Home > Blog > Berkendara Umum (Lagi) Saat Pandemi

Berkendara Umum (Lagi) Saat Pandemi

“Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Berapa bulan kamu berhasil bertahan di rumah saja? Sembilan bulan? Tujuh? Lima? Atau sudah menyerah sejak bulan-bulan pertama?”

Tidak, saya tidak ingin menghakimi pilihan yang diambil sebab setiap orang memiliki kondisi, kepentingan, dan kewajiban yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Lagipula, narasi yang dibangun susah-susah di bulan pertama pandemi lewat tagar #dirumahaja memang sudah meluntur dan justru kita didorong untuk kembali berkegiatan melalui rapalan mantra sakti “dengan menerapkan protokol kesehatan.” Akan tetapi, jika diberi pertanyaan seperti tadi, saya dengan jujur akan menjawab kalau sikap saya mulai melunak pada bulan Agustus silam, tepatnya di kala orang-orang sudah penat dan diberikan angin surga untuk keluar rumah asalkan taat dengan 3M.

Pilihan saya untuk melonggarkan diri bukannya tanpa alasan. Keadaan sekitar yang berangsur-angsur mulai meninggalkan pertemuan daring akhirnya turut menyeret saya untuk keluar rumah dan berkegiatan secara tatap muka. Alhasil, kondisi tersebut memaksa saya kembali menjadi penglaju Bekasi—Jakarta setelah sempat mengajukan “cuti” selama lima bulan lamanya.

Saya ingat momen pertama kalinya saya menggunakan transportasi massal setelah libur selama lima bulan. Saya sengaja memilih jadwal kereta commuter yang cukup pagi (kurang lebih pukul tujuh) dengan harapan jumlah penumpang saat itu tidak sepadat kereta yang saya naiki di awal Maret. Tebakan saya benar, jumlah penumpang kereta pagi itu tidak seperti kondisi sebelum adanya pandemi. Memang masih ramai, tetapi cukup renggang karena setiap penumpang tidak harus berdesakan hingga saling menempel bahu seperti kondisi terdahulu.

Cepat-cepat saya melakukan pengamatan seiring kereta yang mulai berjalan. Bangku-bangku yang dipenuhi tanda silang serta lantai berstiker tanda pijakan kaki terlihat sejauh mata memandang. Tidak itu saja, gantungan handel kereta yang biasanya menjadi rebutan tangan-tangan penumpang yang kehabisan tempat duduk juga tampak lowong. Orang-orang (termasuk saya) cenderung untuk menaruh tangan mereka di tas masing-masing sembari melebarkan kaki dan memasang kuda-kuda supaya tidak terpental saat kereta melaju kencang.

Nukilan adegan tadi menjadi pemandangan yang paling tidak lazim yang pernah saya temui selama sepuluh tahun menjadi penglaju. Pada kondisi sebelumnya, kerap kali penumpang memaksakan untuk ikutan duduk meski ruang yang tersisa kurang dari tiga puluh sentimeter. Bagi yang kebagian berdiri, mereka harus bersentuhan bahu-ketemu-bahu sikut-ketemu-sikut. Berjejalan persis seperti ikan sarden dalam kalengan. Hal yang serupa juga terjadi pada moda transportasi massal lainnya, misalnya Transjakarta. Banyaknya tanda X, kapasitas penumpang yang dikurangi, hingga banyaknya rute yang dipangkas membuat mobilitas warga kota menjadi lebih terbatas. Akan tetapi, beragam anomali yang disebabkan pandemi pun harus diterima sebagai sebuah kenormalan baru yang tidak pernah terjadi di masa terdahulu.

Hal-hal yang saya temui di sepanjang perjalanan memantik saya untuk merenung lebih jauh. Terus terang, saya masih merasa parno—paranoid alias ketakutan saat menggunakan kendaraan umum. Meski banyak riset yang menyatakan bahwa risiko penularan di dalam kendaraan umum terbilang kecil, ketakutan tadi terus terbayang mengingat banyaknya orang yang menggunakan armada yang sama secara bergantian di ruang tertutup, apalagi dilengkapi dengan pendingin udara segala. Namun, apa boleh buat. Saya dan kebanyakan orang yang masih menggunakan transportasi umum memang tidak punya banyak pilihan untuk ulang-alik setiap hari ke Jakarta.

Meski ada opsi untuk menggunakan kendaraan sendiri atau kendaraan berbasis daring, tarif taksi maupun ojek online dari kota-kota penyangga menuju Jakarta terbilang sangat mahal untuk satu kali perjalanan pergi pulang. Situasi ini justru memancing saya untuk berandai-andai, apa jadinya ya kalau kita mundur ke satu dekade yang lalu, di mana kendaraan umum berteknologi AC (Angin Cepoi-cepoi) masih jamak ditemukan di ibu kota? Dengan kondisi tersebut, jangan-jangan masyarakat kota lebih siap dalam menghadapi pandemi seperti saat ini lantaran belum memiliki ketergantungan dengan pendingin udara? Jangan-jangan, hadirnya Covid-19 ini merupakan teguran bagi manusia untuk meninggalkan ruang-ruang ber-AC dan kembali menikmati ruang terbuka dengan udara yang sudah tersedia? Entahlah.

Di tengah kondisi pandemi yang tidak tahu kapan selesainya ini, ujung-ujungnya kepada kendaraan umum-lah kita kembali. Bermodalkan masker medis, hand sanitizer, dan bismillah, transportasi umum tetap menjadi satu-satunya opsi bagi warga pinggiran Jakarta untuk menglaju secara murah dan mudah—meski tidak bisa sepenuhnya terbebas dari rasa cemas.