Home > Blog > Bogor Kala Wabah: Sebuah Catatan Kronologis

Bogor Kala Wabah: Sebuah Catatan Kronologis

Jika kita menilik balik sejak kasus pertama Covid-19 ini ditemukan di Wuhan maka bulan November 2020 sudah genap satu tahun virus ini mewabah. Seluruh dunia masih berjuang untuk keluar dari pandemi. Eropa mengalami gelombang kedua, sedangkan banyak negara termasuk Indonesia masih berjuang untuk keluar dari gelombang pertama yang tampaknya tak kunjung mereda.

Di Indonesia, sejak melaporkan kasus pertama pada 3 Maret 2020, yang diumumkan langsung oleh Presiden Jokowi, laju pertambahan kasus sangat sulit terbendung. Penyebarannya sudah merata di 34 provinsi dengan rekor tertinggi kasus positif masih dipegang oleh DKI Jakarta.

Kota Bogor yang selama puluhan tahun wilayahnya dirancang sebagai daerah penyangga DKI Jakarta dan tentu terkait erat dengan proses aglomerasinya, memiliki resiko penyebaran virus yang tinggi seringkali dipengaruhi oleh penyebaran di Jakarta. Salah satu faktor yang paling krusial dikarenakan sebagian besar penduduk Bogor baik yang tinggal di kota maupun kabupaten menggantungkan penghidupannya di Jakarta.

Mobilitas penglajunya sangat tinggi Sedangkan kita semua tahu bahwa penyebaran virus sangat bergantung pada mobilitas manusia, virus tidak dapat bergerak sendiri. Inilah yang membuat penyebaran virus di area Jabodetabek sangat khas dan unik dibanding wilayah lain di Indonesia.

Sepanjang pengalaman hampir 9 bulan dilanda wabah sejak Maret, ada begitu ragam kisah yang menarik dan juga tak kalah banyak cerita menyedihkan yang dialami oleh warga Bogor. Tulisan ini ingin mencoba menghadirkan sebuah rangkuman kronologis mengenai wabah di Kota Bogor.

Pasien Positif Pertama di Kota Bogor

Pada 16 Maret 2020, Bima Arya dan rombongan Pemerintah Kota Bogor Kembali dari kunjungan kerja di Turki dan Azerbaijan. Keesokan harinya Bima Arya dan rombongan menjalani tes yang kemudian hasilnya diterima pada tanggal 19 Maret 2020. Dari hasil tes tersebut Bima Arya dan Ara Wiraswara (salah satu pejabat Humas Pemkot Bogor) dinyatakan positif Covid-19. Keduanya lantas menjadi pasien positif pertama dan kedua di Kota Bogor dan  langsung diisolasi di RSUD Kota Bogor.

Tentu saja hal ini mengejutkan semua pihak. Pemerintah Kota Bogor bergerak cepat, satu hari paska pengumuman positif dari Bima Arya, Pemerintah Kota Bogor menetapkan Kejadian Luar Biasa penyebaran Virus Corona (Covid-19) di Kota Bogor.

Pembatasan operasional tempat-tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan dan swalayan menyusul diberlakukan tiga hari kemudian. Tidak lama berselang, salah satu klaster yang pertama muncul di Kota Bogor adalah klaster Dinas Kesehatan Kota Bogor dimana ada 9 orang yang dinyatakan positif dan dari keseluruhan kasus positif tersebut, satu orang meninggal dunia yaitu dr. Yuniarto Budi (Alm), yang merupakan orang pertama yang terpapar virus dari klaster Dinas Kesehatan tersebut.

Kejadian-kejadian tersebut menjadi sebuah titik penentu bagi Pemerintah Kota Bogor untuk tidak menganggap remeh penyebaran virus. Bima Arya bahkan dikisahkan sempat bernazar ketika menjalani isolasi di rumah sakit bahwa dirinya akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan sebanyak-banyaknya orang dari wabah Covid-19 jika kelak diberi kesembuhan. 

Psikologi publik di Kota Bogor juga cukup terguncang dengan rentetan kejadian di pertengahan dan akhir Maret tersebut. Pada tingkatan warga kita bisa mulai melihat portal-portal di perumahan mulai selalu tertutup. Posko-posko banyak terlihat, meskipun dari sekian banyak posko yang berdiri tentu masih banyak kebingungan tentang bagaimana menerapkan prosedur operasionalnya namun kita bisa melihat terbangunnya kewaspadaan warga.

Bangkitnya Klaster Keluarga

Seiring dengan inkonsistensi kebijakan Pemerintah Pusat dan tarik menarik kebijakan antara pusat dan daerah terkait dengan penanganan wabah maka kewaspadaan warga pun mulai luruh apalagi semenjak kampanye normal baru yang banyak digaungkan Pemerintah Pusat sejak akhir Mei. Seluruh sendi kehidupan warga mulai tampak normal. Pusat perbelanjaan seperti mall mulai kembali buka dan jalan-jalan mulai ramai.

