Home > Blog > Kebunku

Kebunku

Berawal dari Solidaritas Pangan Jogja (SPJ) yang diinisiasi oleh para aktivis, mahasiswa, media, seniman, dan warga kampung di Yogyakarta, membuat dapur umum menyikapi pandemi Covid-19 yang ditetapkan pemerintah propinsi melalui SK Gubernur DIY tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19, dari 20 Maret – 29 Mei 2020. Kebijakan tersebut langsung membuat para pekerja informal yang bekerja hari ini untuk hidup hari ini juga, terancam kehidupannya karena harus tinggal di rumah saja.

Hal ini yang membuat Solidaritas Pangan Jogja bergerak untuk mendirikan dapur-dapur umum, memasak 700-800 nasi bungkus di masak dari 12 dapur setiap hari dan membagi-bagikan makan siang tersebut di kampung dan komunitas pemulung, kampung pinggiran, pekerja informal di pasar tradisional, baik tukang becak, pengemudi ojek online, pengamen, pemulung, buruh gendong perempuan, dan juga kepada mahasiswa yang belum sempat pulang kampung dan “terjebak” di Yogyakarta.

Donasi dari mana-mana masuk untuk mendukung SPJ, baik dari personal maupun dari lembaga dan organisasi-organisasi rakyat, salah satunya adalah PPLP-Kulon Progo (Paguyuban Petani Lahan Pantai). PPLP-Kulon Progo rutin menyumbang sayuran sebanyak satu mobil pick up setiap hari Kamis. Bantuan berupa sayur-mayur hasil panen mereka ini kemudian akan diambil oleh beberapa relawan dari SPJ, untuk lalu didistribusikan ke dapur-dapur SPJ.

Di satu waktu sehabis mengambil sayuran dari PPLP, kami ngobrol-ngobrol santai di salah satu dapur SPJ. Tiba-tiba tercetus gagasan dari kawan WALHI Yogyakarta untuk membuat pertanian lahan sempit atau lebih dikenal dengan pertanian perkotaan. Ide tersebut langsung saya respon cepat, dengan mengusulkan salah satu lahan pekarangan belakang di Sekretariat Nasional Gusdurian di wilayah timur Kota Yogyakarta.

Saya coba menghubungi kawan disana untuk menyampaikan ide tersebut. Mereka menjanjikan akan meneruskan gagasan dan permohonan itu dalam koordinasi Gusdurian. Keesokan paginya, saya mendapatkan konfirmasi melalui pesan WA bahwa kawan-kawan Gusdurian memberi lampu hijau.

Tak perlu lama menunggu, kami langsung berangkat untuk melihat lahan yang direncanakan. Namun, setelah melihat langsung di lokasi, jujur kami merasa agak “awang-awangen” (tidak percaya diri), membayangkan usaha yang harus dilakukan untuk membuka lahan seluas kurang lebih 400m2 yang dipenuhi belukar dan ilalang tersebut. Kami lalu punya ide menggunakan jasa buruh tani untuk membuka lahan awal.

Setelah lahan siap, kami mulai membuat bedeng. Pada pertengahan Mei 2020, kami mulai menyemai tanaman pangan yang bervariasi. Ada tanaman jangka panjang seperti singkong yang bisa dipanen setelah 7 bulan. Kami juga menanam pisang dan pepaya.

Untuk jenis tanaman jangka menengah, kami menanam tomat, cabe, terong yang diperkirakan akan bisa dipanen pada setiap 2,5 bulan sampai 3 bulan. Kemudian, jenis tanaman jangka pendeknya yang kami tanam, meliputi bayam, kangkung, dan sawi hijau yang bisa dipanen setelah 2 minggu sampai 20 hari.

Ternyata, proses tidak semulus yang kami bayangkan. Semaian awal bayam dan kangkung terlalu rapat, sehingga pertumbuhan tidak maksimal, Kami coba ulangi lagi proses penyemaian dengan cara lain yang kami pelajari dari saran petani wilayah lain. Namun, cara baru itu tidak berhasil juga. Hingga 3-4 kali praktik, baru kemudian kami tahu sendiri caranya. Begitu pula dengan bayam yang benihnya sangat lembut, sehingga beberapa kali tanam selalu gagal panen dengan maksimal.

Namun demikian, dinamika kebun menjadi sangat menarik untuk dipelajari bersama. Sebabnya, dari semua pegiat kebun ini, memang tidak ada yang punya latar belakang pengalaman dan ilmu petani. Sejak saat itu, setiap pagi dan sore kami menyiram kebun secara rutin. Banyak kawan berdatangan berebut untuk menyiram setiap sore. Kebun yang kemudian kami beri nama “KebunKu” ini bisa membahagiakan banyak orang.

