Bahu-Membahu, Warga Kampung Hadapi Pandemi

Pandemi Covid-19 memunculkan sekian banyak dampak dari segi ekonomi. Tak terkecuali gerakan bersama oleh warga yang kian berusaha saling menghidupi meski tantangan zaman dirasa sulit dibendung lagi. Hal serupa terjadi pula di empat kampung di Semarang. Masing-masing kampung memiliki cara sendiri untuk beradaptasi dan bertahan dari terpaan wabah yang turut memberi pengaruh di sisi finansial.

Di Kampung Jatiwayang, misalnya, mayoritas penduduk bekerja di bidang wirausaha, buruh pabrik, karyawan, dan lain-lain. Saat ini para pekerja tersebut mengalami penurunan pendapatan sebab saat ini banyak pembatasan dan persyaratan-persyaratan khusus yang harus ditempuh untuk bepergian. Tidak hanya itu, pemilik pabrik juga kesulitan dalam produksi karena kenaikan bahan produksi, berkurangnya buyer, dan pembatasan kegiatan ekspor atau impor.

“Kalau dilihat semuanya di Jatiwayang juga terkena imbasnya bagi pemilik usaha, pegawainya, pekerja pabrik sampai penjual keliling juga lagi mengalami paceklik,” jelas Pak Wasis (42 tahun), Ketua RT 06/RW 03. Fenomena kesulitan perekonomian ini dirasa tidak kalah membahayakan dengan pandemi itu sendiri. Jika harus berdiam diri di rumah dan membatasi ruang gerak maka ancamannya hilangnya pekerjaan serta tidak ada pendapatan, sebab mayoritas masyarakat bekerja disektor non-formal.

Merespon keadaan sulit ini pada bulan Oktober 2020, pengurus RT 06 kemudian menginisiasi adanya “moko” untuk membantu kesulitan perekonomian warga selama pandemi. “Moko” adalah singkatan dari mobil toko, konsep ini tercetus karena ide sebelumnya yakni bazar murah dan cek kesehatan gratis dilarang oleh pihak kelurahan sebab dapat menciptakan kerumunan. Tujuan dihadirkannya “moko” ialah untuk meringankan beban warga masyarakat Jatiwayang dalam membeli kebutuhan sembako.

"Moko" atau Mobil Toko hasil inisiatif RT 06 Kampung Jatiwayang

“Moko” menjual berbagai macam sembako yang harganya lebih murah dari pasaran biasa. Sistem penjualannya menggunakan sistem pre-order, masyarakat yang ingin membeli kebutuhan terlebih dahulu dicatat oleh petugas. Seminggu kemudian kebutuhan sembako yang telah dicatat oleh petugas didistribusikan kepada warga secara langsung dengan standar protokol kesehatan.

Hadirnya “moko” dibantu oleh Yayasan Terang Bangsa Semarang, pengurus RT 06 mendapat sembako dengan harga lebih murah dari pasaran dan kemudian menjualnya dengan harga yang sama. Kegiatan ini terbukti efektif menekan adanya kerumunan sebab saat barang datang pengurus mendistribusikan satu per satu ke rumah warga. Masyarakat Kampung Jatiwayang juga antusias menyambut hadirnya “moko” yang harganya miring. Pengurus RT 06 Kampung Jatiwayang berharap dapat melakukan kegiatan ini secara rutin setiap bulannya.

Lain halnya dengan yang terjadi di Kelurahan Kemijen. Pihak kelurahan menjamin kebutuhan pokok warga yang sedang menjalani isolasi dengan mensuplai penuh kebutuhannya melalui simpanan bahan makanan dari Lumbung Pangan yang telah disediakan di kelurahan. Lumbung pangan adalah tabungan bahan makanan dari sisa-sisa bantuan yang tidak didistribusikan. Menurut Dwi Wiyana selaku Lurah Kemijen, Kemijen merupakan kelurahan yang sering mendapat bantuan terbanyak dari pemerintah. Untuk itu sering terdapat sisa-sisa bantuan karena semuanya sudah didistribusikan, pihak kelurahan lantas menyimpannya di Lumbung Pangan yang terdapat di kelurahan agar sewaktu-waktu jika masyarakat membutuhkan bantuan di lain konteks dapat diberikan bantuan tersebut. Begitu juga harapannya dengan adanya lumbung pangan diharapkan warga Kemijen tidak akan merasa kekurangan ataupun kelaparan akibat PHK.

Terdapat beberapa hal menarik yang terjadi di Nongkosawit. Pandemi Covid-19 justru tidak memberi pengaruh pada masyarakat yang 42,8% nya bekerja sebagai petani, “Mayoritas penduduk kita petani, malah mereka tidak berdampak soalnya mereka kan petani subsisten jadi ada tidak adanya covid ya nasibnya ditentukan sama hasil panen” Jelas Pak Warsono selaku ketua RW 1. 

Hanya saja bagi warga yang memiliki usaha atau bekerja sebagai pemain musik, perias pengantin, penyewa lahan dan penyewa alat untuk hajatan mengalami penurunan pendapatan, sebab acara yang menyebabkan kerumunan dilarang oleh pemerintah. Selain itu yang tidak kalah terdampak ialah para peternak ayam yang ada di kelurahan Nongkosawit. Dari beberapa peternak ayam di Nongkosawit hanya satu yang saat ini masih bertahan, sebab ayam hasil panenan usaha minim pembeli dan tidak bisa menutup biaya produksi.

Adanya pandemi memunculkan gerakan sosial yang membantu perekonomian warga antara satu sama lain di RT01/RW01, Nongkosawit. Warga menamai gerakan ini dengan nama “Jogo Tonggo” yang sudah berjalan sebanyak 4 kali selama pandemi. Mekanisme kegiatan sosial ini yakni warga di RT 01 mengumpulkan bantuan yang diorganisir di salah satu rumah warga, wujud bantuan terserah kepada yang ingin membantu jadi ada yang memberikan sejumlah uang, beras, sayur-mayur dan bahan lauk.

Kemudian bantuan uang tadi sebelumnya diwujudkan dalam bentuk bahan pokok, sayur atau bahan lauk terlebih dahulu. Setelah itu bantuan-bantuan yang terkumpul dibungkus menjadi banyak bagian lalu diletakkan di pertigaan jalan yang menghubungkan jalan kampung dengan kelurahan. Warga masyarakat manapun yang melewati jalan tersebut dan membutuhkannya bebas untuk mengambil. Kegiatan ini yang saat ini sangat diharapkan ketua RW 1 dapat dilakukan serentak oleh warganya yang lain.

Sedangkan di Sendangguwo, gerakan masyarakat dimotori oleh Tunas Muda, organisasi kepemudaan di Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Semarang. Sebelum pandemi melanda Indonesia Tunas Muda sudah berhasil melaksanakan beberapa kegiatan seperti posyandu remaja dan cek kesehatan pemuda gratis dan pengajian pemuda keliling masing-masing RW. Selain itu rencana kegiatan seperti pertunjukan teater yang rencananya akan digelar sebulan sekali dengan siklus pementasan bergilir ke 10 Rukun Warga sampai hari ini belum dapat terlaksana karena adanya pandemi.

Terlepas dari kegiatan-kegiatan yang cenderung memunculkan kerumunan, selama pandemi ini Tunas Muda malah dapat menjalankan program yang sebelum adanya pandemi tidak dapat terlaksana. Gilo-gilo namanya, sebuah program yang tercetus dari divisi kewirausahaan Tunas Muda. Awal rapat program kerja di Desember 2019 hingga pandemi covid-19 datang pada bulan Maret 2020 lapak Gilo-gilo belum terlaksana. Baru setelah salah satu anggota divisi kewirausahaan Tunas Muda ada yang terkena PHK karena pandemi, maka seorang anggota tersebut menyanggupi untuk mewujudkan program kerja yang belum sempat dilakukan yakni lapak Gilo-gilo yang lapaknya berada di Soko Tunggal, Sendangguwo.

Lapak Gilo-gilo memiliki dua versi arti menurut Abdul Rochim (29 tahun) selaku Ketua Tunas Muda, arti pertama Gilo-gilo berarti penjual ingin menunjukan bahwa dagangan yang dijajakan banyak macamnya dengan berkata “iki lho..iki lho” atau “Ini lho…ini lho”.  Selanjutnya Gilo-gilo diartikan sebagai visualisasi pedagang yang menjajakan dagangannya dengan membawa pikulan dengan cara jalan yang lenggak-lenggok. Cara menggelar dagangan menggunakan gerobak bagian atasnya tertutup plastic dan yang dijajakan beragam dari buah-buahan yang sudah dipotong, minuman tradisional, nasi,  serta jajanan pasar.

