Home > Blog > Bangun Kepercayaan, Melawan Covid

Bangun Kepercayaan, Melawan Covid

Etalase Pasar Sonjo, 2020

"Pandemi ini jauh lebih buruk dampaknya daripada Perang Dunia II."

Tidak semua negara turut berperang di Perang Dunia II. Amerika Utara hingga Selatan sepi, Australia tak dibombardir, tetapi perekenomian global terdampak drastis. Bandingkan dengan pandemi, yang dihadapi dan mengancam setiap negara dari kutub utara hingga selatan. Terjadi goncangan hebat di perekonomian karena mobilitas manusia justru menjadi factor penyebar Covid-19. Namun selalu ada tatanan dunia atau norma baru yang terjadi pasca perang. Setelah 1945, hubungan negara Bumi bagian utara dan selatan berubah, kolonialisme tergeser oleh banyaknya negara-negara jajahan yang merdeka, lahir diskusi global tentang permasalahan lingkungan, kesetaraan antarnegara, dan hak asasi manusia. Dengan berlangsungnya pandemi Covid-19 yang tidak bisa dipastikan titik hentinya, dunia sedang menanti tatanan dunia baru sekali lagi.

Berada di tengah krisis seperti ini, urgensi seharusnya bisa terlihat dengan mudah, yaitu sektor kesehatan dan ekonomi. Namun Rimawan Pradiptyo, ekonom dari Universitas Gadjah Mada, menyayangkan masih adanya pembahasan dan pengesahan RUU dan pelaksanaan Pilkada. Ini adalah kegagalan logika pemerintah menentukan prioritas. Dengan tatanan dunia yang masih mencari ​equilibrium, ​semua RUU yang disahkan dalam masa pra-Covid tidak akan lagi relevan saat dilaksanakan pasca-Covid karena tatanan dunianya akan berubah. Penyesuaian tetap bisa dilakukan oleh tim khusus sembari mengikuti perubahan situasi pandemi, tetapi menjadi terlalu gaduh saat isu ini dilempar ke masyarakat, yang seharusnya fokus menangani Covid-19. Demonstrasi dari masyarakat terkait pengesahan UU bisa diprediksi sejak lama, mengingat RUU tersebut sudah meresahkan elemen masyarakat sejak diusulkan di masa sebelum pandemi. Demonstrasi di tengah pandemi terjadi, meskipun hal ini dengan mudah dihindarkan jika pemerintah menunda pembahasan dan pengesahan UU tersebut setelah pandemi. Mengapa menyia-siakan sumber daya saat ini untuk kebijakan yang tidak mengancam nyawa, bisa ditunda pelaksanaannya, dan ada kemungkinan UU direvisi kembali pasca pandemi?

Logistik Perang Melawan Covid

"Saya ekonom dan selalu mengatakan kesehatan dan keselamatan itu utama. Ekonomi itu ada, kalau ada orangnya. Kalau pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi orangnya mati, ​ya ora iso."

Lalu, bagaimana sebenarnya negara merespons situasi perang melawan Covid-19 sejauh ini? Pemerintah telah memiliki respons terbaik: 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak) untuk dilakukan publik dan 3T (​tracing, testing, treatment​) yang menjadi prioritas dilakukan pemerintah. Namun, berdasarkan data Satgas COVID-19 hingga akhir November 2020, hanya 16 provinsi di Indonesia yang telah memenuhi standar testing WHO. Padahal, pemerintah saat ini mewarisi sistem pemerintahan yang baik dari Orde Baru yang menjangkau hingga level terbawah. Gerakan PKK, Dasawisma, yang terkait dengan kader Posyandu dan Puskesmas. Bayangkan jika jaringan akar rumput ini dijadikan dasar gerakan penanganan COVID, kemudian ditambah dengan lab dan alat tes.

"Pandemi itu ke depan adalah suatu kepastian, hanya kita tidak tahu kapan, seperti kematian. Artinya, infrastruktur ini modal yang sangat kuat untuk menghadapi pandemi yang serupa di masa depan."

