Home > Blog > Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan Yogyakarta: Gerakan Solidaritas Rakyat Bantu Rakyat di Tengah Pandemi

Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan Yogyakarta: Gerakan Solidaritas Rakyat Bantu Rakyat di Tengah Pandemi

...Setiap bencana besar akan memberikan pelajaran dan mendewasakan peradaban. Pengalaman di beberapa daerah membuktikan bahwa kesetiakawanan dan rasa senasib-sepenanggungan tetap mampu lahir dalam situasi darurat yang penuh keterbatasan. Semangat itu hadir terutama ketika negara tak mampu sepenuhnya menjamin keselamatan dan menyelenggarakan layanan perlindungan.

Terletak di pusat Pulau Jawa, Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang paling rentan terhadap ancaman bencana alam. Pada awal milenium kedua, daerah yang secara politis berstatus istimewa ini mengalami sedikitnya tiga bencana besar, yakni gempa bumi pada tahun 2006 dan erupsi besar Gunungapi Merapi pada tahun 2006 dan 2010.

Besarnya skala bencana menyebabkan jumlah warga yang terdampak cukup tinggi. Pemerintah dan pemerintah daerah saat itu tidak mampu menyelenggarakan semua upaya pemulihan dengan sumber daya yang ada. Pada titik ini, upaya warga mendapatkan jalannya. Mengirimkan bantuan sembako, hingga bahan bangunan, maupun tenaga relawan mengalir dari banyak daerah. Banyak pertolongan yang dikoordinasikan oleh lembaga formal, tetapi tidak sedikit pula bantuan yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok solidaritas warga secara mandiri.

Ketika gempabumi dan erupsi Merapi terjadi, sejumlah lembaga dan komunitas membantu warga terdampak dengan mengirimkan sembako dan membuka dapur umum di/untuk sejumlah pos pengungsian. Bahkan, ada sejumlah kelompok tani dari beberapa daerah di Jawa Tengah yang mengirimkan sendiri hasil panennya ke wilayah terdampak bencana.

Ada juga cerita, warga yang berprofesi sebagai tukang bangunan di Bantul bisa bergantian saling bantu dengan warga tani di lereng Merapi ketika bencana menimpa. Semangat rakyat bantu rakyat ini kembali hadir ketika bencana besar baru terjadi; gelombang pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

Dampak Sosial Pandemi di Daerah Istimewa

Kasus konfirmasi COVID-19 pertama di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diumumkan pertama kali oleh Pemerintah Daerah (Pemda) DIY pada 15 Maret 2020. Status tanggap darurat bencana COVID-19 di DIY kemudian ditetapkan oleh Gubernur DIY pada 20 Maret 2020.

Walaupun sejak awal pandemi hingga akhir 2020 ini DIY tidak pernah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun Karantina Wilayah, tetapi dampak pandemi cukup memberikan dampak signifikan. Dari Maret hingga Juli 2020, Yogyakarta yang hidup dari industri wisata dan pendidikan nyaris terhenti. Geliat aktivitas baru mulai kembali bergerak mulai Agustus 2020.

Namun, tidak sedikit pengusaha dan pekerja di sektor informal yang telah terdampak, antara lain karena turunnya pendapatan dan daya beli masyarakat. Upaya untuk bangkit tidak cukup mudah bagi mereka yang mengalami dampak terberat; kehilangan mata pencaharian.

Salah satu respon awal hadir dari beberapa kelompok aktivis muda Yogyakarta (yang berasal dari beragam latar belakang, seperti mahasiswa, pekerja seni, peneliti, dsb) dengan mendirikan dapur umum pada 26 Maret 2020. Setiap hari, dapur umum ini membagikan nasi bungkus atau sembako kepada pekerja informal dan kelompok masyarakat rentan lainnya yang ditemui di jalan atau di titik-titik perkampungan tertentu.