Lapak "Gilo-gilo"

Tunas Muda mencoba mencari hikmah positif dari masa yang serba susah ini dengan mencari peruntungan dengan berjualan, imbasnya berpengaruh pada kepemudaan dan masyarakat luas. Lapak Gilo-gilo dibuka selama hari Senin - Sabtu, yang menjaga lapak adalah anggota dari Tunas Muda dengan kesukarelaan hati mereka. Tunas Muda tidak memproduksi sendiri jajanan yang mereka jual, mereka menerimanya melalui supplier. Supplier Gilo-gilo awalnya hanya dibatasi untuk anggota Tunas Muda saja yang memproduksi makanan di rumah, tetapi kebijakan itu diubah menjadi siapapun warga Sendangguwo dapat menitipkan dagangannya ke lapak Gilo-gilo dengan menjadi suplayer.

Segi positifnya lagi lapak Gilo-gilo tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi para pengurus Tunas Muda saja, melalui keuntungan yang didapat dari Gilo-gilo Tunas Muda menyisihkan penghasilan mereka untuk kegiatan Kencleng Putu Mbah Tikung. Kencleng Putu Mbah Tikung adalah celengan yang dibuat khusus untuk menyantuni yatim piatu, mbah putri dan mbah kakung yang sudah lansia.

“Lumayan tiap harinya hasil dari penjualan kami potong dahulu Rp. 12.500 untuk sewa tempat dan uang gawat darurat Rp. 5.00. habis itu baru laba bersih 70 persen untuk membayar penjaga Gilo-gilo, sisanya untuk biaya inventaris, kas dan kencleng putu mbah Tikung” Jelas Abdul Rohim secara rinci.

Kedepannya Tunas Muda berencana untuk membuat 9 gerobak lagi sehingga memiliki 10 gerobak Gilo-gilo yang dapat digelar lapaknya di 10 RW yang ada di Sendangguwo. Harapannya Tunas Muda juga ingin menggelar festival Gilo-gilo yang menjadi tanda keaktifan kepemudaan di masa pandemi ini.

Inisiasi-inisiasi yang terjadi di Semarang ini tentulah bukan satu-satunya. Tapi justru, contoh-contoh ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya untuk terus bekerja sama membangun komunitas yang resisten terhadap segala perubahan serta memperbaiki sistem yang telah ada agar lebih konsisten lagi perwujudannya.

Disadur dari laporan Kolektif Hysteria, kontributor riset #KotaKitaKovid di Semarang.

Menilik Potensi Taman Kota, Cerita Cirebon Kala Pandemi

P_20201129_065212_vHDR_On.jpg

Kota Cirebon memiliki jumlah penduduk 388.854 jiwa (data BPS Kota Cirebon), sedangkan pada siang hari, jumlah penduduk di kota Cirebon dapat mencapai 1 juta penduduk. Karena banyak warga dari luar Kota Cirebon yang menggantungkan hidupnya di wilayah Kota Cirebon, seperti bekerja, sekolah, dll. Hal ini dikarenakan sudah banyaknya fasilitas di Kota Cirebon yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat luar kota sekitar Kota Cirebon (Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Indramayu). Dampak Covid-19 berpengaruh terhadap semua sektor, terutama ekonomi, yang menjadi sumber dari timbulnya banyak permasalahan lainnya. Pada saat awal pandemi berlangsung, jumlah tingkat perceraian di Kota Cirebon meningkat, ditambah meningkatnya pula tingkat kriminalitas di Kota Cirebon.

Banyak dari warga Kota Cirebon yang mencari nafkah di ruang publik, yang memaksa mereka keluar dan beraktivitas di ruang publik. Namun semenjak pandemi, semua sumber penghasilannya terhenti. Warga Kota Cirebon banyak mencari nafkah dari berdagang, dibuktikan dari banyaknya jumlah sektor perdagangan dibanding sektor lainnya, sebesar 35,46% (data pemerintah Kota Cirebon). Karena hal tersebut yang kemudian mempengaruhi banyak kebijakan pemerintah Kota Cirebon di saat masa pandemi. 

images (2).png
Data struktur perekonomian Kota Cirebon

Meski kemudian ekonomi menjadi salah satu alasan publik diizinkan kembali beraktivitas. Sarana umum seperti taman merupakan tempat interaksi manusia yang berpotensi besar terjadinya penularan Covid-19.  Kasus Covid-19 sendiri masih terus melonjak seiring tingginya aktivitas masyarakat. Sejauh ini, 938 warga Kota Cirebon telah terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon menyatakan Sebanyak 142 orang tenaga medis terpapar di antaranya adalah tenaga kesehatan, mulai dari dokter, bidan, sampai perawat. Kota Cirebon juga melakukan test swab massal dari seluruh wilayah kelurahan kota Cirebon, sehingga jumlah positif diketahui meningkat. Kota Cirebon melakukan beragam langkah untuk mengatasi penyebaran virus, salah satunya menyewa 2 hotel di Kota Cirebon sebagai lokasi karantina para pasien positif. Dari upaya itu, tingkat kesembuhan pasien telah mencapai sekitar 83,4%.

P_20201124_093635_vHDR_On.jpg
Test swab massal di kantor BKKBN kota Cirebon

Ruang publik seperti taman kota memiliki manfaat yang dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat, manfaat sosial dan psikologisnya sebagai tempat relaksasi, rekreasi, hingga manfaat ekologis sebagai paru-paru kota. sehingga mampu menjadi solusi alternatif dengan adanya ruang publik yang dapat menunjang kesehatan warga di masa depan.

Hal itu bisa dilakukan melalui kedisiplinan diri dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) 3M (mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak). Penyediaan fasilitas atau sarana pada taman kota pun harus memperhatikan kebutuhan untuk mendukung kesehatan publik. Selain bersih terawat, taman kota kini diantaranya harus menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, tempat sampah, toilet dan air bersih, hingga himbauan perilaku hidup bersih dan sehat.

Sayangnya, keberadaan taman-taman di Kota Cirebon itu dianggap belum mampu menjawab kebutuhan publik. Terdapat perbedaan persepsi antara warga, ahli, maupun pemerintah ihwal definisi taman kota. Jika dikaitkan dengan pembangunan yang ada, banyak taman yang dibangun saat ini justru tak termanfaatkan dengan baik oleh warga. Rerata taman kota, justru hanya menjadi hiasan dan watermark sang pembuat taman. Ditambah lagi, kurangnya pepohonan dan tanah sebagai penyerap air justru banyak dipasang paving block. Padahal, Kota Cirebon sendiri masih kekurangan 11% RTH yang harus dipenuhi, jika mengikuti standar RTH perkotaan. Taman kota seharusnya mampu menjadi solusi alternatif dalam menunjang kesehatan warga kota, baik secara raga maupun mental. Pandemi Covid-19 kan telah berdampak pada semua aspek, khususnya kesehatan masyarakat. Pandemi juga sepertinya telah menggugah cara berpikir manusia terhadap kesehatan. Dari hal tersebut, kesadaran masyarakat atas kesehatan pribadinya semakin meningkat, seperti meningkatkan imun tubuh dengan berolahraga, minum vitamin, dan sebagainya.

P_20201129_065758_vHDR_On.jpg
Alun-alun kasepuhan kota Cirebon

Di sisi lain, kesehatan mental turut berperan penting dalam mendukung fisik yang sehat. Fenomena lockdown (karantina), belajar/bekerja dari rumah, hingga pembatasan sosial berskala besar maupun mikro (PSBB/PSBM), dipandang telah membuat perubahan besar terhadap mental manusia saat ini. Covid-19 telah membatasi kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, mulai dari bertemu sampai bercengkrama dengan banyak orang. Sementara, tak sedikit pula warga kota yang memaksakan diri ke ruang publik karena tuntutan pekerjaan. Ruang publik, seperti taman kota, menjadi penting dalam aktivitas warga kota karena fungsinya yang mampu mencakup banyak hal demi menunjang keseimbangan kota, melalui lingkungan yang mampu mendukung kesehatan kota dan warganya. Karena itu, selain menjadi landmark, taman kota sendiri harus mampu menjadi ruang publik yang memenuhi kebutuhan kesehatan warga. Untuk ini, fasilitas atau sarana pendukung, seperti taman kota yang ramah anak, ramah disabilitas, ramah lansia, juga menyesuaikan dengan keadaan adaptasi baru (new normal), harus terpenuhi. Jika hal itu dapat dilakukan, warga Kota Cirebon mampu menjadikan taman kotanya terjangkau bagi seluruh warga, sebagai solusi alternatif dari permasalahan kesehatan yang berkepanjangan di masa depan.

Ditulis oleh kolaborator riset #KotaKitaKovid di Cirebon.

Perspektif Warga Kampung di Semarang Menyoal Pandemi

Mewabahnya pandemi Covid-19 ternyata memunculkan berbagai respon yang berbeda di tiap daerah. Begitu Bustaman, Jatiwayang, Krapyak, dan Petemesan. Perspektif masyarakat tentang virus ternyata tak sama rata dan dampaknya, wajah kampung pun berubah dengan wujud yang berbeda-beda.

Fenomena kekerabatan yang erat dalam Kampung Bustaman misalnya, adalah hal yang menjadi sorotan bagi terjadi sebelum pandemi ternyata tak terhenti. Masyarakat tetap bersikap biasa saja terhadap virus yang mematikan ini. “Selama saya jualan jus ya ramai-ramai saja, anak-anak pada jajan, habis itu bermain, orang-orang tua khususnya ibu-ibu ya tetap merumpi,” ujar Bu Siti Aisyah (46 tahun), warga Kampung Bustaman. 