Militansi para ibu dalam menggerakkan aktivitas yang memprioritaskan kesehatan dan anak-anak tidak perlu diragukan lagi, tapi sayangnya belum dilihat sebagai modal di level nasional. Beberapa pemerintah daerah telah secara sporadis menggerakkan kaum ibu. Padahal, menurut Rimawan, modal sosial dan infrastruktur kesehatan yang mendekati masyarakat jauh lebih solutif ketimbang vaksinasi. Meski vaksin telah semakin dekat untuk diuji, tetapi selama pengujian dan penyebarannya, kita juga tetap membutuhkan 3M dan 3T. Selama penanganan COVID tidak sistematis, masyarakat Indonesia akan terus menghadapi ​epi curve​ yang meningkat.

Bagaimana cara bertahan menghadapi virus yang terus bermutasi yang tak mudah terobservasi? Rimawan Pradiptyo memaparkan bahwa menurutnya pandemi ini bukanlah bencana, namun lebih mempersepsikannya sebagai situasi perang. Selama perang ada tiga strategi penting untuk bertahan. Pertama, ​expects the unexpected dari sisi dampak, m​enghitung dampak paling berat agar selalu berada dalam kondisi siap. Kedua, thinks the unthinkable​ dari upaya untuk mencari solusi. Bersedia meninggalkan cara-cara konvensional dan memikirkan solusi yang bisa dilakukan saat ini. Ketiga, dan yang terpenting, memobilisasi sumber daya. "Sebagian besar perang di dunia itu dimenangkan karena logistik. Logistik itu kunci perang. Itu yang kami fokuskan di SONJO."

Rimawan Pradiptyo memang tidak sendiri mempersiapkan 'logistik perang'. Saat pandemi mengefisiensikan waktu untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan ada kapasitas lebih untuk membantu orang lain, Rimawan segera menghubungi rekan-rekannya di gerakan akademisi anti korupsi di UGM, jejaring yang telah digiatkannya sejak 2010 silam. Rimawan menginisiasi  SONJO, Sambatan Jogja, yang di tahap awal dimulai oleh akademisi antikorupsi di UGM dan kemudian berkembang cepat menjangkau berbagai pihak di DIY. Ia tahu pandemi ini berbeda dari bencana lain dimana tak semua orang bisa dengan mudah memberikan bantuan. Butuh orang dengan kemampuan spesifik untuk secara langsung menangani pasien terdampak. Dalam situasi perang ini, panglima perangnya adalah epidemiolog. Sebagai ekonom, ia sendiri mengambil peran sebagai ​follower d​an membuat mekanisme sesuai dengan bidang yang ia kuasai: menggerakkan roda perekonomian. "Kesalahan terbesar yang seringkali muncul yaitu terlalu menggantungkan diri pada pemerintah, sementara uang pemerintah itu terbatas."

Berdasarkan data 2019, Produk Domestik Bruto Indonesia sebesar Rp15.833,9 triliun dengan APBN sekitar Rp2.461,1 triliun. Artinya, pemerintah hanya memiliki modal sebesar 1/7, sementara sisa modal 6/7 tidak berada di bawah kepemilikan pemerintah. Rimawan Pradiptyo pun mengalihkan perspektifnya untuk mengelola sumber daya terbesar: masyarakat. Banyak orang salah mengintepretasikan sumberdaya seolah terbatas pada uang, tetapi faktanya banyak sumber daya yang dimiliki masyarakat berupa nonuang, yaitu pemanfaatan waktu luang, tenaga kerja, pemikiran, dan keinginan untuk bersinergi dan membantu sesama. Sumberdaya non finansial inilah yang dioptimumkan dimobilisasi di SONJO. Tidak heran jika sejak 24 Maret 2020 hingga sekarang (9 bulan) keberadaan SONJO, SONJO beroperasi praktis tanpa uang. Kalaupun pendanaan diperlukan, terbatas pada sewa situs SONJO selama dua tahun dan langganan Zoom, selain itu tidak ada kebutuhan finansial dalam operasionalisasi SONJO.