Prakarsa ini kemudian berkembang. Hingga Mei 2020, ada 12 dapur umum yang aktif sebagai jaringan. Namun, sifat donasi yang tidak tetap menjadikan jaringan dapur umum yang berada di bawah payung “Dapur Solidaritas Pangan Jogja” ini harus menghentikan operasionalnya pada akhir Juli 2020. Beberapa dapur masih beroperasi, tidak lagi dalam payung jaringan, tetap mencoba membantu dengan kemampuan masing-masing.

Situasi pandemi yang tak kunjung melandai tetap menjadi perhatian banyak pihak. Berkah Gamulya, aktivis dan musikus asal ibukota yang sejak awal pandemi berada di Yogyakarta memiliki keprihatinan yang sama. Ia melihat, di balik skema-skema perlindungan sosial yang digelontorkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah, masih ada banyak kelompok warga yang tidak tersentuh bantuan dan bahkan terancam terabaikan.

Dari sejumlah diskusi dengan kelompok aktivis sosial di Yogyakarta, perhatiannya mengerucut pada kelompok buruh gendong perempuan. Melalui Yayasan Annisa Swasti (Yasanti), lembaga swadaya masyarakat yang telah hampir 40 tahun mendampingi buruh gendong perempuan di Yogyakarta, terkonfirmasi bahwa kelompok ini masih berada pada titik paling rentan.

Buruh Gendong Perempuan Diterpa Korona

Ada sekitar 400 buruh gendong perempuan yang tercatat bekerja di empat pasar tradisional di Yogyakarta, tersebar di Pasar Beringharjo, Pasar Giwangan, Pasar Kranggan, dan Pasar Gamping. Informasi Yasanti menyebutkan, jumlah buruh gendong perempuan yang bekerja menurun lebih dari separuh selama pandemi tahun 2020 ini. Sebagian di antaranya sudah lanjut usia.

Dari jumlah tersebut, tidak sedikit yang berasal dari luar Kota Yogyakarta, seperti Kabupaten Kulon Progo (sebagian buruh gendong Pasar Beringharjo) dan bahkan Kabupaten Sukoharjo (sebagian buruh gendong Pasar Giwangan). Mereka harus sisihkan sebagian pendapatan untuk biaya perjalanan. Buruh gendong dari Kulon Progo, misalnya, setiap hari harus sedia Rp 14.000 untuk ongkos bus pergi-pulang.

Pandemi menyebabkan pasar menjadi lebih sepi, terutama Pasar Beringharjo. Pendapatan buruh gendong perempuan pun semakin menurun. Selain untuk ongkos bus, buruh gendong perempuan juga harus siap menyisihkan sekitar Rp 5.000 – Rp 8.000 untuk sekali makan siang. Bahkan untuk ke toilet, mereka pun harus rela keluarkan lagi uang Rp 1.000 – 2.000 sekali pemakaian.

Jika dalam kondisi normal dalam sehari buruh gendong perempuan bisa mengantongi uang Rp 40.000 atau lebih, saat ini mereka bisa hanya dapat separuhnya atau bahkan kurang. Para ibu dan simbah yang sudah puluhan tahun bekerja di pasar ini bisa memilih puasa tidak makan atau bahkan menginap di emperan toko sekitar pasar demi bisa menghemat pengeluaran. Bantuan apapun yang bisa meringankan beban biaya harian mereka tentu akan sangat berarti.

Gagasan dapur umum untuk buruh gendong perempuan pun lahir. Belajar dari pengalaman Dapur Solidaritas Pangan Jogja, dapur umum ini melakukan hal yang sama, yakni menyalurkan makan gratis (sarapan/makan siang) yang dimasak oleh para relawan. Namun, dapur umum ini akan memiliki kelompok sasaran yang tetap, yakni anggota paguyuban buruh gendong “Sayuk Rukun” di empat pasar tradisional dampingan Yasanti.

