Home > Blog > Bahu-Membahu, Warga Kampung Hadapi Pandemi

Bahu-Membahu, Warga Kampung Hadapi Pandemi

Pandemi Covid-19 memunculkan sekian banyak dampak dari segi ekonomi. Tak terkecuali gerakan bersama oleh warga yang kian berusaha saling menghidupi meski tantangan zaman dirasa sulit dibendung lagi. Hal serupa terjadi pula di empat kampung di Semarang. Masing-masing kampung memiliki cara sendiri untuk beradaptasi dan bertahan dari terpaan wabah yang turut memberi pengaruh di sisi finansial.

Di Kampung Jatiwayang, misalnya, mayoritas penduduk bekerja di bidang wirausaha, buruh pabrik, karyawan, dan lain-lain. Saat ini para pekerja tersebut mengalami penurunan pendapatan sebab saat ini banyak pembatasan dan persyaratan-persyaratan khusus yang harus ditempuh untuk bepergian. Tidak hanya itu, pemilik pabrik juga kesulitan dalam produksi karena kenaikan bahan produksi, berkurangnya buyer, dan pembatasan kegiatan ekspor atau impor.

“Kalau dilihat semuanya di Jatiwayang juga terkena imbasnya bagi pemilik usaha, pegawainya, pekerja pabrik sampai penjual keliling juga lagi mengalami paceklik,” jelas Pak Wasis (42 tahun), Ketua RT 06/RW 03. Fenomena kesulitan perekonomian ini dirasa tidak kalah membahayakan dengan pandemi itu sendiri. Jika harus berdiam diri di rumah dan membatasi ruang gerak maka ancamannya hilangnya pekerjaan serta tidak ada pendapatan, sebab mayoritas masyarakat bekerja disektor non-formal.

Merespon keadaan sulit ini pada bulan Oktober 2020, pengurus RT 06 kemudian menginisiasi adanya “moko” untuk membantu kesulitan perekonomian warga selama pandemi. “Moko” adalah singkatan dari mobil toko, konsep ini tercetus karena ide sebelumnya yakni bazar murah dan cek kesehatan gratis dilarang oleh pihak kelurahan sebab dapat menciptakan kerumunan. Tujuan dihadirkannya “moko” ialah untuk meringankan beban warga masyarakat Jatiwayang dalam membeli kebutuhan sembako.

"Moko" atau Mobil Toko hasil inisiatif RT 06 Kampung Jatiwayang

“Moko” menjual berbagai macam sembako yang harganya lebih murah dari pasaran biasa. Sistem penjualannya menggunakan sistem pre-order, masyarakat yang ingin membeli kebutuhan terlebih dahulu dicatat oleh petugas. Seminggu kemudian kebutuhan sembako yang telah dicatat oleh petugas didistribusikan kepada warga secara langsung dengan standar protokol kesehatan.

Hadirnya “moko” dibantu oleh Yayasan Terang Bangsa Semarang, pengurus RT 06 mendapat sembako dengan harga lebih murah dari pasaran dan kemudian menjualnya dengan harga yang sama. Kegiatan ini terbukti efektif menekan adanya kerumunan sebab saat barang datang pengurus mendistribusikan satu per satu ke rumah warga. Masyarakat Kampung Jatiwayang juga antusias menyambut hadirnya “moko” yang harganya miring. Pengurus RT 06 Kampung Jatiwayang berharap dapat melakukan kegiatan ini secara rutin setiap bulannya.

Lain halnya dengan yang terjadi di Kelurahan Kemijen. Pihak kelurahan menjamin kebutuhan pokok warga yang sedang menjalani isolasi dengan mensuplai penuh kebutuhannya melalui simpanan bahan makanan dari Lumbung Pangan yang telah disediakan di kelurahan. Lumbung pangan adalah tabungan bahan makanan dari sisa-sisa bantuan yang tidak didistribusikan. Menurut Dwi Wiyana selaku Lurah Kemijen, Kemijen merupakan kelurahan yang sering mendapat bantuan terbanyak dari pemerintah. Untuk itu sering terdapat sisa-sisa bantuan karena semuanya sudah didistribusikan, pihak kelurahan lantas menyimpannya di Lumbung Pangan yang terdapat di kelurahan agar sewaktu-waktu jika masyarakat membutuhkan bantuan di lain konteks dapat diberikan bantuan tersebut. Begitu juga harapannya dengan adanya lumbung pangan diharapkan warga Kemijen tidak akan merasa kekurangan ataupun kelaparan akibat PHK.

Terdapat beberapa hal menarik yang terjadi di Nongkosawit. Pandemi Covid-19 justru tidak memberi pengaruh pada masyarakat yang 42,8% nya bekerja sebagai petani, “Mayoritas penduduk kita petani, malah mereka tidak berdampak soalnya mereka kan petani subsisten jadi ada tidak adanya covid ya nasibnya ditentukan sama hasil panen” Jelas Pak Warsono selaku ketua RW 1. 

Hanya saja bagi warga yang memiliki usaha atau bekerja sebagai pemain musik, perias pengantin, penyewa lahan dan penyewa alat untuk hajatan mengalami penurunan pendapatan, sebab acara yang menyebabkan kerumunan dilarang oleh pemerintah. Selain itu yang tidak kalah terdampak ialah para peternak ayam yang ada di kelurahan Nongkosawit. Dari beberapa peternak ayam di Nongkosawit hanya satu yang saat ini masih bertahan, sebab ayam hasil panenan usaha minim pembeli dan tidak bisa menutup biaya produksi.