Potret warga yang sedang berjualan di gang, Kampung Bustaman.

Masyarakat merasa aman-aman saja sebab lingkup bermain mereka hanya ada di dalam kampung. Padahal, pada awal masa pandemi, orang yang masuk Kampung Bustaman harus dicek menggunakan thermogun terlebih dahulu. Portal-portal ditutup, disisakan satu pintu saja untuk akses keluar masuk warga. Masyarakat kehidupan masyarakat banyak dihabiskan di dalam lingkup kampung yang padat.

“Coba dilihat cenderung cuek, menikmati hidup, happy, mau makan apa saja tinggal ambil, anak-anak tetap main di sini-penyakit kan bahagia, ya ini kita masyarakat Bustaman selalu bahagia buktinya tempat kami belum pernah ada yang terpapar Covid,” ucap Pak Aris Zarkasi (50 tahun), Ketua RT 04/RW 03 Kampung Bustaman. Sore itu suasana dilengkapi oleh pedagang yang hendak membersihkan warungnya, pemilik lapak makanan yang sedang menyiapkan makanan, ibu-dan anak-anak yang sibuk bernyanyi lagu TikTok atau bermain sepeda.

Bukan berarti lalu masyarakat tidak peduli sehingga menyepelekan. Pengurus RT dan RW juga sepakat membuat tema pembiasaan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak). “Terus terang soal adanya pembiasaan jaga jarak, bagaimana kami dapat jaga jarak? Orang semua rumah di sini saling berdekatan. Meski masyarakat kami menganggap semua yang terjadi bukanlah sesuatu yang ditakuti, tapi dari RT kan tetap menjalankan perintah pemerintah saja. Kalau disuruh menerapkan pembiasaan 3 M kepada warga ya kami tetap selalu. Kuncinya ya itu tadi, tetap bahagia, apapun yang terjadi,” tutup Pak Aris sambil berjalan menuju TPS.

Lain halnya dengan masyarakat Jatiwayang yang hidup di kota besar. Diuntungkan dengan kondisi strategi Terbukti dengan terdapatnya area pabrik-pabrik yang lokasinya berdekatan dengan kawasan tempat tinggal virus Covid-19 sudah mulai masuk di area tempat tinggal mereka. Masyarakat tiba-tiba menutup diri dan membatasi kegiatan mereka di luar rumah, kontras dengan keadaan sebelum pandemi.

“Semua berubah, tiba-tiba kepanikan ada di mana-mana. Portal-portal yang dulunya tidak ditutup lalu ditutup. Masyarakat takut jika ada pendatang dan semua kegiatan dibatasi,” ucap Pak Wasis selaku Ketua RT 06/RW 03. Gambaran keadaan tersebut dapat menggambarkan bagaimana kekhawatiran masyarakat benar-benar terjadi. Kemudian semua elemen pemerintahan juga turut mengampanyekan pengadaptasian kehidupan baru sesuai dengan protokol kesehatan.

Pada awal pandemi sampai bulan September 2020 pengurus RT 06/RW 03 aktif membagikan masker gratis dengan Hysteria atau pihak lain. Aktivitas itu dilakukan sebagai respon kepedulian antar warga. Bahkan, Pak Wasis, Ketua RT 06/RW 03, rela menghibahkan uang transportnya untuk keperluan warga selama pandemi dengan membuat tempat cuci tangan dan bagi-bagi masker kesehatan. Kewaspadaan masyarakat masih berlangsung hingga saat ini meski portal-portal jalan sudah dibuka kembali di Jatiwayang, tetapi masyarakat belum melakukan kelonggaran aktivitas. Keadaan tersebut disebabkan karena masyarakat di sekitar Kelurahan Ngemplak Simongan dan kelurahan tetangga yakni Kelurahan Manyaran terdapat warga yang terkena Covid-19. 

Dalam bulan November 2020 ini di Kelurahan Ngemplak Simongan mengalami kasus tertinggi dengan 6 kasus warga yang terkena Covid-19, sedangkan di Kelurahan Manyaran selaku tetangga dekatnya terdapat hingga 18 kasus. “Alasan masih adanya pembatasan ketat itu ya karena daerah kami dekat dengan daerah dengan kasus coronanya banyak. Meski kalau di Jatiwayang sendiri masyarakat yang terkena Covid itu pasti sembuh dan jika ada kematian itu awalnya saja dikatakan karena Covid tapi hasilnya tidak. Tapi masyarakat tetap waspada,” tutur Pak Wasis. 

Masyarakat juga dinilai proaktif dalam menjaga keamanan dan kesehatan bersama dengan selalu melapor jika ada warga yang mendapat tamu dari luar kota kepada Ketua RT setempat. Selama pandemi melanda, kriminalitas tidak terjadi di wilayah Jati Wayang. Keadaan cenderung kondusif meski masyarakat ketakutan menghadapi pandemi.

Sementara Kelurahan Krapyak memiliki cerita yang berbeda. Pak Hendro Wahono selaku Lurah Krapyak menjelaskan bahwa masyarakat saat menyikapi corona ini dengan percaya dan tidak percaya. “Ada yang bilang kepada saya jika corona adalah virus yang sengaja diciptakan oleh penguasa-penguasa,” jelasnya. Seperti halnya yang terjadi di daerah-daerah lain portal-portal di Krapyak juga banyak yang ditutup.

Pak Hendro mengaku tidak dapat mengubah persepsi masyarakat tentang virus Covid-19. Sebab, beliau meyakini bahwa masyarakat terdiri dari macam-macam kepribadian yang tidak dapat disamakan. 

Padahal di Krapyak sudah pernah terdapat kasus warga yang terkena Covid-19 dan beberapa anggota keluarganya meninggal. “Bukti di lapangan kan banyak, sebenarnya ini memang virus yang membahayakan, tapi bagaimana lagi yang penting kami dari pemerintah kelurahan tidak lelah menghimbau dan memberi penyuluhan terkait Covid-19 minim mengenai kebiasaan 3M,” ujar Pak Hendro. Selain itu data kelurahan menunjukan pada Maret awal persebaran Covid-19 hanya di angka 0 sampai 3 warga, tetapi di bulan Agustus sampai terdapat belasan orang yang akhirnya ada 4 diantaranya meninggal dunia.

Dahulu tepatnya pada bulan Maret 2019 ketika Indonesia memasuki fase awal kasus pandemi, pemerintah Kota Semarang sempat memberi edaran agar tidak beribadah di tempat ibadah terlebih dahulu. Tetapi, ada saja sebagian dari masyarakat yang tetap “nekat” dengan dalih “hidup dan mati di tangan Tuhan”. 

Ada juga masyarakat yang “nekat” tidak memakai masker saat keluar rumah karena menganggap keluarnya hanya sebentar. Itulah gambaran sebagian dari  masyarakat, bukan berarti masyarakat lain juga melakukan hal yang sama. Bulan Maret sampai Oktober kegiatan rapat-rapat pemuda dilakukan melalui zoom, bapak-bapak dan ibu-ibu PKK memanfaatkan grup WhatsApp untuk melakukan koordinasi.

Sedangkan di Petemesan, awal kemunculan Covid-19 mayoritas masyarakat sempat panik, tetapi ada juga sebagian yang memiliki pemikiran jika Covid-19 adalah flu biasa dan flu yang dibuat-buat. Di sinilah peran Pak Sugeng Sutrisno selaku ketua RT untuk memberikan pengertian kepada masyarakat agar tidak panik, sebab hanya akan membuat stress dan ketakutan saja. 

“Masyarakat kan banyak yang kena dampak secara ekonomi, sudah kehilangan pekerjaan masih ketakutan ya lama-lama nanti jadi stress. Saya sih mengarahkan kepada masyarakat supaya tetap tenang patuhi dan lakukan protokol kesehatan. Buktinya setelah pada di PHK ya pada memanfaatkan lingkungan sekitar, jadi ya banyak yang terus jualan makanan atau berdagang” tutur Pak Sugeng. Adanya pandemi ini juga mengakibatkan Ketua RT mengambil kebijakan untuk menurunkan dana iuran warga setiap bulannya yang tadinya sebesar Rp. 60.000, menjadi Rp. 30.000 sebagai upaya meringankan beban warga.

Pada awal pandemi, terdapat dua warga dari satu keluarga yang sama di Petemesan yang terjangkit Covid-19. Sebelum dibawa ke rumah dinas walikota Semarang sesuai prosedur penanganan Covid-19 di Semarang, kedua warga tersebut terlebih dahulu melakukan isolasi. Ruang isolasi telah disiapkan oleh Ketua RT yang ditempatkan di pos kamling. Dengan kebijakan ini lalu warga membuat pos kamling baru. Pembuatan pos kamling baru memang tidak luput dari kebijakan RT setempat agar pos kamling lama digunakan sebagai ruang isolasi sebab pos kamling terletak 100 meter dari pemukiman warga yang padat.