Mereka adalah kelompok yang terorganisasi, sehingga akan dapat dipastikan penerima nasi setiap hari adalah orang yang sama. Diharapkan, para ibu dan simbah buruh gendong akan menjadi lebih tenang bekerja karena terjamin mendapatkan sarapan/makan siang gratis dan berarti ada uang lebih yang bisa dibawa untuk keluarga di rumah.

Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan

Persiapan dapur umum dimulai dengan melakukan penggalangan relawan dan donasi melalui sosial media pada pertengahan Oktober 2020. Tepat 19 Oktober 2020, aktivitas dapur umum dimulai untuk melayani pembuatan nasi bungkus bagi buruh gendong di 4 pasar tradisional secara bergiliran setiap pekan. Seluruh kegiatan dipusatkan di Warung Bakzoo yang beralamat di Jl. Veteran No. 36 Muja Muju, Umbulharjo, Yogyakarta; tepat di seberang pintu parkir barat Kebun Binatang Gembiraloka Yogyakarta.

Semua proses diatur agar memenuhi protokol kesehatan COVID-19 dengan membagi shift relawan agar datang bergantian, mewajibkan penggunaan masker, menyediakan fasilitas cuci tangan, dan memastikan sirkulasi udara terbuka dan lancar.

Operasional dapur umum dilakukan Senin-Jumat, dimulai dari pukul 07.00 pagi untuk kegiatan memasak, dilanjutkan pukul 09.00 – 11.00 untuk kegiatan membungkus makanan, dan terakhir pengiriman ke pasar mulai pukul 11.00. Setiap siang hingga jelang sore, kegiatan dapur umum dilanjutkan dengan melakukan persiapan bahan-bahan untuk menu esok hari.

Pada tahap pertama, Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan beroperasi selama 20 hari (empat pekan; Senin-Jumat) dari tanggal 19 Oktober – 13 November 2020. Selama periode tersebut, prakarsa ini berhasil membagikan total 3.042 bungkus sarapan/makan siang untuk 283 buruh gendong perempuan di 4 pasar secara bergantian per pekan. Paket makan tersebut diolah dari hasil donasi para donatur. Total pada tahap pertama, dapur umum ini mendapatkan donasi sebesar Rp 26.447.222 dari 77 individu/lembaga.

Selain uang, donasi juga didapatkan dalam bentuk bahan makanan, seperti beras 415 kg, telur 43 kg, bawang 35 kg, gula 40 kg, serta beragam paket sayur dan buah dari 19 individu/lembaga. Semua proses ini dikelola bersama relawan yang berjumlah 42 orang (25 perempuan, 17 laki-laki) yang berasal dari beragam latar belakang profesi, asal daerah, dan usia.

Setelah rehat satu minggu, Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan kembali kini meneruskan operasional tahap kedua, yang dimulai pada 23 November 2020 dan berakhir pada 22 Desember 2020. Kegiatan selama 23 hari ini ditargetkan dapat ditujukan bagi 283 buruh gendong perempuan di 4 pasar tradisional dari Senin-Jumat tanpa harus bergiliran. Jumlah target bungkus makan siang/sarapan yang harus disalurkan pun naik menjadi total 6.509 bungkus.

Proses ini dilanjutkan dengan menggunakan sisa/saldo dari donasi tahap pertama dan juga bersama sebagian besar relawan dari tahap pertama pula. Selama periode kedua ini, penggalangan dana dan relawan tetap dibuka agar target jumlah di atas dapat terpenuhi. Saldo donasi tahap pertama bertahap kembali bertambah.

Total ada 33 relawan (19 perempuan, 14 laki-laki) yang bergabung pada tahap kedua. Operasional dapur umum dicoba lebih efektif dan ramah lingkungan. Pemakaian plastik dikurangi secara maksimal. Pemilahan sampah organik dan non-organik untuk pembuatan kompos juga dimulai.