Dokumen Monitoring Gerakan Kemanusiaan Sambatan Jogja, Oktober 2020

SONJO bergerak membantu masyarakat yang rentan dan berisiko di tiga bidang utama: kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Apapun aktivitas yang dilakukan selalu mengacu pada protokol kesehatan. Praktik ini menyelesaikan pertanyaan dilematis yang umum ditanyakan pada dirinya selaku ekonom. "Orang lain pada geger tentang ​trade off ekonomi atau kesehatan, saya cuma bilang, ​sampeyan ngomong opo toh? Kayak nggak bisa diselesaikan saja. Itu tuh hanya masalah optimalisasi saja. Jangan dibuat seperti, 'Oh orang kalau pakai masker nggak bisa makan. Ya, siapa yang mau makan saat mengenakan masker? Fakta menunjukkan terdapat statistik kematian akibat Covid-19, tetapi belum ada statisitik yang menunjukkan ada orang mati kelaparan karena menerapkan protokol COVID? Optimalisasi antara kesehatan dan ekonomi bisa dilakukan, baik dalam suatu titik waktu tertentu, maupun dalam suatu periode waktu tertentu, meskipun solusinya agak berbeda "

Bagaimana SONJO memobilisasi sumber daya untuk memastikan keberadaan logistik? Ketahanan pangan didorong oleh SONJO melalui beberapa tahap. Mereka membuat Database SONJO Pangan, yang mendata kebutuhan dan penyedia pangan/kuliner/ toko/ supermarket di Jogja. Poster tentang Database SONJO Pangan disebar melalui media sosial, dan di sana diberikan tautan bagi para UMKM yang ingin mendaftar di database, juga tautan bagi masyarakat yang ingin membeli bahan makan/kuliner yang ada di database tersebut. UMKM yang tertarik mendaftarkan diri ke database cukup mengisi google form berisi berbagai informasi produk yang ditawarkannya. Calon pembeli tinggal melihat produk makanan apa yang diinginkan di website, kemudian dapat menghubungi langsung penjual melalui SMS/WA. 

Pada Ramadan lalu, SONJO menggelar program SONJO Ngabuburit. Saat itu terdapat 7 WAG SONJO. Selama Ramadan, tiap jam 15.00 hingga maghrib, para UMKM di SONJO Pangan dipersilakan menawarkan produknya melalui pesan WA. Iklan tersebut kemudian dibagikan ke 6 WAG SONJO lain selama jam tersebut. Iklan yang semula hanya beberapa baris pesan WA, berubah menjadi poster yang menarik. Iklan yang semula dibagikan di internal SONJO, kemudian dibagikan pula melalui medsos (FB, IG, Twitter). Iklan menjadi jauh lebih rapi, saat poster-poster iklan kuliner dientry dalam bentuk utas di Twitter, dan tautan Twitter kemudian dibagikan ke seluruh WAG SONJO.

Cakupan pemasaran UMKM kemudian diperluas dengan membuat Etalase Pasar SONJO (EPS) pasca-Ramadan. EPS selain sebagai media beriklan, juga bertujuan mempersiapkan para UMKM memindahkan transaksi fisik mereka ke sistem ​market place​. Transaction cost yang terjadi akibat memindahkan pasar fisik ke pasar daring, termasuk biaya tak berwujud seperti efek psikologis dan waktu pembentukan kebiasaan baru, berusaha diminimalisir dengan membentuk ruang belajar bersama bernama SONJO Migunani. Pelatihan penggunaan GPS untuk mengirimkan produk, pemberian video edukasi singkat untuk memproduksi poster daring, hingga bentuk pengemasan baru makanan yang ditampilkan di Youtube. Bagaimana dengan biayanya? Nol. Mengapa bisa? Program SONJO Migunani adalah cara pembelajaran dari, oleh dan untuk para anggota, melalui diskusi daring maupun pembuatan video-video praktis singkat untuk meningkatkan keterampilan.

"Pendekatan SONJO adalah kemandirian, bukan ​charity ​dalam bentuk uang, melainkan media untuk berkembang."

