Home > Blog > Jatuh Bangun Kota Pahlawan di Masa Pandemi

Jatuh Bangun Kota Pahlawan di Masa Pandemi

Peta Kasus Covid-19 (April-Juni 2020) Kota Surabaya
Sumber: www.lawancovid-19.surabaya.go.id

Hampir 9 bulan berlalu sejak awal Maret 2020 Indonesia dihadapkan dengan krisis di hampir seluruh sektor disebabkan oleh pandemi COVID-19. Dalam beberapa minggu di bulan Juni dan Juli, Provinsi Jawa Timur sempat menyumbang angka kasus positif COVID-19 harian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data yang terdapat dalam website milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yaitu infocovid-19.jatimprov.go.id, pada hari Minggu (05/07/2020) jumlah penambahan kasus positif COVID-19 di Provinsi Jawa Timur mencapai 552 kasus. Jika diakumulasikan, total kasus positif COVID-19 di Jawa Timur adalah sebanyak 14.031 kasus. Dengan demikian, Jawa Timur menempati posisi paling atas Provinsi dengan angka kasus positif COVID-19 tertinggi di Indonesia. Dilihat lebih jauh lagi pada Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya memiliki kasus positif COVID-19 paling tinggi dan tertinggi kedua di Indonesia setelah Provinsi DKI Jakarta dengan total kasus positif sebanyak 6.465 kasus pada bulan Juli. Selain itu, di November 2020, ternyata angka kematian dokter di Provinsi Jawa Timur adalah yang tertinggi se Indonesia, dengan total 33 dokter (data 3 November 2020). Lalu apa yang sebenarnya menyebabkan Kota Surabaya memiliki kasus positif yang sangat tinggi?

Terdapat beberapa faktor yang diduga mempengaruhi pertambahan kasus Covid-19 di Kota Surabaya. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah kepadatan penduduk, persebaran RW Kumuh serta jumlah manula per kelurahan di Kota Surabaya. Kepadatan penduduk di suatu wilayah diduga berperan terhadap pertambahan kasus Covid-19. Asumsi yang menyertai praduga tersebut ialah semakin padat penduduk di suatu wilayah maka probabilitas penularan Covid-19 semakin besar karena kemungkinan terjadi kontak antarindividu di wilayah tersebut lebih tinggi. 

Berdasarkan artikel yang dipublikasikan oleh World Bank, kepadatan penduduk tidak menjadi faktor utama dalam penyebaran Covid-19 di China. Kota-kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi (>10.000 jiwa/km2) seperti Shanghai dan Beijing memiliki kasus Covid-19 yang lebih rendah daripada kota-kota dengan kepadatan lebih rendah (5.000 – 10.000 jiwa/km2) seperti Xinyang dan Zhumadian. Kondisi di China tersebut dipengaruhi oleh faktor ekonomi, dimana kota-kota dengan kepadatan tinggi ditinggali oleh penduduk yang memiliki kemampuan ekonomi yang lebih tinggi sehingga dapat bertahan hidup selama lockdown. Di sisi lain, kepadatan penduduk memiliki pengaruh terhadap penyebaran virus MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus) di Arab Saudi pada tahun 2012 (Sumdani, Frickle, Le, Tran, & Zaleta, 2014). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Kota Surabaya merupakan daerah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Provinsi Jawa Timur yaitu sebanyak 8.233 jiwa/km2. Angka tersebut masih jauh di bawah angka kepadatan penduduk Kota-Kota di DKI Jakarta. Seperti halnya kepadatan penduduk tertinggi di DKI Jakarta terdapat pada Jakarta Barat yang memiliki angka kepadatan penduduk sebanyak 19.516 jiwa/km2. Akan tetapi Kota Surabaya memiliki jumlah kasus positif COVID-19 lebih tinggi bahkan jika dibandingkan dengan Jakarta Barat. Pada kasus yang terjadi pada Kota Surabaya dan DKI Jakarta ini, perbandingan kasus positif COVID-19 di dua Kota tersebut tidak bisa dikorelasikan dengan kepadatan penduduk.