Pos Kamling di Kampung Petemesan.

Setelah itu, ketua RT juga mengkhususkan bilik kamar mandi umum yang sudah tersedia untuk warga yang terkena Covid-19. Selama 14 hari masa karantina warga yang terjangkit Covid-19 mendapatkan kebutuhan makan sehari-hari dari para tetangga. Relasi ini terjalin secara harmonis tanpa adanya pengasingan terhadap warga yang terjangkit Covid-19 maupun keluarganya yang lain. Meski masyarakat lain juga sedang mengalami kesulitan secara ekonomi dan memiliki kekhawatiran mengenai Covid-19, tetapi pandemi terjadi bukan tanpa dampak positif. Dampak positif dari adanya pandemi yang terjadi di Petemesan ialah semakin eratnya kekeluargaan antar tetangga.

Disadur dari laporan Kolektif Hysteria, kontributor riset #KotaKitaKovid di Semarang.

Catatan FGD Ragam Solidaritas Warga di Masa Krisis

Munculnya pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 lalu membuka banyak peluang untuk penjelajahan pengetahuan dan praktek bermasyarakat yang baru. Penyebarannya yang pesat dan menyeluruh ke segala penjuru nusantara seakan taburan benih yang membuahkan reaksi berbeda-beda, tergantung pada tanah di mana ia berada. Hal ini dipandang menarik untuk diteliti oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS). Berkolaborasi dengan 12 kota di Indonesia, RCUS menginisiasi rangkaian mini riset “Kota dan Pandemi”.

Di beberapa wilayah, infeksi virus covid-19 turut memantik momentum baru. Keberadaannya memberikan kacamata baru untuk melihat tantangan lama perkotaan yang terakselerasi sejak pandemi. Ia mendorong kontribusi masyarakat untuk mempertanyakan dan mendefinisikan kembali ruang secara demokratis dan partisipatif. kebiasaan barupun kian menguji dan mengubah wabah banyak elemen kehidupan kota. diantaranya yang kita sorot adalah terkait dengan ruang publik, hunian sewa di masa krisis, praktek ekonomi informal, mobilitas sosial-ekonomi, serta sistem ketahanan pangan. tentunya tema ini juga terjadi di banyak kota yang pada dasarnya memiliki akselerasi yang juga mirip terjadi antara satu kota dengan kota lainnya.

Hunian Layak Masa Pandemi

Berdasarkan catatan  UN Special Rapporteur  On Right to Adequate Housing bahwa hunian merupakan garda terdepan dalam menghadapi pandemi. kebijakan PSBB dan work from home yang ditetapkan membuat kita sadar bahwa rumahlah tempat yang harus menjadi titik terakhir bertahan menghadapi pandemi dan tentunya keamanan, keterjangkauan dan memberi rasa nyaman harus diprioritaskan dan merupakan standar kebijakan yang diprioritaskan dari pemerintah. tentunya perlu kita ketahui pula bahwa kondisi dan realitas yang ada adalah 69.59 persen hunian di DKI jakarta di bangun secara swadaya  (BPS 2016). selain itu juga bahwa 35 persen KK adalah penyewa  (BPS 2016), selain itu rentan biaya sewa di kampung kota Jakarta pada 2017 adalah 300 ribu rupiah sampai dengan satu juta rupiah. sementara 1.8 juta (29.32 persen) rumah tangga penyewa di kawasan metropolitan dan 540 ribu dari 1.8 juta penyewa tersebut memiliki penghasilan dibawah UMP DKI Jakarta, sementara stok rumah susun sederhana sewa kawasan metropolitan hanya 27.965 unit atau sekitar 5 persen saja, serta sebanyak 44 persen rumah di jakarta memiliki luas 9,9 meter persegi /orang (BPS 2016).

Kenyataan lain dari garda terdepan dari fenomena hunian adalah kawasan kampung kota terutama yang ada di Jakarta sangat responsif dalam menghadapi pandemi, beberapa fakta yang kita dapati adanya pembuatan kebijakan mikro-lockdown dimana area utama memasuki kawasan biasanya di portal oleh warga yang tidak boleh sembarang orang bisa masuk dan juga ada sebagian kampung yang menggunakan penjagaan protokol kesehatan sebelum memasuki area rumah meski adalah warga setempat. kondisi ini tentunya sangat dimanfaatkan bagi pekerja sektor informal masa pandemi dalam menghuni kampung kota yang fleksibel dan biaya sewa terjangkau serta mudah untuk diakses bagi warga pendatang karena minim administrasi. sementara itu dari pemerintah pusat seperti Kementerian Sosial belum memiliki program untuk membantu perlindungan penyewa atau pengontrak rumah di kota. program yang digulirkan masih terbatas pada pemilik rumah seperti program renovasi rumah.

adapun kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam memberi perlindungan bagi penyewa hunian di DKI Jakarta masih terbatas bagi penyewa rumah susun sederhana sewa milik DKI Jakarta yakni dengan membebaskan biaya sewa, akan tetapi listrik masih ditanggung oleh penyewa. hal ini juga ditambah dengan tidak adanya data akurat seberapa besar unit sewa swadaya dan partikelir terutama yang terdapat di kota jakarta, dan juga belum adanya produk hukum yang jelas dari penyewa dan pemilik hunian yang jelas dan pokok persoalan pendataan yang tidak ada dari pemerintah terkait hunian sewa swadaya menjadi keterbatasan dan kurangnya perlindungan penyewa hunian swadaya dan partikelir di DKI Jakarta. sementara menurut Sarah selaku dosen arsitektur menyebut kajian akademis tentang hunian sewa masih jarang ditemukan.atas dasar kenyataan ini refleksi yang terjadi adalah bahwa momentum pandemi harus mampu mendorong diwujudkannya strategi jangka panjang bidang hunian terutama hunian sewa dan penyewanya guna menciptakan ketahanan warga menghadapi masa krisis seperti pandemi covid-19 ini. solidaritas dan kolektivitas menjadi strategi penting bagi rakyat miskin kota ketika kondisinya dibuat tidak berdaya menghadapi pandemi. dan momentum pandemi ini untuk dapat memberdayakan rakyat miskin perkotaan untuk mendapatkan keamanan dan keterjangkauan dalam bermukim serta kenyamanan dan hunian yang sehat menghadapi pandemi. Catatan penting bahwa pemerintah baik pusat maupun daerah untuk dapat membuat standar pelayanan minimal untuk bidang perumahan yang salah satunya adalah penyewa, selain itu juga pemerintah diharuskan bersikap dan mempersiapkan warga dalam keadaan darurat seperti penanggulangan bencana alam maupun seperti pandemi ini. selain itu di DKI Jakarta saat ini sedang menguji coba model pengelolaan hunian berbasis koperasi dan PSO (public service  obligation) dan persoalan data hunian sewa sebenarnya pemerintah seperti DKI bisa berkolaborasi dengan RT dan RW untuk mendata hunian sewa dan juga selain bantuan sosial di masa krisis, pemerintah pusat harus mempersiapkan program investasi sosial jangka panjang atau perlindungan sosial adaptif.

Solidaritas dan Gerakan Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan merupakan isu yang cukup penting di masa pandemi, berbagai program bantuan pun turut hadir dari pemerintah untuk menanggulangi krisis pangan di masa pandemi. namun hal terpenting adalah kita melihat gerakan solidaritas masyarakat dari lintas komunitas bermunculan yang juga patut dipertimbangkan sebagai upaya penanganan krisis pandemi berbasis masyarakat. salah satunya misalnya dapur umum di Yogyakarta dan Surabaya dan pada konteks Jakarta juga timbul gerakan kolaborasi pangan antara petani di Desa dalam menyuplai beras langsung kepada konsumen pembeli yang terorganisir dari komunitas JRMK (jaringan rakyat miskin kota) dan UPC (Urban poor consortium) dan tentunya pada level pemerintah Jakarta juga menyediakan upaya kolaborasi skala besar yaitu penggalangan Dana yang terorganisir dan terencana untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak serta juga kolaborasi pangan antara petani beras dengan pemerintah DKI Jakarta.

berangkat dari permasalahan kota Yogyakarta gerakan pangan hadir melalui serangkaian dapur umum yang didirikan oleh komunitas Kebunku dan dapur umum Yogyakarta. perjalanan panjang menyuplai makanan matang kepada para pekerja informal telah berjalan lama selama pandemi, target sasaran penerima makanan matang dari dapur umum Yogyakarta ini merupakan buruh gendong perempuan di pasar Beringharjo. pasalnya Masih terdapat permasalahan sosial yang melingkupi pekerja sektor informal. Bahkan permasalahan mereka semakin bertambah kompleks saat pandemi, mulai dari berkurangnya pendapatan karena sepinya konsumen, menurunnya daya tahan pangan, dan kerentanan mereka terhadap penyakit. Sedangkan pemerintah masih belum banyak memperhatikan situasi pekerja informal, sehingga butuh intervensi secara formal dan kolaboratif agar mereka mampu bertahan di situasi pandemik.

