Home > Blog > Covid-19 dan Pilkada Kota: Cerita dari Depok

Covid-19 dan Pilkada Kota: Cerita dari Depok

Pada tulisan singkat ini, saya akan mengetengahkan perspektif bahwa penanganan covid dan riil politik saling terkait satu sama lain, tidak dapat dipisahkan. Perspektif ini berbeda dari cara pandang yang naif bahwa penanganan Covid 19 harus steril dari unsur politik. Pada kenyataannya, khususnya di Kota Depok, dapat dibuktikan bahwa penanganan Covid 19 dan Pilkada saling mewarnai.”

Kota Depok merupakan kota termuda di Jawa Barat, berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, Tangerang Selatan, Bekasi dan Bogor. Kota Depok dilintasi commuter, berdasarkan data BPS 2019, ada 1.255.77 komuter bodetabek ke Jakarta. 395.093 komuter berasal dari Depok.

Kota Depok memiliki luas wilayah 200,29 km2 dengan jumlah penduduk 2.406. 826 jiwa terdiri dari 63 Kelurahan. Kota Depok adalah kota pertama penyumbang pasien covid 19 di Indonesia. Pasien covid 19 pertama, seorang ibu berusia 64 tahun dan putrinya berusia 31 tahun,  tertular virus corona karena kontak dengan warga negara Jepang. Pasien tertular dari sebuah kegiatan internasional yang diadakan di Kemang, Jakarta Selatan. Depok dan Jakarta merupakan satu kesatuan wilayah sosial, posisinya sebagai kota Penyangga.

Kasus ini diumumkan langsung oleh Jokowi di Istana Kepresidenan Senin, 2 Maret 2020. Walikota Depok kemudian berakrobat dengan mengumumkan identitas pribadi pasien sehingga menjadi viral, menimbulkan kepanikan tanpa menjelaskan langkah pemerintah kota menangani hal ini. setelah itu, angka terkonfirmasi Covid-19 terus bertambah, di luar Depok dan Jawa Barat, hingga seluruh Indonesia. Kota Depok adalah cerminan Indonesia, yang buruk dalam pelayanan kesehatannya serta ketidaksiapan pemerintah dalam penanganan virus baru ini.

Di Depok dibangun Kampung Siaga Covid 19. Tahapan awal pembentukan kampung siaga ini, masing-masing RW mendapatkan anggaran sebesar 3 juta rupiah. Anggaran tersebut, ada yang merealisasikannya dengan membuat spanduk, kaos seragam, ada juga yang membeli kipas angin besar untuk Masjid.

Tahun 2020 bagi Kota depok merupakan tahun suksesi pucuk kepemimpinan, Pilkada serentak di masa pandemi Covid 19.  KPU Kota Depok menetapkan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) pada Pilkada Depok 2020 mencapai 1.229.362 pemilih yang tersebar di 11 kecamatan. KPU Depok mengatur jam kedatangan para pemilih dan jumlah maksimal pemilih dan panitia di TPS sebanyak 500 orang.

Ada dua paslon yang bertarung dalam pilkada ini, keduanya adalah petahana walikota dan wakil walikota menjabat. Pradi Supriatna berpasangan dengan Afifah Alia dari Gerindra – PDI Perjuangan melawan Muhammad Idris Abdul Somad berpasangan dengan Imam Budi Hartono dari Partai Keadilan Sejahtera.

5 tahun yang lalu, Golput meraup suara terbanyak pada Pilkada Kota. Dari 1.222.092 suara Daftar Pemilih Tetap, ada 692.865 orang yang menggunakan hak pilihnya dengan jumlah suara sah 664.453. Pilkada Depok 2015, sesuai hasil rekapitulasi suara tingkat kota pasangan Mohammad Idris-Pradi Supriatna dengan jumlah 411.367 suara. Sementara suara yang diperoleh pasangan Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaimi mencapai 253.086. Pilkada kali ini, Idris – Pradi pecah kongsi.

4 September 2020, hari pertama pendaftaran kandidat pasangan calon pilkada kota, Walikota Depok mengeluarkan Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 60 Tahun 2020 tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian COVID-19. Diantaranya mengatur pembatasan jam operasional terhadap aktivitas dunia usaha dan aktivitas warga, yang diputuskan melalui Keputusan Wali Kota. Kebijakan pembatasan aktivitas warga dan usaha, populer disebut jam malam.