Adanya pandemi memunculkan gerakan sosial yang membantu perekonomian warga antara satu sama lain di RT01/RW01, Nongkosawit. Warga menamai gerakan ini dengan nama “Jogo Tonggo” yang sudah berjalan sebanyak 4 kali selama pandemi. Mekanisme kegiatan sosial ini yakni warga di RT 01 mengumpulkan bantuan yang diorganisir di salah satu rumah warga, wujud bantuan terserah kepada yang ingin membantu jadi ada yang memberikan sejumlah uang, beras, sayur-mayur dan bahan lauk.

Kemudian bantuan uang tadi sebelumnya diwujudkan dalam bentuk bahan pokok, sayur atau bahan lauk terlebih dahulu. Setelah itu bantuan-bantuan yang terkumpul dibungkus menjadi banyak bagian lalu diletakkan di pertigaan jalan yang menghubungkan jalan kampung dengan kelurahan. Warga masyarakat manapun yang melewati jalan tersebut dan membutuhkannya bebas untuk mengambil. Kegiatan ini yang saat ini sangat diharapkan ketua RW 1 dapat dilakukan serentak oleh warganya yang lain.

Sedangkan di Sendangguwo, gerakan masyarakat dimotori oleh Tunas Muda, organisasi kepemudaan di Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Semarang. Sebelum pandemi melanda Indonesia Tunas Muda sudah berhasil melaksanakan beberapa kegiatan seperti posyandu remaja dan cek kesehatan pemuda gratis dan pengajian pemuda keliling masing-masing RW. Selain itu rencana kegiatan seperti pertunjukan teater yang rencananya akan digelar sebulan sekali dengan siklus pementasan bergilir ke 10 Rukun Warga sampai hari ini belum dapat terlaksana karena adanya pandemi.

Terlepas dari kegiatan-kegiatan yang cenderung memunculkan kerumunan, selama pandemi ini Tunas Muda malah dapat menjalankan program yang sebelum adanya pandemi tidak dapat terlaksana. Gilo-gilo namanya, sebuah program yang tercetus dari divisi kewirausahaan Tunas Muda. Awal rapat program kerja di Desember 2019 hingga pandemi covid-19 datang pada bulan Maret 2020 lapak Gilo-gilo belum terlaksana. Baru setelah salah satu anggota divisi kewirausahaan Tunas Muda ada yang terkena PHK karena pandemi, maka seorang anggota tersebut menyanggupi untuk mewujudkan program kerja yang belum sempat dilakukan yakni lapak Gilo-gilo yang lapaknya berada di Soko Tunggal, Sendangguwo.

Lapak Gilo-gilo memiliki dua versi arti menurut Abdul Rochim (29 tahun) selaku Ketua Tunas Muda, arti pertama Gilo-gilo berarti penjual ingin menunjukan bahwa dagangan yang dijajakan banyak macamnya dengan berkata “iki lho..iki lho” atau “Ini lho…ini lho”.  Selanjutnya Gilo-gilo diartikan sebagai visualisasi pedagang yang menjajakan dagangannya dengan membawa pikulan dengan cara jalan yang lenggak-lenggok. Cara menggelar dagangan menggunakan gerobak bagian atasnya tertutup plastic dan yang dijajakan beragam dari buah-buahan yang sudah dipotong, minuman tradisional, nasi,  serta jajanan pasar.

Lapak "Gilo-gilo"

Tunas Muda mencoba mencari hikmah positif dari masa yang serba susah ini dengan mencari peruntungan dengan berjualan, imbasnya berpengaruh pada kepemudaan dan masyarakat luas. Lapak Gilo-gilo dibuka selama hari Senin - Sabtu, yang menjaga lapak adalah anggota dari Tunas Muda dengan kesukarelaan hati mereka. Tunas Muda tidak memproduksi sendiri jajanan yang mereka jual, mereka menerimanya melalui supplier. Supplier Gilo-gilo awalnya hanya dibatasi untuk anggota Tunas Muda saja yang memproduksi makanan di rumah, tetapi kebijakan itu diubah menjadi siapapun warga Sendangguwo dapat menitipkan dagangannya ke lapak Gilo-gilo dengan menjadi suplayer.

Segi positifnya lagi lapak Gilo-gilo tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi para pengurus Tunas Muda saja, melalui keuntungan yang didapat dari Gilo-gilo Tunas Muda menyisihkan penghasilan mereka untuk kegiatan Kencleng Putu Mbah Tikung. Kencleng Putu Mbah Tikung adalah celengan yang dibuat khusus untuk menyantuni yatim piatu, mbah putri dan mbah kakung yang sudah lansia.

“Lumayan tiap harinya hasil dari penjualan kami potong dahulu Rp. 12.500 untuk sewa tempat dan uang gawat darurat Rp. 5.00. habis itu baru laba bersih 70 persen untuk membayar penjaga Gilo-gilo, sisanya untuk biaya inventaris, kas dan kencleng putu mbah Tikung” Jelas Abdul Rohim secara rinci.

Kedepannya Tunas Muda berencana untuk membuat 9 gerobak lagi sehingga memiliki 10 gerobak Gilo-gilo yang dapat digelar lapaknya di 10 RW yang ada di Sendangguwo. Harapannya Tunas Muda juga ingin menggelar festival Gilo-gilo yang menjadi tanda keaktifan kepemudaan di masa pandemi ini.

Inisiasi-inisiasi yang terjadi di Semarang ini tentulah bukan satu-satunya. Tapi justru, contoh-contoh ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya untuk terus bekerja sama membangun komunitas yang resisten terhadap segala perubahan serta memperbaiki sistem yang telah ada agar lebih konsisten lagi perwujudannya.

Disadur dari laporan Kolektif Hysteria, kontributor riset #KotaKitaKovid di Semarang.