Selain dapur umum, beberapa masyarakat merespon kondisi krisis pangan dengan membentuk kegiatan pertanian di wilayah perkotaan. Wilayah pertanian di kota yang semakin sempit, membuat kegiatan KebunKu memanfaatkan lahan kosong dibelakang sekretariat jaringan Gusdurian

· Kegiatan KebunKu, selain ditujukan untuk pemenuhan sehari-hari juga ditujukan untuk mensuplai dapur umum di Yogyakarta. Selain itu, KebunKu ditujukan sebagai media pendidikan bagi masyarakat perkotaan tentang pentingnya pertanian kolektif sebagai langkah menuju kemandirian pangan. Sentra pariwisata dan tempat belanja seperti pasar tradisional yang sepi, menyebabkan para buruh gendong, tukang becak, dll. Kehilangan pendapatan. Sedangkan mereka membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan, ongkos untuk pulang pergi, dan WC umum yang berbayar. Kondisi ini akhirnya direspon oleh beberapa kelompok masyarakat untuk mengupayakan solusi minimal yang mampu membantu pekerja informal dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka. Sejak pandemik menerpa Yogyakarta di bulan Maret, hingga Mei 2020 telah bermunculan kegiatan solidaritas pangan, solidaritas ini menumbuhkan 12 dapur umum yang aktif berjejaring di Yogyakarta. Sekitar 700 - 800 nasi bungkus dibagikan tiap harinya kepada pekerja informal dan kelompok masyarakat rentan lainnya. Dalam menjaga nyala kompor dan kebutuhan bahan pangan, solidaritas pangan mengandalkan donasi dan tenaga sukarela. Namun, karena vitalitas dapur umum yang bergantung pada donasi, sedangkan donasi sifatnya tidak tetap dan dapur memerlukan suplai bahan pangan yang berkelanjutan, menyebabkan beberapa kegiatan solidaritas pangan mulai surut (tidak mematikan)

hal penting yang disampaikan oleh Muhammad Guntoro adalah terkait karakteristik rakyat miskin dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya; mengecer dan jangka pendek, harga nomor satu dan rasa nomor dua, kuantitas nomor satu dan kualitas nomor dua. Karakteristik demikian terjadi karena mayoritas penghasilan harian, tidak ada tempat penampungan yang memadai untuk jangka panjang, mudah mendapatkan makanan murah di warteg/sektor informal, dan “mayoritas pekerja fisik yang membutuhkan karbohidrat”. Karakteristik konsumsi berkorelasi dengan kerentanan yang ditimbulkan kemudian, sebagai pengecer rakyat miskin mendapatkan distributor paling akhir dengan harga yang lebih tinggi ketimbang di agen, keterbatasan biaya juga menyebabkan mereka tidak mampu menyetok makanan lebih banyak sehingga ketika situasi pandemi dan ketersediaan pangan sedikit di pasar yang mengakibatkan harga pangan lebih tinggi mereka akan merasakan dampaknya, dan akhirnya mereka akan membeli pangan dengan kualitas lebih buruk karena harganya lebih murah

· Mengikuti karakteristik konsumsi rakyat miskin kota, Jaringan rakyat miskin kota (JRMK) dan UPC menginisiasi program belanja bersama. Program Belanja Bersama berusaha menyediakan bahan pangan yang murah dan berkualitas, dengan langsung menghubungkan produsen (petani) ke konsumen (anggota JRMK). Dalam proses belanja bersama dilakukan pengumpulan informasi dengan serikat tani di Jawa.Namun, mengumpulkan beras dari petani menjadi persoalan karena membutuhkan biaya atau modal, sedangkan modal paling cepat didapat dari tengkulak yang bahkan sebelum panen sudah bisa dibeli. Proses kerjasama belanja bersama dilakukan antara JRMK dan UPC bersama dengan petani Kendeng. Proses kerjasama ini memberikan dampak saling menguntungkan, JRMK mendapatkan beras murah dan berkualitas sedangkan petani Kendeng mendapatkan harga yang lebih tinggi ketimbang di tengkulak. Mekanisme distribusi beras Kendeng ini dilakukan melalui perantara koperasi. Koperasi-koperasi JRMK di tiap kampung menjadi distributor ke para anggotanya.

Beberapa keuntungan distribusi melalui koperasi; 1. Anggota koperasi JRMK mendapatkan harga beras yang murah; 2. kedua keuntungan yang didapatkan oleh koperasi akan kembali diterima oleh anggota koperasi sendiri sehingga secara tidak langsung saat mereka membeli beras dari koperasi maka mereka juga menabung secara tidak langsung; 3. Mekanisme ini memberdayakan perekonomian anggota koperasi JRMK yang notaben rakyat miskin kota. Selama pandemi, modal pembelian beras sebagian disubsidi dengan mengandalkan donasi terbuka. Selain itu pula, sejak pemerintah mulai memberikan bansos belajar bersama diganti dengan pemberian uang cash bagi mereka yang tidak mendapatkan bantuan sosial. Bagi rakyat miskin, donasi tidak bisa menjadi instrumen bantuan yang berkelanjutan karena sifatnya yang sementara waktu. Dengan model belanja bersama, selain memberikan biaya operasional yang rendah juga mampu memberikan kebutuhan rakyat miskin yang sustain. Kebutuhan pangan seharusnya jangan dikelola oleh perusahaan, karena kebutuhan mendasar masyarakat seharusnya sudah menjadi hak masyarakat bukan untuk urusan profit yang menyebabkan harga pangan berkualitas menjadi mahal. Lalu, pemerintah seharusnya menjadi fasilitator bagi komunitas-komunitas masyarakat untuk bekerja sama dengan lumbung pangan di daerah lainnya

DKI Jakarta bahwa · Ketahanan pangan bukan sekedar tanggung jawab pemerintah saja, namun tanggung jawab masyarakat sampai perseorangan. DKI Jakarta 90% masih menggantungkan ketersediaan pangannya dari luar daerah. Dalam upaya pemenuhan ketersediaan pangan, Pemprov DKI Jakarta melalui BUMD, melalui mekanisme B to B (bisnis ke bisnis). bekerjasama dengan daerah penghasil pangan untuk pemenuhan pangan warga Jakarta. Selama pandemi, Pemprov DKI Jakarta telah mempertemukan pelaku usaha di Jakarta dengan pelaku usaha di luar daerah terkait kerjasama pangan. Di level komunitas, sejak tahun 2010 DKPKP DKI Jakarta telah melakukan upaya pemenuhan pangan warga kota Jakarta melalui urban farming, dengan menjadikan pekarangan rumah warga dan lahan tidur sebagai lahan pertanian. Sejak 2017, beberapa program pangan sebagai respon tingginya permintaan beberapa komoditas, melalui BUMD pernah menyediakan pangan murah pada beberapa komoditas. Namun, ketika program serupa tidak ada dan permintaan menurun, otomatis harga pangan menjadi meningkat.

Selain itu upaya yang dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta dalam mengupayakan penanganan pandemi berbasis solidaritas yakni dibuat kebijakan berbasis solidaritas bernama “Kolaborasi Sosial Skala Besar’ atau yang disingkat dengan KSBB dan juga kerjasama petani dan pemerintah DKI jakarta dalam menyediakan kebutuhan beras. tujuan dari KSBB menurut Suharti Sutar selaku penggagas KSBB dari Deputi Pengendalian Penduduk dan Permukiman DKI Jakarta merupakan pengendalian bantuan sosial agar tidak tumpang tindih dalam penyalurannya yang dikhawatirkan akan terjadi penumpukan penerima bantuan dan ketidakmerataan penerimaan bantuan serta sebagai upaya penyaluran bantuan tepat guna dan terencana dan upaya penggalangan bantuan secara lebih luas dan masif. pengelolaan dan manajemen bantuan yang dikelola pemerintah dan pemerintah yang merupakan aktor pendistribusian bantuan dari berbagai sumber bantuan baik CSR dan lainnya menjadi penting dilakukan masa pandemi ini dan juga merupakan representasi baik yang patut ditiru oleh daerah lain.

Selain itu gerakan ketahanan pangan juga muncul di berbagai kota, salah satunya adalah Semarang yang diinisiasi oleh Koalisi Rakyat bantu Rakyat mencoba membuka pertanian perkotaan untuk mengantisipasi krisis pangan yang diakibatkan dari pandemi yang berkepanjangan. tentunya gerakan solidaritas ini merupakan hal yang sangat mendasar dan penting dilakukan dan merupakan wadah kolaborasi yang patut menjadi acuan bagi daerah atau kebijakan pemerintah pusat dalam melakukan pendistribusian bantuan kepada masyarakat di masa pandemi covid-19 ini.