Pembatasan jam operasional toko, pusat perbelanjaan, rumah makan, kafe, dan tempat usaha/kegiatan lainnya, serta layanan antar dan aktivitas warga. 6 September 2020 dua hari kemudian, Walikota mendaftarkan diri sebagai kandidat Pilkada diusung oleh PKS. Di hari yang sama, walikota mengeluarkan perubahan kebijakan terkait jam malam.  Perubahan itu adalah; layanan di tempat usaha tutup pukul 20.00 (sebelumnya 18.00), aktivitas warga/perkumpulan hingga pukul 21.00 (sebelumnya 20.00)  dan layanan pesan antar/take away pukul 21.00 (sebelumnya 20.00).

Terkait jam malam, #DepokLawanCorona melakukan mini riset. Dari hasil mini riset ini mayoritas mengetahui mengenai kebijakan jam malam dan menyetujui bahwa kebijakan jam malam bukanlah solusi untuk penanganan masalah Covid 19 di kota Depok. Jam malam justru menimbulkan kecemasan baru. Dengan adanya kebijakan jam malam jalanan menjadi sepi, rawan perampokan, curanmor dimana-mana. Kebijakan jam malam diperpanjang hingga empat kali, terakhir di November 2020.

26 September 2020, dimulainya masa kampanye terbuka Pilkada kota. Ridwan Kamil, Gubernur Provinsi Jawa Barat menunjuk Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat sebagai PLT walikota di kota Depok. Walikota dan wakil walikota menjabat keduanya menjalani cuti dalam rangka kampanye Pilkada. 26 September PLT mulai menjalankan tugasnya di satu-satunya wilayah zona merah Covid 19 di Jawa Barat. Satu bulan kemudian status Depok sebagai zona merah berubah menjadi orange.

2 Oktober 2020 Ridwan Kamil mulai berkantor di Depok, memantau Covid 19 dan pelaksanaan Pilkada. Mengenai penanganan Covid 19 salah satu kesulitan di Kota Depok adalah tempat tidur. Sebelumnya, pada Juni 2020, kantor Pos Depok mengembalikan 4256 paket bantuan provinsi. Hampir setengah ton telur dimusnahkan.

12 November Idris Walikota Depok menemui Rizieq Shihab yang baru saja tiba dari Arab Saudi. Tidak ada teguran khusus kepada Idris selaku kepala satgas Covid 19 kota yang melanggar peraturannya sendiri. 25 November Idris diumumkan positif Covid 19, dirawat di RSUD Depok dengan keluhan  tensi tinggi dan sakit bagian lambung. Kepada media, ketua tim kampanye Idris yang juga ketua Partai Keadilan Sejahtera Depok menjelaskan bahwa Idris terkena covid 19 karena mengikuti kegiatan debat kandidat pada 22 November 2020.

7 Desember 2020, Idris kembali berkantor setelah cuti tugas Pilkada, 3 hari menjelang pencoblosan. 9 Desember 2020 pemungutan suara telah dilaksanakan, berdasarkan hitung cepat, Idris – Imam memimpin suara dibanding Pradi – Afifah. Idris meraup 53,6 persen suara, Pradi-Afifah meraih 46,4 persen, versi lembaga survei Voxpol Centre Research and Consulting 9 Desember 2020 jam 5 sore.

Berdasarkan hitung cepat, dipastikan Idris kembali menjabat. Selama empat kali berturut-turut pada Pilkada Kota Depok selalu dimenangkan oleh pasangan calon yang diusung oleh PKS. Pada Pilkada Kota Depok tahun 2005 dimenangkan oleh pasangan Nur Mahmudi-Yuyun Purwitasari, pada Pilkada tahun 2010 dimenangkan oleh pasangan Nur Mahmudi-Muhammad Idris, Pilkada 2015 dimenangkan oleh pasangan Muhammad Idris-Pradi Supriatna, Pilkada 2020 dimenangkan oleh Idris – Imam. Meski begitu, pada Pilkada kali ini, Golput kembali memperoleh suara terbanyak. Golput sebagai pemenang Pilkada berkontribusi atas langgengnya kekuasaan PKS di kota Depok.

DepokLawanCorona adalah komunitas berbasis wag yang terbentuk pada 18 Maret 2020 merespon Covid 19 di kota. Kota Depok juga menempati daerah dengan mortality rate atau jumlah kematian tinggi, yakni 1,78 kasus per 100.000 penduduk.