Merajut Kolaborasi untuk Advokasi

Sebagai gerakan solidaritas dengan semangat rakyat bantu rakyat, prakarsa dapur umum untuk buruh gendong perempuan ini tidak diharapkan berhenti pada sekadar aksi karitatif. Selama dua tahap berjalan, komunikasi dengan pegiat Yasanti dan sejumlah buruh gendong mengungkap lebih banyak informasi tentang masalah-masalah sosial yang melingkupi keseharian kelompok perempuan rentan tersebut.

Tidak hanya pendapatan yang berkurang akibat pandemi, buruh gendong perempuan juga semakin rentan akibat tidak mendapatkan jaminan layanan kesehatan, sanitasi, dan akomodasi yang layak selama beraktivitas di pasar. Ada pemeriksaan kesehatan berkala di pasar, tetapi berhenti beberapa bulan lalu justru di tengah pandemi. Toilet umum pasar tidak cukup bersih dan berbayar. Hingga, tidak adanya tempat khusus bagi buruh gendong perempuan yang terpaksa bermalam.

Larangan tidur di pasar, untuk alasan keamanan, menjadikan para ibu dan simbah harus rela berdesakan bermalam di emperan toko sekitar pasar dengan alas seadanya. Beberapa contoh kasus itu membuka mata tim dapur umum untuk merencanakan rencana aksi yang berdampak memunculkan solusi atas masalah-masalah sosial tersebut, melalui advokasi.

Akhir tahap pertama, Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan menerbitkan siaran pers menuntut toilet gratis bagi buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo sebagai pembuka agenda advokasi. Sebagai Pasar Kelas 1 di Kota Yogyakarta dan terletak di pusat perekonomian kota, toilet di pasar ini tidak cukup untuk disebut layak.

Walaupun selama pandemi ada kebijakan khusus potongan tarif menjadi Rp 1.000 untuk pemakaian toilet kepada buruh gendong perempuan, tetapi hal itu dirasa tidak cukup. Toilet umum di pasar seharusnya gratis sebagai bagian dari fasilitas publik. Pendapatan Kota Yogyakarta dari retribusi pasar tradisional sebesar Rp 15 miliar per tahun semestinya cukup untuk membiayai operasional pengelolaan toilet yang memadai.

Ironisnya, tak jauh dari Beringharjo, ada toilet berkelas internasional yang dibuka gratis untuk umum. Toilet di Kawasan Nol Kilometer Yogyakarta ini dibangun oleh Pemda DIY demi kepentingan industri wisata, dengan anggaran mencapai Rp 5,8 miliar. Menanggapi siaran pers ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta menjanjikan bahwa kebijakan toilet gratis bagi buruh gendong perempuan akan segera direalisasikan. Masih terus akan kami kawal!

Saat ini, tim dapur umum tengah mengkaji sejumlah gagasan yang akan dikolaborasikan dengan sejumlah pihak sebagai lanjutan dari agenda advokasi bagi buruh gendong perempuan. Akomodasi yang aman dan layak bagi buruh gendong perempuan yang terpaksa bermalam di sekitar pasar menjadi salah satu isu utama yang sedang dikaji dan dicarikan solusinya.

Isu lain adalah gagasan untuk memanfaatkan jejaring inisiatif berbagi makanan melalui pengelolaan food waste yang diharapkan dapat diarahkan pula untuk memenuhi program dapur umum. Dapur umum juga akan meneruskan kolaborasi dengan prakarsa pertanian kota “KebunKu” yang lahir dari respon menghadapi pandemi dengan membangun strategi kemandirian pangan secara bertahap dan berkelanjutan.

Setiap hasil panen KebunKu akan terus digunakan untuk melengkapi persediaan bahan pangan yang akan diolah dapur umum untuk buruh gendong perempuan. Diharapkan, pada awal tahap ketiga tahun depan, Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan Yogyakarta akan bisa memberikan dampak positif yang lebih luas. Mari bergabung!