Masa Depan Ruang Publik Kota

ruang terbuka merupakan sarana penting di masa pandemi, karena pada dasarnya selama pandemi ruang publik banyak di tutup untuk mencegah laju penularan kasus infeksi covid-19. namun hal yang perlu kita tilik lebih lanjut adalah ruang terbuka merupakan ruang yang dianggap aman dari laju penularan covid-19 dengan tetapi mengupayakan protokol kesehatan, karena ruang yang terjamin dari siklus perputaran udara, maka ruang terbuka sebenar nya menjadi alternatif penting bagi warga kota untuk menikmati udara segar dan sarana penghilang stres dari masa pandemi yang notabene banyak waktu dihabiskan di dalam rumah dan juga bekerja maupun pembelajaran yang dilakukan di dalam rumah. 

tentunya hal ini sangat bertentangan bagi rumah yang tidak memiliki akses ruang terbuka, selain itu juga kita melihat bahwa ruang terbuka yang ada dalam rumah sakit juga minim. Karena keterbatasan akses ruang, banyak rumah sakit saat ini kekurangan taman. menurut paparan ahli kesehatan pada diskusi kota Medan menyebut di masa pandemi covid-19 ini sebenarnya fungsi ruang terbuka atau taman pada rumah sakit sangat penting, pasalnya rumah sakit yang memiliki taman terbuka sudah sangat jarang, biasanya rumah sakit yang memiliki taman terbuka sangat berguna bagi pasien yang sedang sakit untuk berjemur pagi dan menikmati udara segar pagi hari di rumah sakit dan juga untuk menghilangkan stres ketika berada di dalam rumah sakit.

untuk kota Medan, dari komunitas taman selama pandemi ini sedang berjuang memerdekakan lapangan merdeka kota Medan yang harus menjadi situs cagar budaya. lapangan merdeka kota Medan merupakan sarana penting meningkatkan kesadaran warga tentang nilai sejarah, budaya dan kesadaran penting tentang ruang terbuka yang sejak lama terjadi pembiaran dan dialihfungsikan sebagai pusat jajanan dan kini komunitas taman kota Medan beserta kolaborasi menggugat lapangan merdeka menjadi cagar budaya yang harus dikembalikan haknya sebagai situs sejarah dan ruang terbuka terkabulkan oleh pengadilan Negeri kota Medan.

selain itu kita juga melihat kenyataan ruang terbuka yang terjadi di kota Cirebon. selama pandemi covid-19 berlangsung di Indonesia ini komunitas Sinau Art bersama kolaborasi lintas komunitas melakukan kolaborasi antara pihak swasta, pemerintah dan komunitas juga dapat mengelola taman terbuka kota Cirebon yang sudah lama terbengkalai dan terkesan tidak terurus. melalui kerjasama antara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) karena taman Tabalong yang terletak di daerah Cikalong tersebut berdekatan dengan sungai, sehingga pengelolaan lahan kosong tersebut  ada pada BBWS dan saat ini penerbitan Taman Belajar Cikalong atau dikenal Tabalong sudah berhasil dijalankan dengan model kolaborasi lintas aktor dalam mengelola taman tersebut. metode pengelolaan Taman yang diinisiasi oleh lintas aktor tersebut saat ini mengutamakan partisipasi warga untuk turut serta membantu mengelola taman dengan cara menanam bersama warga dan kegiatan edukasi lingkungan lainnya yang menjadikan Taman Tabalong menjadi hidup dengan partisipasi dan desain warga dalam pengelolaan taman. meski demikian, upaya kolaborasi yang dilakukan tersebut belum memiliki kepastian sampai sejauh mana kemudian taman Tabalong dapat terus berjalan dengan model pengelolaan kolaborasi karena kedepannya kepentingan “politik” pemerintah tentu akan dinamis dengan pergantian kepala daerah. ini masih menjadi tantangan komunitas untuk memperjuangkan pengelolaan swadaya masyarakat terhadap Taman Tabalong.

selain itu juga menarik disimak dari perspektif komunitas Ayo Ke Taman yang terletak di Jakarta. komunitas Ayo Ke Taman pada dasarnya adalah komunitas yang bergerak pada bidang edukasi warga terhadap taman maupun memanfaatkan taman sebagai ruang publik yang warga kota miliki. namun pada perjalannya, kolaborasi yang dilakukan dari komunitas Ayo Ke Taman terhadap pengelola taman pemerintah DKI Jakarta masih bersifat kolaborasi dalam pemanfaatan ruang taman, dan belum sampai pada proses kolaborasi pengelolaan secara bersama dengan melibatkan partisipasi warga ataupun lintas aktor. penting dipahami bahwa kasus Jakarta pada dasarnya sangat kompleks dimana pengelolaan taman sudah terstruktur sedemikian rupa dan penting kiranya dipahami bahwa kedepannya mungkin perlu menjadi catatan kritis apakah warga bisa membantu mengelola taman atau berpartisipasi dalam pengelolaan taman kota di DKI Jakarta sehingga kesadaran warga tentang taman dan juga rasa kepemilikan warga terhadap taman memiliki momentumnya. kegiatan pengelolaan taman berbasis warga dirasakan sederhana seperti pengadaan area lahan dimana warga bisa menanam tanaman kesayangannya yang mungkin bisa menjadi kesadaran kepemilikan taman secara bersama demi menjaga lingkungan kedepannya yang lebih asri dengan model pemanfaatan secara kolaborasi dan partisipatif.

Mobilitas Sosial dan Ekonomi

Di Indonesia sendiri, akibat pembatasan sosial beberapa negara dan dalam negeri berpengaruh pada harga sejumlah pangan. Hal ini ditengarai oleh distribusi pangan yang terhambat. Terlebih, pandemi dan pembatasan sosial juga berimbas pada penurunan daya beli masyarakat, sehingga kondisi ini makin memperlemah penyerapan ekonomi beberapa sektor. Di sektor pertanian, para petani di beberapa daerah mengalami kerugian akibat hasil panennya dihargai rendah dan tidak terserap ke pasar yang lebih luas akibat terhambatnya pengiriman produksi.

Melihat situasi ini, kiranya kita perlu memikirkan kembali pola mobilitas atau distribusi ekonomi yang ada. Hal ini bukan saja membantu penghidupan para produsen di tengah situasi krisis seperti sekarang, tapi juga memudahkan konsumen untuk mengakses barang dan pangan, khususnya konsumen di wilayah kota yang notaben memiliki ketahanan pangan rendah karena pasokan pangannya bergantung pada wilayah non-perkotaan. 

karena kita tahu bahwa pola mobilitas sosial dan ekonomi juga merupakan kelompok yang sebenarnya rentan di masa pandemi ini. selain itu mobilitas sosial seperti pekerja migrant di luar negeri yang mengharuskan tidak berangkat karena situasi pandemi ini juga menjadi hal penting untuk didalami, pasalnya kita tidak banyak mengetahui bagaimana para pekerja migrant tersebut beradaptasi secara ekonomi di masa pandemi karena kebiasaan ekonomi mereka adalah merantau untuk bekerja ke negara lain menjadi TKI dan kemudian bagaimana mereka beradaptasi merupakan hal yang menjadi pokok diskusi dan kajian dalam diskusi ini.

menurut Kejo selaku menjadi driver ojek online sepeda motor merasa di masa pandemi ini mendorong inovasi baru di kalangan ojek online agar tetap bertahan ditengah kelangkaan mendapatkan penumpang. pasalnya , algoritma sistem ojek online yang dialami seorang seperti Kejo merasa karena kebiasaannya menarik penumpang orang, maka sistem terus hanya mendeteksi untuk mencari orang, berbeda halnya dengan sekali Kejo mengambil tarikan GoFood maka orderan Go Food yang akan terus diterimanya dan proses ini tentunya sangat panjang untuk dapat beralih ke dalam skema pengantaran Go Food.  selain itu juga Kejo di tengah kelangkaan ekonomi untuk mengantar penumpang, memiliki inisiatif untuk berjejaring dengan komunitas ojek online lainnya membuka komunitas jasa titip yang promosinya dilakukan dengan media sosial seperti twitter. tentu saja inovasi membuka (jastip) jasa titip makanan membuahkan peluang ekonomi baru yang setidaknya lebih berjalan ketimbang untuk menunggu order aplikasi ojek online untuk mengangkut penumpang

selain itu menurut Arif selaku dosen Universitas Gajah Mada yang juga merupakan tim peneliti ekonomi informal seperti Ojek Online melihat fakta bahwa di masa pandemi ini pendapatan ojek online menurun dan dibarengi dengan jam mobilitas yang tinggi (jam kerja) namun, disisi lain para pelaku ekonomi ojek online juga merupakan kelompok yang menjadi rentan terhadap wabah virus covid-19 dengan tingkat mobilitas yang tinggi tersebut dan berinteraksi dengan banyak orang yang tidak diketahui latar belakang kesehatannya.  