SONJO secara cepat terbentuk melalui WhatsApp Group (WAG). Sembilan bulan sejak pendiriannya di 24 Maret 2020, SONJO kini memiliki lebih dari 1500 relawan yang tersebar di 12 WAG. Teknologi komunikasi sederhana inilah yang menjadi pendekatan kontekstual untuk menggerakkan masyarakat sasaran SONJO. Setiap WAG mewakili program-program pemberdayaan SONJO. SONJO Inovasi yang mempertemukan para peneliti yang fokus menciptakan alat kesehatan. Diharapkan dengan tergabungnya para innovator di dalam satu WAG, mereka dapat leluasa mendiskusikan berbagai hal teknis terkait dengan inovasi yang sedang mereka kerjakan.

SONJO Pangan (terdiri dari dua WAG) adalah media pengembangan usaha mikro dan kecil (UMK) di berbagai sektor. WAG ini awalnya fokus pada upaya mentransformasi transaksi fisik ke transaksi daring bagi para UMK produsen pangan dan kuliner. Namun sejalan dengan perkembangan waktu, UMK nonpangan/kuliner ikut bergabung dan memasarkan produknya di EPS.  Selain ketahanan pangan, SONJO menghadirkan dukungan untuk bentuk bisnis lain, seperti SONJO Wedding & Wisata. WAG Sonjo Wedding dan Wisata adalah WAG ke-10 yang terbentuk di SONJO pada tanggal 26 Oktober 2020. Sehari sebelumnya di DIY dideklarasikan Yogyakarta sebagai the next wedding destination. Sehari berikutnya rekan-rekan pengusaha di sektor wedding dan wisata sepakat tergabung ke SONJO. Rimawan sendiri terinspirasi dari rekan pengusaha yang melakukan ​reverse engineering ​dari penyedia peralatan panggung menjadi bisnis virtual wedding.

Berikutnya, ada SONJO Legawa mendukung penyediaan logistik untuk tenaga kesehatan di RS, Puskesmas, klinik atau dokter dengan mempertemukannya dengan pengusaha, inovator, lembaga kemanusiaan atau penyedia bantuan alat kesehatan lain. WAG ini menjadi media diskusi berbagai program terkait dengan bantuan di bidang kesehatan.

Database Peduli Corona dan jumlah bantuan logistik kesehatan hingga Oktober 2020. Sumber: Dokumen Monitoring Gerakan Kemanusiaan Sambatan Jogja, Oktober 2020

Ruang-ruang diskusi publik dibentuk melalui SONJO Angkringan. Berawal dari ajakan ​cangkruk ​seperti di ​angkringan, ruang-ruang virtual setiap Minggu malam tersebut menjadi media strategis membahas dinamika masalah yang dihadapi hingga antisipasi kejadian yang akan datang, seperti vaksinasi maupun erupsi Merapi. SONJO menerapkan pemberdayaan dengan tuntunan pengetahuan. Setiap gerakan harus memiliki dasar agar dapat mencapai tujuan, sehigga SONJO bisa dengan tegas mengecualikan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fokus kegiatannya, seperti terlibat di politik. Memastikan fokus dalam gerakan kemanusiaan menjadi kunci untuk menghemat energi dalam mobilisasi sumber daya.

SONJO Angkringan. Sumber: Instagram @sonjo.jogja, 2020

"Kalau situasinya seperti ini, yang harus dilakukan mobilisasi sumber daya, rakyat bantu rakyat." Nilai inilah yang secara jelas tercermin dalam nama gerakan tersebut. SONJO berarti silahturami dalam bahasa Jawa. Sambatan Jogja, yang merupakan kepanjangan dari SONJO, mengacu pada sebuah tradisi masa lalu, gotong royong membangun rumah tanpa biaya. Nama yang sangat kontekstual dengan sejarah dan budaya masyarakat Jogja inilah yang membantu percepatan gerakan dan penyebaran nilainya. Setiap pihak yang terlibat dan mendengar kata 'sambatan', secara otomatis akan paham bahwa kontribusi mereka tanpa biaya.

