Home > Blog > Kampung Wisata Kala Pandemi: Secuplik Bali dari Kota Bekasi

Kampung Wisata Kala Pandemi: Secuplik Bali dari Kota Bekasi

“Sembilan bulan sudah kita mencoba bertahan di rumah. Menjaga diri dan keluarga dari paparan wabah. Meski satu negeri dirundung kondisi yang serbasusah. Selalu ada berkah terselip di balik suatu musibah.”

Di tengah kondisi pandemi yang tidak tahu kapan dan di mana ujungnya ini, sebuah potensi justru lahir dari sebuah kampung di Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Merpati RT 011 RW 009, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara. Kampung tersebut sedang diprogramkan oleh Pemerintah Kota Bekasi sebagai tujuan destinasi wisata baru lantaran keunikannya yang bernuansa Bali, mulai dari ornamen pada rumah-rumah penduduk hingga keberadaan sanggar-sanggar seni di kampung tersebut.

“Penemuan” kampung ini berawal dari Pemerintah Kota Bekasi yang mengadakan lomba RW siaga di masa pandemi. Lomba ini berhadiah insentif pembangunan sarpras senilai satu miliar rupiah ini, di mana setiap RW pemenang dinilai atas tiga kriteria, yakni RW Siaga Zero Covid-19, RW Siaga Zero Criminal, dan RW Siaga Ketahanan Pangan. Kegiatan yang dibuat dalam rangka menanggulangi dampak pandemi ini diikuti oleh banyak RW se-Kota Bekasi, termasuk para warga yang tinggal di Jalan Merpati ini.

Semula warga Kampung Bali mempersiapkan kampung mereka untuk kategori lomba RW Siaga Ketahanan Pangan. Mereka lantas mengelola tanaman hidroponik hampir di setiap rumah serta budidaya ternak lele. Pada saat wilayah mereka ditinjau untuk dinilai, tim asesor justru menemukan keunikan pada lingkungan rumah warga di Jalan Merpati. Kebanyakan rumah di gang tersebut memiliki pagar yang berbentuk gapura bata dengan pohon kamboja dan kelapa yang rindang seperti suasana Bali. Dari sanalah muncul ide untuk mem-branding kawasan RT tersebut menjadi kampung tematik bertemakan Bali.

Nuansa Bali yang kental memang amat terasa begitu memasuki area RT 011. Penduduk setempat merenovasi setiap rumahnya dengan arsitektur bergaya Bali, baik di pagar maupun di teras masing-masing rumah. Jalan lingkungan warga juga dipenuhi dengan ornamen khas Bali, seperti patung, payung, serta kain poleng yang dipasang di pohon. Kesan ini bertambah kuat begitu sanggar tarian Bali yang berada di sana mulai melakukan latihan atau pertunjukan. Dengan iringan musik gending yang kencang, pengunjung yang datang ke kampung tersebut dibuat lupa, seolah-olah mereka sedang berada di Pulau Dewata.

Hal ini bukanlah suatu kesengajaan, melainkan memang telah berlangsung sejak lama. Semenjak 1980 hingga 1990-an, banyak pendatang dari Bali yang tinggal di kawasan belakang Pasar Seroja, tepatnya di Jalan Merpati wilayah RT 011 RW 009. Semakin lama, jumlah pendatang asal Bali yang bermukim di sana pun jumlahnya semakin bertambah, bahkan hingga mencapai tujuh puluh persen dari total warga di RT tersebut. Saking banyaknya, wilayah RT tersebut terkenal oleh warga sekitar dengan julukan Jalan Merpati Bali.

Potensi yang ada di lingkungan RT 011 ini langsung dilirik oleh pemerintah kota. Saat Kota Bekasi tengah menjalankan PSBB transisi di awal September silam, dinas pariwisata setempat mendorong Kampung Bali menjadi salah satu destinasi kampung wisata di Kota Bekasi. Sebelumnya, kampung tematik bertema etnis lainnya juga telah dipersiapkan oleh pemerintah kota yaitu Kampung Betawi. Kedua kampung ini sedang dipersiapkan sebagai destinasi wisata baru di mana nantinya pengunjung akan tidak hanya disuguhkan penampilan kesenian saja, tetapi juga didorong dengan pelibatan sektor ekonomi kreatif lainnya seperti kerajinan, kuliner, dan sebagainya. Lewat penuansaan yang dibuat secara total, pengunjung yang datang ke sana akan betul-betul merasakan atmosfer Bali di tengah-tengah Kota Bekasi.

Kemunculan kampung-kampung tematik bertemakan etnis seperti Kampung Bali di Kota Bekasi dapat dilihat sebagai bentuk kreativitas warga kampung yang resisten di tengah gempuran dampak yang ditimbulkan wabah Covid-19. Alih-alih mengikuti tren membuat kampung yang serba warna-warni, warga setempat (secara tidak sengaja) berhasil mengeksplorasi potensi yang mereka miliki sendiri yakni banyaknya pendatang yang mayoritas berasal dari Bali. Hal ini juga sedikit menggambarkan karakteristik Kota Bekasi yang merupakan melting pot bagi para pendatang dari berbagai penjuru wilayah Indonesia.

Melalui dorongan dan bantuan promosi dari pemerintah kota, warga Kampung Bali bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan cara ‘menjual’ lingkungan tinggalnya. Selain menjadi tujuan wisata alternatif bagi warga Bekasi untuk menghilangkan penat, upaya yang dilakukan oleh warga Kampung Bali Bekasi ini bisa dipelajari sebagai cara mewujudkan kemandirian ekonomi warga kampung kota meski di tengah keterbatasan suasana pandemi saat ini.