Arif mendalami fakta bahwa kilometer pada driver ojek online menjadi naik pada menu Go send dan terjadi peningkatan sebanyak 80 persen selama pandemi Go send, Go Food  dan Go kilat rata-rata pelakunya mengaktifkan aplikasi selama 14 jam bahkan ada yang 24 jam dan secara kesehatan mereka sudah bekerja terlalu tinggi yang dikhawatirkan kesehatan dan sistem imun mereka menurun karena kelelahan bekerja dan memberi peluang untuk dengan mudahnya terasuki virus covid-19 ke dalam tubuh. sistem aplikasi pada Gojek dengan menu Go kilat menempuh jarak yang sangat jauh dan panjang untuk bermobilitas dan pendapatan yang didapat perharinya sekitar 89 ribu rupiah. 

kenyataan ini juga dialami oleh Kejo selaku driver Ojek Online dimana hari biasa mencapai 400 ribu dan saat pandemi ini hanya 70 ribu selain itua juga ditambah perlindungan kesehatan dan hukum yang lemah menjadikan kerentanan pelaku ekonomi informal yang bermobilitas tinggi menjadi sangat rentan. seperti ekspedisi kecil cenderung terdampak yang kondisinya cukup berbeda dengan ekspedisi besar yang justeru meningkat di masa pandemi ini dengan dilemanya jam kerja korporasi ekspedisi besar sangat tinggi dan tekanan kerja yang juga tinggi yang rentan terdampak kelelahan dan menurunnya daya imun mereka. 

sektor mobilitas ekonomi yang terdampak adalah buruh migrant bahwa ada kenyataan dan fakta yang kita dapati pekerja migrant tidak mendapatkan atau menjadi kelompok sasaran penerima skema bantuan dengan stigma mereka sudah mampu karena bekerja di luar negeri, alhasil banyak dari pekerja migrant terlilit hutang karena sudah tidak memiliki tabungan dan ada sebagian dari mereka yang mencoba bertahan dengan keterampilan yang dimiliki selama bekerja di luar negeri untuk membuka les bahasa. faktor ini menyebabkan kelesuan ekonomi rumah tangga dan juga negara menjadi lemah karena banyak pekerja migran yang kembali dari luar negeri ketimbang mereka berangkat ke luar negeri karena situasi yang tidak pasti di masa pandemi ini. hal yang tidak kalah penting adalah bahwa stigma yang melekat pada pekerja migran sungguh mengkhawatirkan karena dituduh dan dianggap sebagai pembawa virus covid-19 karena mereka datang dari luar negeri.

selain itu kita juga melihat kenyataan mobilitas pekerja yang tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta. di masa pandemi ini dari hasil penelitian oleh Rizki Dwika mendapati bahwa rata-rata pekerja yang bertempat tinggal dan berdomisili di Bekasi lebih banyak menghabiskan waktu di Bekasi dan tidak seperti biasanya sebelum pandemi terjadi rata-rata mereka banyak menghabiskan waktu di Jakarta dan juga penelitian ini memperlihatkan bahwa rata-rata pekerja merasa takut untuk menggunakan transportasi umum selama bekerja untuk melakukan mobilitas sehari-hari. oleh sebab itu kenyataan ini juga diukung bertambanya angka pengguna kendaraan pribadi pada pekerja yang berdomisili di Bekasi dan bekerja di Jakarta dari kalangan milenials kota Bekasi yang menjadi responden survey.

Resistensi Ekonomi Informal

Tantangan bagi pekerja sektor informal terjadi secara berlapis. Jaminan kesehatan oleh pemerintah sangat bergantung pada status kependudukan wilayah, sementara tak sedikit dari pekerja sektor informal yang merupakan perantau, di kota besar seperti Jakarta, misalnya. Penerapan pembatasan mobilitas sosial pun membuat ruang gerak ekonomi semakin sempit. Kampung-kampung dan jalanan kota yang biasa mereka singgahi untuk mencari rezeki seketika ditutup dan memutus sumber penghasilan. 

Abdul Manap Pulungan dari Center Macroeconomics Finance (MacFin) INDEF mengemukakan bahwa biasanya kegiatan ekonomi informal tidak sensitif terhadap guncangan ekonomi dan memiliki imun yang baik dalam hal perekonomian mereka sehari-hari, bahkan di saat perekonomian mengalami krisis. Kelompok ini bisa beradaptasi dalam berbagai model gerak perekonomian. Tapi, krisis akibat Covid-19 yang bersumber pada kesehatan membuatnya tidak dapat ditawar kembali. Jika tidak ada intervensi secara tepat, bisa jadi hal tersebut dapat mematikan kehidupan sektor informal dan menekan kehidupan pelakunya.

Krisis yang secara langsung menerpa sektor ekonomi informal ini membuat berbagai elemen di dalamnya menarik untuk diteliti lebih dalam. Mulai dari perubahan perilaku pedagang, pola keterbangunan fisik pasar, sampai keterbatasan daya beli konsumen yang berujung pada inisiatif-inisiatif sosial.

Misalnya, solidaritas yang muncul di kalangan pedagang Ancol yang tergabung dalam KOPEKA (Koperasi Pedagang Kecil Ancol). Ditutupnya area wisata Ancol dengan jangka waktu yang tak bisa ditentukan membuat pendapatan harian 253 pedagang “asongan” dan 53 pedagang yang tergabung dalam KOPEKA pun menurun drastis. Bukan berpasrah, anggota KOPEKA justru mencoba alih fungsi perdagangan dengan menjual masker dan usaha keliling. 

Sayangnya, sebagian dari usaha mereka tidak bisa berjalan sempurna dan akhirnya modal yang dimiliki dari hasil tabungan selama berdagang di Ancol habis hanya untuk memulai usaha baru tanpa meraup sedikitpun keuntungan, bahkan tidak juga menutup modal. Dengan kondisi yang tidak menentu, KOPEKA sebagai wadah para pedagang juga mencoba mengurai masalah lainnya, seperti membantu anggota pedagang yang diusir dari kontrakannya karena tidak mampu membayar dan juga memberikan bantuan logistik pangan. Namun, keadaan anggaran kas keanggotaan yang terbatas membuat gerakan solidaritas ini pun sempat tidak berjalan. 

Selang berjalan, JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota) yang merupakan organisasi induknya, menawarkan bantuan yang dihasilkan dari aplikasi penampung bantuan masyarakat atau crowdfunding, KitaBisa.com. Bantuan ini lantas menjadi stimulus baru bagi anggota KOPEKA untuk membantu para pedagang yang memang belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan hidup. Setidaknya, hal ini bisa menjadi penopang dikala bantuan pemerintah belum kunjung datang. Setelah bantuan pemerintah mulai aktif, anggota KOPEKA pun terbantu, meskipun belum seluruh kebutuhannya terpenuhi. Mereka masih harus menjual harta berupa benda-benda dan hasil penghasilan berdagang di Ancol demi mendapat nafkah.

Menurut Marco Kusumawijaya menyebut bahwa stigma pada PKL (pedagang kaki lima) atai sektor informal sudah memiliki akar sejarah yang cukup panjang sejak zaman kolonial, termasuk definisi formal dan informal yang pada dasarnya harus didefinisikan ulang agar tidak menimbulkan kekeliruan definisi dan yang informal malah justru dianggap negatif karena memang pada dasarnya formal dan informal pada dasarnya semua formal karena karena ada bentuknya dan membentuk sehingga untuk itu menurut Melky dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyebut dibutuhkan perspektif baru untuk melihat sektor informal sebagai kekuatan sosial.

sementara itu berkaca dari Surabaya terkait kondisi sektor ekonomi informal yaitu terdapat pasar swadaya yang dikelola oleh masyarakat. seperti di pasar Tembok Surabaya. karena menurut studi SB301 menyebut selama pandemi warga membagi zonasi pasar secara mandiri. selama pandemi ini pula warga nekat untuk tetap berjualan di pasar Tembok selain itu pasar yang ada dan dikelola warga menjadi tambahan penghasilan bagi warga masyarakat dan juga pedagang pasar. tentunya hal terpenting dari kajian pasar terbuka adalah diharapkannya pasar terbuka agar dapat menjadi alternatif desain menghadapi situasi pandemi ini.

tentunya kondisi pandemi banyak mengubah kehidupan sosial masyarakat termasuk pedagang informal pasar Tembok Surabaya. sebelum pandemi belum terdapat paguyuban pedagang dan penertiban satpol PP di pasar terbuka masih dianggap sebagai ancaman. selain itu kenyataannya memang pengelolaan pasar oleh warga masih belum diatur dalam peraturan resmi pemerintah daerah. dan kondisi semasa pandemi ini yang dirasakan oleh pengelola pasar swadaya adalah kurangnya perhatian pemerintah melihat kelangsungan pedagang informal dan persoalan lain adalah terkait pendataan pemerintah yang kadangkala tidak sesuai dengan data lapangan. oleh sebab itu selain kekeliruan data, juga kelangkaan data menjadi masalah mendasar dalam setiap proses pengambilan kebijakan yang juga menimbulkan persoalan lain lantaran data yang tidak akurat. oleh sebab itu tindakan komunitas merupakan jembatan sebagai pengamat dalam melengkapi data primer.