Kumpulan peta-peta di atas merupakan peta kasus positif COVID-19 di Kota Surabaya (time series) dari awal bulan April 2020 hingga akhir bulan Juni 2020. Dapat dilihat dengan jelas bahwa pada tanggal 01 April 2020 kasus positif di Surabaya hanya berkisar di angka 1-5 kasus dengan total kasus positif sebanyak 41 kasus yang tersebar di 28 kelurahan. Akan tetapi masih banyak kelurahan yang memiliki 0 kasus yaitu sebanyak 126 kelurahan. Penambahan kasus positif terus berlanjut hingga pada akhir bulan April, kasus positif COVID-19 di Kota Surabaya tercatat sebanyak 394 kasus dengan kasus tertinggi ada pada kelurahan Keputran mencapai angka 35 kasus. Dengan selisih waktu selama satu bulan, pada tanggal 27 Mei 2020 diketahui sebanyak 2.216 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi dengan kasus positif terbanyak ada pada kelurahan Kemayoran yaitu sebanyak 126 kasus. Kelurahan Kemayoran tetap menjadi kelurahan dengan kasus positif tertinggi di Kota Surabaya pada tanggal 28 juni 2020 dengan kasus sebanyak 153 kasus dari total kasus positif COVID-19 di Kota Surabaya sebanyak 5.510 kasus. Angka tersebut melonjak tinggi lebih dari dua kali lipat kasus pada bulan Mei.

Sama halnya dengan kepadatan penduduk dengan penyebaran Covid-19 di Jakarta, kepadatan penduduk di Surabaya sendiri tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertambahan kasus Covid-19 di Kota Surabaya. Kelurahan dengan jumlah kasus Covid-19 lebih dari 120 kasus yaitu Kelurahan Kali Rungkut di Kecamatan Rungkut, Kelurahan Mojo di Kecamatan Gubeng dan Kelurahan Tanah Kali Kedinding di Kecamatan Kenjeran. Ketiga kelurahan tersebut memiliki kepadatan rendah hingga sedang, dimana Kelurahan Kali Rungkut memiliki kepadatan  8.440 – 17.796 jiwa/km2 dan Kelurahan Mojo dan Kelurahan Tanah Kali Kedinding memiliki kepadatan  17.796 – 28.839 jiwa/km2. Terdapat kelurahan dengan kepadatan penduduk tinggi (58.675 – 98.243 jiwa/km2) yaitu Kelurahan Pegirian dan Kelurahan Wonokusumo di Kecamatan Semampir serta Kelurahan Simokerto di Kecamatan Simokerto. Adapun diantara kelurahan tersebut yang memiliki jumlah kasus Covid-19 sebanyak 91 – 120 kasus yaitu Kelurahan Wonokusumo, sedangkan Kelurahan Pegirian memiliki kasus Covid-19 sedang (41 – 60 kasus) dan Kelurahan Simokerto memiliki jumlah kasus Covid-19 rendah (1 – 5 kasus).

Peta Kepadatan Penduduk dan Kasus Covid-19 per 28 Juni 2020 di Kota Surabaya
Sumber: BPS dan www.lawancovid-19.surabaya.go.id 

Permukiman kumuh diduga memiliki pengaruh terhadap pertambahan kasus Covid-19. Permukiman kumuh memiliki karakteristik kondisi sarana prasarana (jalan, drainase, air bersih, air limbah, persampahan) yang buruk  (Peraturan Menteri PUPR No. 2 Tahun 2016) sehingga penduduk yang tinggal di permukiman kumuh sulit untuk menerapkan protokol kesehatan penanganan Covid-19, salah satunya mencuci tangan karena sulitnya akses terhadap air bersih. Menurut artikel yang dipublikasikan oleh The Jakarta Post, Gavi, The Conversation dan The New Humanitarian, permukiman kumuh di Asia memiliki kerentanan tertular Covid-19 akibat tingginya kepadatan bangunan di permukiman kumuh serta minimnya kualitas sarana dan prasarana. Permukiman kumuh juga menghadapi tiga kerentanan seperti yang dijabarkan pada tulisan berikut. Berdasarkan penelitian di New Delhi mengenai permukiman kumuh dan pengaruhnya terhadap penyebaran virus influenza, virus memiliki probabilitas lebih tinggi untuk menular serta lebih cepat menyebar di permukiman kumuh. 