Tampaknya memang tarikan untuk kembali pada kehidupan yang normal seperti sebelum wabah cukup kencang setelah dua bulan lebih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan. Pada masa-masa PSBB jumlah kasus positif di Kota Bogor tidak terlalu besar apalagi ditambah dengan tingkat kesembuhan yang cukup tinggi.

Pada akhir bulan Mei tercatat kasus positif sejumlah 111 orang, 45 orang dinyatakan sembuh sedangkan 15 orang meninggal. Pasien yang masih dirawat 51 orang. Bahkan di minggu terakhir bulan Mei tidak ada penambahan kasus baru di Kota Bogor. Dari 111 kasus yang terkonfirmasi positif kebanyakan kasus merupakan kasus impor, terpapar virus akibat perjalanan keluar kota atau di tempat kerja yang kebanyakan berlokasi di Jakarta, salah satu episentrum penyebaran virus Covid-19.

Dengan mulai kendurnya pembatasan sosial, dibukanya kembali tempat-tempat keramaian serta kegiatan perkantoran yang kembali aktif dengan mobilitas warga yang kembali tinggi, terdapat satu bahaya yang mengintai di Kota Bogor yaitu bangkitnya klaster keluarga. Klaster keluarga mulai terdeteksi sejak bulan Juli. Pada tanggal 26 Juli, Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor melalui juru bicaranya Sri Nowo Retno yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor merilis satu kisah klaster keluarga.

Kisah tersebut dimulai dari seorang kakek yang memiliki riwayat perjalanan ke Jawa Timur pada 27 Juni hingga 5 Juli. Sepulangnya dari perjalanan kakek tersebut jatuh sakit dan sempat dirawat di salah satu rumah sakit dan kemudian meninggal sebelum hasil tes keluar. Kakek tersebut meninggal dengan status kasus probable.

Tidak lama dari meninggalnya sang kakek, salah satu anaknya yang intensif turut merawat sang kakek juga jatuh sakit sejak 10 Juli. Sang anak kemudian menjalani tes swab dan dinyatakan positif, tidak lama hasil tes keluar sang anak pun menyusul sang kakek, meninggal dunia. Dari penelusuran kontak erat seluruh keluarga dekat yang kemudian dites swab, dari satu keluarga inti yang tinggal satu rumah tersebut 5 orang dinyatakan positif.

Sejak bulan Juli kenaikan klaster keluarga meningkat tajam. Pada bulan Agustus dari satu klaster keluarga di daerah Semplak Kecamatan Bogor Barat kasus positifnya dapat mencapai 35 orang. Masuk ke awal bulan September jumlah kasus positif dari klaster keluarga merupakan yang paling tinggi persentasenya, hingga mencapai 58% dari total kasus positif di Kota Bogor dan trennya tampak belum menunjukkan penurunan hingga catatan ini ditulis.

Kesadaran Yang Menurun, Penyebaran Virus Yang Mengganas

Pada diskusi publik Bogor Kala Wabah yang digagas oleh Kampoeng Bogor pada tanggal 28 November 2020 lalu, Bima Arya mengungkapkan bahwa keadaan di Kota Bogor saat ini miris dan ironis. Ironis karena tren yang saat ini sedang memuncak sedangkan kesadaran warga untuk tetap menerapkan protokol kesehatan mulai menurun. Hal ini salah satunya disebabkan karena kejenuhan pada wacana mengenai penyebaran virus.

Kejenuhan ini juga bahkan merasuk pada jajaran pemerintahan. Belum lagi hasil survey persepsi yang dirilis oleh Pemerintah Kota Bogor pada awal September menunjukkan tren dimana sebagian besar responden meyakini bahwa mereka kecil kemungkinan terpapar virus dari rentan usia 36-45 tahun sebesar 60 persen. Belum lagi keyakinan bahwa 86 persen responden meyakini bahwa mereka akan sembuh jika terpapar virus.

Hal yang menggelisahkan lainnya adalah bahwa hasil survey persepsi menunjukan 29 persen responden tidak percaya adanya covid-19  dan sebesar 54 persen responden tidak mengetahui banyak informasi tentang covid-19. Tentunya persepsi ini akan mempengaruhi secara signifikan bagaimana perilaku warga kota Bogor menjalankan seluruh protokol kesehatan untuk memperlambat laju penyebaran virus.

Saat wabah semakin mengganas seolah tak terbendung ini tampaknya menjadi penting untuk terus menceritakan kisah-kisah di balik statistik, untuk meningkatkan kepekaan dalam melihat bahwa di balik angka-angka tersebut, terdapat sejumlah kisah yang miris, dari mulai stigmatisasi pada korban yang terpapar virus sampai kesedihan-kesedihan akibat ditinggal oleh anggota keluarga dan orang-orang tercinta.