beberapa persoalan di internal warga. Kini, dikondisi pandemik, warga pun masih mengandalkan air pikulan sebagai cuci dan mandi, serta air galon isi ulang untuk kebutuhan konsumsi.     

            Muslimin pun, yang kampungnya saat ini sedang dalam proses penataan kampung, hanya berharap bahwa melalui proses penataan ini nantinya warga Muara Angke akan mendapatkan akses air dengan layak.

"Kalo kita sih bersama kawan kawan JRMK telah melakukan berbagai upaya yah, tapi kendalanya balik lagi ke pihak PAM sebagai pengelola air bersih. Dari Palyja juga yang rencananya mau melakukan pipanisasi itu ujung ujungnya mereka itu mentok di pihak PAM...kalo kita di izinkan pasti akan berjalan, tapi kalo yang atas belum memberikan izin nah kita belum bisa jalan. nah itu yang kita tunggu sampai saat ini, dan kita sungguh terlalu lama menunggu, kita sudah melakukan bor bor segala macem dan kita mungkin peluangnya ada di penataan kampung ini. karena tidak mungkin juga pemerintah menata kampung ini tanpa fasilitas air bersih..." (Muslimin)