Adapun kasus di Kota Surabaya, RW Kumuh memiliki korelasi yang rendah terhadap pertambahan kasus Covid-19. Hal ini dapat dilihat pada gambar, dimana mayoritas RW Kumuh memiliki kasus Covid-19 yang rendah hingga sedang. Dari 107 RW Kumuh di Kota Surabaya, hanya sebanyak 5% atau 5 RW Kumuh yang memiliki kasus Covid-19 yang mencapai lebih dari 120 kasus dan 3% atau 3 RW Kumuh yang memiliki kasus Covid-19 sebanyak 91 – 120 kasus.  RW Kumuh yang memiliki jumlah kasus Covid-19 melebihi 120 kasus yaitu RW 03, RW 05, RW 06, RW 07 dan RW 11 di Kecamatan Gubeng. Sedangkan, RW Kumuh yang memiliki jumlah kasus Covid-19 sebanyak 91 – 120 kasus yaitu RW 02, RW 07 dan RW 08 di Kecamatan Semampir.

Peta RW Kumuh dan Kasus Covid-19 per 28 Juni 2020 di Kota Surabaya
Sumber: RPJMD Kota Surabaya Tahun 2016 - 2021 dan www.lawancovid-19.surabaya.go.id 

Faktor berikutnya yang diduga mempengaruhi pertambahan kasus Covid-19 yaitu jumlah manula di suatu wilayah. Menurut Pakar Geriatri UGM yaitu DR Probosuseno, manula rentan terhadap berbagai macam infeksi bakteri, virus, maupun penyakit termasuk Covid-19. Hal ini disebabkan oleh kapasitas organ tubuh manula dan imunitas tubuh yang mengalami penurunan. Selain itu, manula yang memiliki riwayat penyakit lain seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung atau penyakit lainnya, dapat mengalami komplikasi jika tertular Covid-19. Dilansir dari Forbes mengenai kasus Covid-19 di Cina, pasien dengan kelompok umur 60-69, 70-79 dan 80+ memiliki tingkat kematian akibat Covid-19 lebih tinggi dibandingkan pasien dengan usia dibawah 60 tahun. Pasien pada rentang umur 60 – 69 memiliki tingkat kematian 3.6%, pasien pada rentang umur 70-79 memiliki tingkat kematian 8% dan pasien dengan umur 80 tahun keatas memiliki tingkat kematian 14.8%. 

Adapun kondisi di Kota Surabaya dapat dilihat pada gambar. Terdapat dua kelurahan yang memiliki jumlah manula 3.782 hingga 5.888 yang memiliki jumlah kasus Covid-19 sebanyak 91 – 120 kasus. Kelurahan tersebut adalah Kelurahan Mojo di Kecamatan Gubeng dan Kelurahan Tanah Kali Kedinding di Kecamatan Kenjeran. Selain itu, kelurahan lainnya dengan jumlah kasus Covid-19 sedang hingga tinggi, memiliki jumlah manula yang bervariasi antar kelurahan. Namun, langkah preventif dapat dilakukan untuk mencegah pertambahan kasus yang lebih banyak lagi.  

Peta Jumlah Manula dan Kasus Covid-19 per 28 Juni 2020 di Kota Surabaya
Sumber: BPS dan www.lawancovid-19.surabaya.go.id 

Menurut artikel yang dipublikasikan oleh BBC News Indonesia dan Medcom.id penyebab dari terus bertambahnya kasus positif COVID-19 ialah perilaku masyarakat dan kurangnya kontrol ketat dari pemerintah. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya masyarakat yang belum sadar akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi seperti banyaknya kerumunan masyarakat yang tidak memakai masker, arus lalu lintas yang padat di jalan utama, hingga masyarakat yang masih meremehkan bahaya dari virus COVID-19. Disamping itu, menurut ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menilai kondisi Surabaya belum bisa dikatakan aman dikarenakan tidak adanya sweeping di jalanan di Kota Surabaya dan hanya ada checkpoint di batas kota sehingga terlihat seperti tidak ada PSBB. Windhu Purnomo juga menilai bahwa tidak adanya usaha yang signifikan dari Pemerintah Daerah untuk menekan kasus COVID-19 di Surabaya. 

Fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa Kota Surabaya masih jauh dari kata aman dalam hal penanganan pandemi virus COVID-19. Diperlukannya kerjasama yang baik dan strategis antara masyarakat dengan pemerintah daerah sekitar dalam menangani virus COVID-19 di Kota Surabaya. Aglomerasi kegiatan Surabaya, terutama kegiatan industri, telah menjangkau kota dan kabupaten sekitar seperti Gresik, Mojokerto dan Sidoarjo, atau yang kerap disebut sebagai Gerbangkertosusila. Tulisan singkat dari The Conversation melihat bagaimana aglomerasi kawasan perkotaan seperti apa yang terjadi di Gerbangkertosusila berkontribusi dalam penyebaran COVID19.

Linimasa Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya Terkait COVID-19 dengan Kasus Positif Harian

Urbanisasi tipikal yang terjadi di Indonesia adalah perubahan tata guna lahan dari kawasan non-urban menjadi kawasan perkotaan, termasuk industri. Konsentrasi penduduk pun semakin terpecah dan melebar. Sehingga di masa pandemi ini, makin menyulitkan pemerintah dalam mengatur maupun mengendalikan pergerakan manusia, padahal COVID19 tersebar akibat pergerakan manusia. 

Saat ini Kota Surabaya sudah memasuki tatanan new normal, terdapat kebijakan-kebijakan lanjutan untuk new normal dapat ditempuh oleh Pemerintah Kota Surabaya seperti pembatasan pada tempat-tempat umum yang ramai dikunjungi seperti restoran dan kafe-kafe untuk dibatasi 50% dari total daya tampung dan mengurangi jam operasional untuk menghindari penumpukan pengunjung. Hal tersebut juga diberlakukan bagi transportasi umum dengan memberikan jarak seminimalnya satu meter antar individu dan mengurangi kapasitas penumpang dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan selalu mencuci tangan. Pemberlakuan pembelajaran secara online untuk siswa dan mahasiswa menghindari terbentuknya klaster baru di lingkungan pendidikan. Pengembangan taman kota atau area hijau dapat ditempuh untuk menciptakan diversifikasi lokasi hiburan. Dibandingkan pergi ke kafe atau pusat perbelanjaan, masyarakat dapat menggunakan taman kota untuk berolahraga ataupun sekedar melepas lelah setelah berbulan-bulan mengalami pembatasan sosial dengan tetap menerapkan jarak aman antar individu saat beraktivitas di taman kota.

Pasar-pasar tradisional dan modern pun pada kuartal awal pandemi sempat menjadi klaster terbesar penyebaran COVID19 di Provinsi Jawa Timur, termasuk Kota Surabaya. Namun ternyata kondisi tersebut tidak membuat para pedagang dan pengunjung untuk waspada terhadap COVID19, maupun terlibat aktif dalam proses 3T (tracing, testing dan treatment). Masih terjadi pedagang dan pekerja yang sengaja menghindari tes massal yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota, misalnya di Pasar Wonokromo

Surabaya juga salah satu kota yang sedang bersiap ancang-ancang memberlakukan kembali kebijakan sekolah tatap muka, terlepas dari penolakan oleh PGRI dan berbagai orang tua murid. Memang pada akhirnya pelaksanaan sekolah tatap muka di bulan Desember 2020 pun diundur hingga Januari 2020, terlebih pasca hasil pemeriksaan laboratorium para guru dan sejumlah murid

Setelah bulan Agustus, penambahan kasus Covid19 sempat melandai bahkan dengan di akhir Oktober 2020 69 kelurahan di Kota Surabaya sempat dinyatakan bebas dari kasus COVID19. Namun bersamaan dengan penambahan kasus Indonesia pasca libur akhir pekan di bulan November pun membuat kasus Covid19 di Surabaya bertambah sehingga membuat rumah sakit di Kota Surabaya kembali kewalahan. Kedepannya pun, Surabaya masih harus menghadapi berbagai macam kerumunan, karena menjadi salah satu kota yang menyelenggarakan 

Dan Surabaya sepertinya akan terus kembali pada ritual panjang melawan COVID19.