Membangun Kepercayaan Saat Krisis

Rimawan Pradiptyo telah melakukan riset antikorupsi sejak 2008. Sepanjang kariernya, ia aktif membangun database antikorupsi yang bisa dibilang paling lengkap di Indonesia. Selain riset, Rimawan juga aktif menggerakkan jejaring dosen di Universitas Gadjah Mada, untuk aktif menyuarakan antikorupsi. Setiap gerakan selalu dipastikan ada naskah akademis. Pendekatan berbasis ilmu telah menjadi prinsipnya. Mereka juga menginisiasi GEMATI, Gerakan Masyarakat Akademis untuk Transparansi Indonesia di UGM. Ketua Departemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM ini juga banyak mendalami ​game theory, ​sebuah teori yang menelaah strategi interaksi antara pelaku-pelaku pengambil keputusan. Interaksi antarpelaku inilah yang kemudian diibaratkan menjadi sebuah ​game​. Arah gerakan SONJO berangkat dari dasar pengetahuannya sebagai seorang ekonom yang mencermati ​game theory.

"Saya banyak membaca literatur tentang perang. Melihat COVID, ini bukan bencana, ini perang, sehingga saya menggunakan pendekatan itu. Saya hanya memanfaatkan ilmu yang saya memiliki," tegas Rimawan. Selaras dengan prinsip efisiensi sumber daya, Rimawan pun memulai SONJO bersama rekan-rekan yang telah selama ini bergerak bersamanya: gerakan masyarakat antikorupsi. Namun sejak awal, Rimawan memastikan fokusnya hanya penanganan COVID, meninggalkan sementara urusan politik. "Saya bilang waktu itu, di sini tidak ada lagi kampret, tidak ada lagi cebong. Yang ada cuma satu: bangsa Indonesia, rakyat Indonesia."

"Di dalam kondisi kritis, please lakukan satu hal: jujur. Mari kita jujur, apa yang kita tahu, kita taruh di sini, agar semuanya jelas. Transparansi dan integritas, itu roh dari SONJO."

Dua nilai yang melandasi terbentuknya kepercayaan di dalam ​WhatsApp Group​. Praktiknya sesederhana mengonfirmasi setiap informasi untuk menyelesaikan ​hoax​. Itulah pentingnya mengundang keterlibatan banyak ahli di dalam grup SONJO. Informasi yang kabur dimasukkan ke dalam grup, diklarifikasi atau dikonfirmasi oleh pihak yang mengetahui kebenarannya, kemudian disebarluaskan kembali dalam bentuk konten baru. Setiap informasi menjadi afirmasi kolaborasi yang terjadi di SONJO. Bagi Rimawan, tidak ada yang kompleks di dalam gerakan ini. Setiap hal selalu berangkat dari sumber daya yang mereka miliki, memastikan kebutuhan, kemudian memikirkan apa yang bisa dikontribusikan. Untuk memastikan amalan nilai-nilai SONJO, lembaga informal ini membentuk Komite Kepatuhan. Tugasnya memastikan segala aktivitas di SONJO tidak ada yang bertentangan dengan aturan pemerintah di segala aspek. Tidak ada penyalahgunaan kekuasaan, juga tidak ada konflik kepentingan.

"Kalau gerakan antikorupsi dinyatakan dalam gerakan kemasyarakatan itu bentuknya seperti SONJO itu. Semua yang ada di SONJO itu gratis."

Prinsip yang sama juga diterapkan dalam grup SONJO Observer. Siapapun ingin belajar dasar gerakan ini diundang masuk ke dalam WAG selama 2x24 jam, dan akhir-akhir ini kebijakan tersebut diperpanjang menjadi 7x24 jam. Replikasi SONJO di daerah lain dipersilakan tapi seyogyanya ada penyesuaian dengan melihat kebutuhan, kebudayaan, dan konteks pelaksanaan di daerah masing-masing. Setiap alumni Observer kemudian diundang ke dalam SONJO Pembelajaran untuk berbagi refleksi hingga kerja sama kegiatan kemanusiaan baru. Meski SONJO sendiri spesifik menangani situasi di Jogja, tetapi kolaborasinya meluas hingga kota-kota lain. Beberapa gerakan yang muncul setelah SONJO, antara lain SONGGO dan GHS Bergerak dari Magelang, NganTA dari Tulung Agung, Support System di Medan, serta Lumbung Amal COVID-19 Jakarta.