Masuk bulan pertama, KebunKu menghasilkan panen kangkung, bayam, dan sawi hijau. Sayur hasil panen itu langsung kami salurkan ke 2-3 dapur SPJ. Sampai di sini, kami menyadari bahwa sangat tidak mungkin dengan lahan KebunKu yang sempit ini mampu untuk menyuplai kebutuhan sayur 12 dapur SPJ.

Akhirnya, kami berpandangan untuk lebih menjadikan KebunKu sebagai sarana berbagi ilmu. KebunKu kami siapkan agar bisa lebih menginspirasi lebih banyak orang dengan membebaskan kunjungan untuk praktik pertanian kota bersama. Mulailah berdatangan lebih banyak orang ke KebunKu untuk melihat proses, terlibat kegiatan, dan bergabung bersama.  Beberapa acara baru kami buat, seperti panen, masak, dan makan bersama di KebunKu setiap hari Minggu sore.

Sembari kerja bakti membersihkan dan merawat tanaman, semua peserta dapat berbagi pengalaman. Tidak hanya anak muda, ada pula kelompok ibu dari beberapa kampung di Yogyakarta yang juga datang untuk ikut panen, memetik sendiri, sambil berdonasi, hingga mempelajari kemungkinan replikasi di kampung masing-masing.

Tidak hanya kami bagikan ke dapur-dapur SPJ, hasil panen juga diberikan kepada warga sekitar KebunKu. Kami membagi sayur ke kampung pemulung tak jauh dari KebunKu. Kami juga bagikan hasil panen kepada perkumpulan ibu-ibu kampung dari Bantul yang sengaja datang setelah membaca undangan terbuka KebunKu dari media sosial. Kami juga membagikan bibit tanaman pangan dalam bentuk polybag agar warga bisa mengambil dan merawatnya di rumah dan kampung masing-masing.

Seiring proses KebunKu tersebut, muncul lebih banyak ide liar yang sederhana sekali. Ya… sangat sederhana, misalnya tanaman depan rumah warga di Yogyakarta, mayoritas adalah tanaman hias atau bunga. Di setiap depan rumah warga, baik yang mempunyai halaman luas maupun yang punya halaman secuil sekalipun, warga tetap menanam tanaman bunga dengan pot, polybag, atau bahkan dengan botol air mineral yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi pot bunga.

Ada banyak model dan inovasi bercocok tanam yang warga Yogyakarta tempatkan di depan rumah mereka. Dari situ, kami mengandaikan apabila tanaman bunga-bunga tersebut diganti dengan tanaman pangan, pasti akan sangat mungkin menjadikan warga lebih mampu mencukupi kebutuhan sayur mayurnya.

Sebabnya, dari segi keindahan pun, tanaman sayur itu tidak kalah menarik dengan tanaman bunga. Cabe, terong, maupun tomat dalam pot saat sedang berbuah, sama indahnya tanaman bunga saat berbunga. Hal yang membedakan hanyalah saat kita terbiasa menanam sayuran atau tanaman pangan, kesiapan menghadapi wabah, warga sudah terlatih untuk siap dengan sumber bahan pangan.  Seperti saat ini, ketika Covid-19 tiba-tiba menyerang bumi tanpa beri waktu kepada manusia untuk bersiap-siap terlebih dahulu.

Ada banyak pelajaran bagi kita semua, baik warga maupun pemerintah, dari kejadian pandemi Covid-19 yang tidak diketahui kapan akan berakhir. Warga harus memilih untuk mampu berdaulat atas pangannya, sehingga saat krisis melanda tidak akan khawatir kelaparan karena bantuan Negara yang telat atau tidak tepat sasaran.

Pemerintah juga harus tegas mengeluarkan regulasi terkait kedaulatan atas pangan warga. Pemerintah sudah harus berpikir “memaksa” warga untuk mandiri, untuk berdaulat atas pangannya, tidak lagi dan lagi selalu mempermudah rakyat dengan (hanya) memberikan bantuan tunai. Kita semua tidak tahu pasti sampai kapan keuangan negara mampu menanggung kehidupan seluruh warga dengan bantuan tunai tersebut.

Selain itu, sebenarnya bantuan tunai yang ada juga berdampak tidak mendidik warga jika tidak diimbangi dengan perubahan mendasar jangka panjang, walaupun memang skema perlindungan sosial memang sudah menjadi tanggung jawab Negara.

Sepandai-pandainya tupai melompat, itu pakai latihan juga…

#KebunKu

#MenanamKarenaBenar

#RakyatBantuRakyat