sementara kenyataan yang terjadi menurut Kementerian Koperasi dan UMKM menyebut ada hambatan legalitas untuk melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha informal dimana jika ingin mendapatkan bantuan di masa pandemi harus memiliki nomor induk izin usaha. dan yang kerap terjadi jika ingin dilakukan intervensi kepada pedagang informal oleh pemerintah biasanya ketika informalitas ingin diubah menjadi formal kerapkali menghilangkan ciri karakteristik informal dalam kenyataan sehari-harinya.

untuk konteks pasar Tembok Surabaya terdapat perubahan regulasi peraturan daerah yaitu mengenai pasar partikelir dan penggunaan jalan. Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 1955 menyebut pasar swadaya atau pasar partikelir boleh beroperasi dengan diatur pola dan model operasionalnya  sementara itu menurut Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 1999 menyebut bahwa pasar swadaya tradisional dilarang didirikan di kawasan kotaMadya tingkat II Surabaya tanpa izin. selain itu PD Pasar Surya selaku pengelola pasar di kota Surabaya terdapat 81 daftar aset pasar yang dikelola oleh PD Pasar Surya yang sebagian besar juga menggunakan fungsi jalan dan bertentangan dengan Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 2000 tentang larangan mengubah fungsi jalan atau lalu lintas 

  kenyataan dan fungsi strategis dari pasar terbuka yang memanfaatkan fungsi jalan selama pandemi dan sangat dirasakan adalah pengelolaan pasar terbuka secara terorganisir  dan ruang pasar yang terbuka meminimalisir penyebaran virus covid-19. selain itu Pajar selaku pengelola pasar terbuka dengan memanfaatkan jalan untuk pedagang informal di pasar Tembok menyebut bahwa perhitungan jalan tetap ada agar bisa dilewati ambulan saat keadaan darurat dan selama pandemi ini pengelola terus mengkampanyekan protokol kesehatan dan melakukan pendataan dan pengrganisasian kepada seluruh pedagang.

selain itu formalitas selalu menemukan cara untuk dapat bertahan, yayasan Rame-rame Jakarta memperlihatkan pedagang yang terjadi di kampung poncol tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan pedagang informal kampung dalam mengupayakan sinergi dengan gedung tinggi tempat dimana banyak dari kalangan pekerja gedung yang membutuhkan makanan murah dari pedagang informal kampung Poncol Jakarta. pada dasarnya warga kampung Poncol selalu menghidupkan strategi bertahan dalam keadaan apapun termasuk Banjir yang langsung bergegas membuat dapur umum. untuk menyiasati area tempat tinggal yang juga untuk berjualan agar dapat melayani pembeli dari gedung yang dihalangi oleh sungai, pedagang informal kampung Poncol memanfaatkan tambang dan ember sebagai metode tarik-ulur dimana pembeli menaruh uang di ember dan makanan nasi bungkus akan diberikan kepada pembeli melalui tarik ulur tersebut.

beberapa catatan penting yang dapat disarikan dari hasil temuan temuan fakta dan fenomena yang terjadi di Surabaya dan Jakarta maka kiranya bahwa konteks Pajar selaku pengelola pasar Tembok Surabaya berupaya menghadirkan dialog dengan perantara Dinas dan Pemerintah Kota Surabaya untuk dapat melakukan advokasi kepada para pedagang pasar terbuka. sementara itu dari Pemerintah yakni Kementerian Koperasi dan UMKM Indonesia menyebut untuk menangani sektor informal termasuk dalam memberi bantuan dan upaya advokasi perlindungan lainnya dibutuhkan pendataan dan bisa diupayakan secara kolaboratif antara pemerintah dan warga, tentunya dalam model pengelolaan kedepannya warga adalah yang utama karena bagaimanapun warga yang memahami konteks wilayahnya dan segala bentuk pengetahuan yang melekat dalam lingkupnya sehari-hari. sehingga dalam proses pengambilan kebijakan sekalipun harus melibatkan warga secara berdaya.

harapan yang ada adalah dibutuhkannya perhatian khusus kepada pemerintah untuk membantu menanggulangi buruh pekerja migran agar mereka bisa bertahan dalam masa sulit ini dan juga dari aspek Ojek Online, bahwa sistem bagi hasil Ojek Online bisa beradaptasi dengan potongan bagi hasil yang tidak berubah seperti kondisi sebelum pandemi yakni 20 persen karena hanya akan membebani driver Ojek Online dan seharusnya pihak aplikasi Ojek Online menurunkan potongan kepada Ojek Online semasa pandemi ini agar tidak membebani para driver Ojek Online menghadapi masa sulit ini dan upaya pemerintah secara serius dalam hal infrastruktur dan kesiapan menghadapi masa pandemi dengan transportasi publik yang berkualitas secara kesehatan dan memberi rasa aman. karena transportasi publik masa pandemi ini merupakan momentum bagaimana membangkitkan orang agar mau bertransportasi publik demi lingkungan yang lebih baik kedepannya.

Suara Mereka: Perasaan, Ide, dan Imajinasi Kota Pasca Pandemi

Suara mereka merupakan bagian dari podcast Rujak Center for Urban Studies (RCUS). Melalui podcast ini, RCUS berusaha menangkap ide, perasaan, dan imajinasi kota pasca pandemi dari sudut pandang warga, aktivis, dan komunitas . Suara-suara yang berhasil kami rekam berisi beragam spektrum obrolan, mulai dari obrolan seputar kondisi lingkungan kota, solidaritas sosial sampai pendapat mereka tentang isu-isu tertentu selama pandemi.

Berikut merupakan Playlist podcast RCUS yang bisa didengar :

Taman Belajar Cikalong: Alternatif bentuk taman di kota

Sumber Foto: Sinau Art

Sinau Art merupakan salah satu komunitas seni di Kota Cirebon. Terbentuk di tahun 2006 dan salah satu fokus kegiatan Sinau Art adalah pada lingkungan sungai. Melalui spektrum kesenian, dan menyediakan festival sebagai ruang pameran produk kesenian. Konsentrasi lingkungan telah membawa komunitas Sinau Art pada penyelenggaraan kegiatan festival di pinggir sungai. Festival jagakali merupakan wadah yang dibentuk untuk wadah kolaborasi melihat konteks sungai yang ada di kota Cirebon sebagai ruang edikasi kepada warga kota Cirebon terkait sungai.

Kota CIrebon sejauh dari pengamatan Nico Permadi memiliki taman yang terlihat kehilangan fungsi. Tentunya dengan kepercayaan Balai Besar Wilayah Sungai untuk pengelolaan sebagian lahan di cikalong, Kota Cirebon telah memberikan kesempatan untuk Komunitas Sinau Art mengekspresikan taman kreatif yang hidup bagi warga kota Cirebon. Kampus (kawasan Manajemen Utilitas Sungai) menjadi bagian dari proyek garapan taman Tabalong (taman Belajar Cikalong) sebagai nama taman yang dibentuk secara perlahan sebagai agenda representasi taman yang hidup di tengah kota.

Menurut Nico Permadi bahwa yang terpenting adalah bagaimana merawat taman? Ini yang menjadi masalahdisetiap area taman di kota-kota di Indonesia. Kalau kita melihat ada area taman yang bagus dan disukai oleh warga kotanya artinya ada manajemen yang baik dari pengelolaan taman tentunya. Namun jika ada taman yang kurang enak dilihat dan tidak menjadi ruang bagi warga kotanya maka sudah pasti taman tersebut tidak baik secara manajemen pengelolaannya.

Selain dari pada itu beberapa representasi taman di beberapa kota seperti Bandung, terlihat aktif dan hidup bagi warga kota lantara ada kegiatan yang hidup dalam taman tersebut. Dari situlah Sinau Art mengeola Taman Baca Cikalong (Tabalong) sebagai taman dan juga ruang belajar terkait kehidupan kota saat ini dan juga seni.

Menariknya bahwa Tabalong lahir pada masa pandemi. Dimana orang merasa khawatir dengan ruang publik, kita mencoba memberikan peluang taman edukasi yang dapat diakses warga kota dari kondisi pandemi ini untuk belajar berbagai hal sesuai kegiatan yang terjadwal dalam skema Sinau Art. Selain itu taman belajar ini juga bersifat outdoor yang diupayakan agar tetap bisa menjaga kesehatan di masa pandemi. Tabalong mencoba mewadahi adaptasi warga kota menghadapi pandemi seperti kegiatan menanam bermusik dan belajar kesenian bagi warga kota Cirebon.

Pandemi ini menjadi peluang bagi kami dalam mengelola taman Tabalong, agar terus bisa aktif menghimpun kegiatan warga kota. Terutama warga yang kesulitan lahan namun memiliki hobi menanam. Maka Tabalong bisa dimanfaatkan bagi mereka yang ingin bertanam dan menghijaukan kota. Kedepan Taman Tabalong harapannya bisa berkembang menjadi edukasi pangan perkotaan dimana warga kota bisa belajar berkebun dan berternak ikan, dimana modal awal yang datang dari warga terkait tanaman dan ikan-ikan bisa menjadi bagian dari taman. Hal terpenting adalah bagaiman warga mau terlibat dalam pengelolaan taman Tabalong ini yang menjadi ide alternative dari berbagai taman yang ada.