SONJO hadir menjawab kebutuhan semasa pandemi dan akan berusaha eksis selama dibutuhkan. Karenanya efisiensi sumber daya menjadi kunci utama untuk keberlangsungan gerakan. Cita-cita itu kemudian diwujudkan dengan pendekatan delta-sigma-delta atau target harian yang didasari pada analisis game theory ketika memainkan game yang berulang tak berhingga (infinitely repeated game). Delta mewakili perubahan ke arah positif, sekecil apapun, yang terjadi di SONJO, dan diharapkan dapat terjadi setiap hari. Delta sigma delta berarti, perubahan yang besar (delta besar) dilakukan dengan mengakumulasikan (sigma) perubahan-perubahan kecil (delta kecil). Dengan tidak adanya penyerapan anggaran, menolkan biaya, dan fokus pada perubahan sekecil apapun, SONJO selalu mengutamakan dampak.

"Gerakan ini lebih banyak gerakan ​alhamdulilah daripada gerakan ​astaghfirullah​. Karena dari awal kita membuat pakai kejujuran. Barang nggak enak diomongin nggak enak, barang enak diomongin enak." Di SONJO, setiap pihak diajak untuk menurunkan ​reference point ​atau dasar untuk melakukan penilaian. Tidak ada janji-janji manis untuk membangun optimisme tanpa dasar yang akan membuat kekecewaan saat ekspektasi tidak terpenuhi. "Kalau kecewa munculnya ​astaghfirullah​. Di SONJO, reference point ini kami turunkan. Apa yang terjadi? Setiap kali ada delta kecil, kami katakan alhamdulilah. Tambah delta sedikit, ​alhamdulilah.​ Jadi, ini gerakan ​alhamdulilah​."

"Bentuk masyarakat yang terjadi pascapandemi akan ditentukan dari apa yang berkembang semasa pandemi," Rimawan mengutip antropolog UGM, Ahmad Munjid. Selama pandemi, banyak kecurigaan yang muncul di tengah masyarakat, misalnya penolakan jenazah di beberapa tempat karena COVID ataupun stigma yang melekat pada pasien. Bagaimana mengantisipasi agar ketidakpercayaan luruh dari masyarakat? Bergerak berdasarkan kepercayaan, itulah yang dituju oleh SONJO. Maka penting untuk memastikan setiap tindakan berdasarkan data. SONJO selalu bergerak dengan tuntunan sains, setidaknya menggunakan empat teori dasar: ​game theory, experimental economics, institutional economics, dan endogenous growth theory.​ Kemudian memastikan setiap aktivitas berdasarkan integritas dan transparansi. Gerakan ini secara langsung adalah bentuk tantangan terhadap program pemerintah yang berdasar pada penyerapan anggaran.

Pandemi ini menjadi momentum bagi SONJO untuk membuktikan hingga level praxis bahwa KPI performance seharusnya berdasarkan outcome dan bukan pada penyerapan anggaran (input). Kontribusi paling mahal di SONJO adalah ruang-ruang diskusi yang memungkinkan munculnya ide dan perspektif yang sering kali berbeda dengan ​status quo ​dan hal-hal yang telah dinormalisasi.

"Ternyata gerakan antikorupsi itu terbukti kan nikmatnya. Kalau semuanya berintegritas, kalau semuanya transparan, maka muncul kepercayaan dan terjadi efisiensi karena kita bisa saling menolong tanpa membutuhkan dana. Melalui SONJO Kami telah menunjukkan nikmatnya sistem yang berintegritas dan  hingga saat ini telah berjalan sembilan bulan tanpa pendanaan dan anggota semakin meningkat."

Covid-19 belum menemukan titik henti, tetapi SONJO memberikan bukti, masyarakat bisa mempersiapkan diri menuju tatanan baru yang peka terhadap efisiensi sumber daya, bergerak dengan transparansi dan berintegritas, bekerja sama untuk mengejar dampak.